Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro
35. Hubungan Toxic


__ADS_3

Azlina memutar-mutar tubuhnya di depan cermin. Dia mengenakan gaun khas anak muda, gaun merah muda tanpa lengan yang dipadukan dengan cardigan lengan panjang. Dia membiarkan rambutnya tergerai dengan bando warna senada gaun membingkai kepalanya ditambah riasan tipis di wajah.


Dia tersenyum di depan cermin, tak menyadari jika Alvaro sedari tadi memperhatikannya di ambang pintu.


"Sudah puas mengagumi diri?" ucap Alvaro sembari bersedekap dada dengan tubuh bersandar di bibir pintu.


Wajah Azlina bersemu merah, merasa malu lantaran tertangkap basah mengagumi diri sendiri di depan cermin. Dia menggelang kemudian. "Apa kita berangkat sekarang?" tanyanya kemudian.


Alvaro mengangguk mengiakan. "Ayo! Aku sudah meminta izin Mama jika akan pulang terlambat."


Azlina tersenyum setelahnya. Ternyata mendapatkan izin setelah menikah lebih mudah daripada ketika dia masih sendiri. Alvaro malah mendukungnya dalam segala hal, membuat Azlina tak segan untuk selalu menceritakan apa pun kepada pria itu.


Mereka menuruni anak tangga dengan Alvaro lebih dulu di depan. Mama Rani yang duduk di ruang keluarga bersama Papa Agus melihat ke arah pasangan berbeda usia itu. "Eh, anak Mama mau kencan. Al, digandeng, dong, menantu Mama. Kamu jadi suami enggak romantis banget. Kamu kalah sama Papa." Mama Rani mulai berceramah.


"Enggak papah, kok, Ma. Zizi bisa jalan sendiri." Azlina tampak membela Alvaro. Dia merasa tidak enak kepada lelaki itu karena sudah memudahkan urusannya, tetapi masih kena omel Mama Rani.


"Enggak gitu juga, Sayang! Suamimu ini harus dikasih tahu biar hubungan kalian makin mesra. Apalagi kalian kan baru nikah, jangan mau kalah sama yang tua-tua. Ayo, Al! Gandeng istrimu. Nanti kalau ada yang godain Zizi karena dikira masih sendiri, nyesel kamu."


Alvaro mendengkus kesal, dia menoleh ke arah Azlina kemudian. "Ayok, Sayang!" ucapnya seraya meletakkan tangan kanannya di pinggang.


Azlina merasa canggung. Dia meringis ketika melingkarkan tangan kirinya di lengan Alvaro. Mereka akhirnya memutuskan berjalan beriringan agar terlihat mesra di depan kedua orang tua Alvaro.


...***...


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Para tamu mulai berdatangan dengan mengenakan pakaian terbaik mereka. Pesta itu diadakan di taman hotel yang mana di bagian tengahnya terdapat kolam renang. Gemerlap lampu berpendar memenuhi seisi tempat terbuka itu dengan beberapa air mancur yang menghiasi taman hotel, terlihat begitu indah dan cantik dipandang mata.

__ADS_1


Satu musisi yang kini terlihat bersenandung dengan diiringi melodi dari petikan gitar dan piano menambah kesan istimewa pesta malam itu.


Di setiap meja yang tampak berderet memanjang sudah disiapkan berbagai menu makanan lezat yang siap disantap. Ada menu utama makanan berat, kudapan, dan minuman yang terlihat segar dengan berbagai warna menggugah selera.


Teman-teman Azlina pejuang makanan gratis seperti Ferdi an the geng sudah sibuk memilih dan memilah makanan. Mereka saling berbicara, tetapi mulutnya tak berhenti mengunyah makanan membuat Azlina yang melewati mereka hanya bisa menggelengkan kepala.


Azlina berjalan beriringan dengan Lulu, sementara Alvaro berada di belakang kedua gadis itu. Dia seperti seorang bodyguard saja saat ini. Apa boleh buat, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menjaga keselamatan sang istri.


Lulu menarik tangan Azlina ketika melihat Elang dan para anggota tim basket sedang berkumpul di sisi kolam renang. Mereka tampak bercengkerama dengan sesekali tertawa lepas bersama. Bukan hanya Elang dan para anggota tim basket, tetapi Airin dan teman-teman sekelas Azlina yang lain sudah berada di sana.


Tinggallah Alvaro sendirian. Dia menepi dengan duduk di salah satu kursi yang disediakan, mengambil segelas minuman berwarna merah untuk kemudian ditenggaknya. Hingga satu tepukan di bahunya membuat lelaki itu menoleh.


"Almeera?"


"Hai, kebetulan sekali!" Almeera ikut duduk di samping Alvaro. Perempuan itu mengenakan gaus panjang berwarna merah darah tanpa lengan, mengekspose sempurna bahu serta punggungnya membuat siapa saja kaum adam akan tak berkedip ketika menatapnya.


"Heem, aku yang seharusnya bertanya kepadamu. Ini adalah pesta kemenangan tim Ren. Tentu saja aku hadir di sini. Lalu, mengapa kau tiba-tiba berada di sini?"


Ren dan Elang adalah satu tim basket di lingkup profesional. Sementara pesta kemenangan itu bukanlah kemenangan antar pelajar, melainkan kemenangan antar club basket di tingkat profesional.


"Ooh, dunia begitu sempit. Aku mengantar sepupuku. Dia teman sekolah Elang." Ya, ternyata wanita-wanita yang dekat dengan Alvaro menyukai tipe lelaki yang sama, seorang Atlet basket.


"Oh, sepupumu yang manja itu. Bahkan dia melibatkanmu di acara seperti ini, lalu membiarkanmu sendirian, sementara dia bersenang-senang dengan teman-temannya." Almeera tampak tak menyukai Azlina sejak pertemuan pertama mereka.


"Dia ingin berangkat sendiri, tetapi aku melarangnya. Aku yang menawarkan bantuan untuk mengantarkannya ke sini."

__ADS_1


"Heem, jika kau begini terus, mana ada wanita yang dekat denganmu, Al!" Almeera tampak menggelengkan kepala, menanggapi perilaku Alvaro yang konyol itu.


"Ada." Alvaro menjawab dengan tenang, tak terpancing perkataan Almeera.


Perempuan itu mendesàh kasar, meletakkan satu tangan di atas meja, menopang dagu.


"Siapa?" tanyanya kemudian.


"Kamu. Bukankah kita sedang berdua di sini?" Dia menyeringai setelahnya, menyesap minuman yang ada di gelas piala itu sejenak, lalu meletakkan kembali gelasnya di atas meja.


"Mengapa kau di sini? Bukankah kau harus menemani Ren di pesta ini?"


Almeera terlihat lesu ketika membicarakan Ren. Perempuan itu mengedarkan pandangannya ke arah sana di mana Ren dan teman-temannya sedang asik berbincang. Ada seorang wanita yang baru datang menghampiri Ren dan teman-temannya. Wanita itu dengan santainya melakukan cipika-cipiki kepada Ren, membuat Almeera hanya bisa mendengkus kasar.


"Aku tidak tahu, Al."


"Apakah kau sering melihat Ren melakukan itu kepada teman-teman wanitanya?" Alvaro masih menatap ke arah Ren, yang kini sedang digandeng dengan mesra oleh perempuan yang baru saja datang itu.


"Yeah. Dan aku harus memakluminya. Ren bilang mereka adalah fans. Jika dia tidak bersikap baik, maka dukungan fans akan berkurang untuk timnya. Kau tahu aku tipe pencemburu. Aku sebenarnya tak sanggup melihat itu di depan mataku sendiri."


"Omong kosong." Alvaro berucap dingin. Dia bahkan memukul meja itu karena geram.


"Maksudmu?"


Alvaro menatap Almeera dengan sorot mata dingin. Dia tak terima jika wanita yang dicintainya justru harus menderita dan tersakiti perasaaan hanya karena atas dasar pemakluman seorang idol kepada fans-nya.

__ADS_1


"Tidak ada yang seperti itu, Ra. Jika dia memang benar mencintaimu, dia akan mati-matian menjaga perasaanmu. Persetan dengan Fans. Lebih baik kau akhiri saja hubungan toxic seperti itu."


》Next, ya ...


__ADS_2