PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU

PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU
Bab 100. Telah Pergi Selamanya


__ADS_3

🌟 Selly sudah di makamkan bersama janin yang ada di dalam kandungannya. Pram sangat sedih dan terpukul sekali kali ini, pria itu masih memeluk tanah gundukan istrinya di pemakaman itu.


Semua pelayat sudah pada pulang dan tak ada lagi di pemakaman tersebut. Hanya tinggal Pram yang meratapi kepergian istri dan anaknya itu.


Pram sampai tertidur di tanah gundukan itu, lalu tiba - tiba saja sore itu...


" Duar !"


" Duar !"


Suara guntur berbunyi dan hari sangat gelap sekali, Pram terbangun dan terkejut mendengar suara gemuruh itu.


" crass..." hujan turun sangat derasnya.


Pram berlari ke dalam mobilnya saat dia sudah basah kuyup di timpa air hujan. Pram sangat sedih harus meninggalkan istrinya dan anaknya di bawah tanah itu.


Pram menyalakan mobilnya dan menginjak pedal gasnya, dia pergi ke apartemennya dan tak mau pulang ke rumah. Dia tak ingin terbayang terus kepergian istrinya yang sangat tragis tersebut.


Baju - baju dan berkasnya sudah diambilnya semua, dan sekarang dia pindah ke apartemen miliknya.


Rumah itu akan dia jual dan uangnya ingin dia sedekahkan atas nama istrinya Selly Marisha Sultana.


" Sayang, maafkan aku yang tak bisa menolong kamu dengan cepat saat kejadian itu. Tapi mungkin dengan uang ini di berikan kepada mereka, bisa dapat membantu kamu disana." pikirnya Pram.


Kini Pram hanya tinggal sendirian sekarang ini, dan dia hanya ingin bekerja dan terus bekerja agar dapat melupakan peristiwa kematian istrinya. Karena baginya kejadian itu membuatnya merasa sakit sekali di lubuk hatinya.


***


Sumi sudah meninggal karena kecelakaan tersebut, dia mati di tempat saat itu juga. Karma itu langsung menghampirinya di hari itu juga, dan bahkan dia tak bisa mengelak karma itu.


Kini bagi Pram, Sumi adalah masa lalu yang sangat kelam. Dia juga menyesal bisa bertemu dan mengenal Sumi, wanita yang sangat kejam terhadap istrinya.


Pram kini menyadari kesalahannya namun sudah terlambat menyadarinya untuk dapat bahagia dengan istrinya.


***


Rian yang menjadi Ramon sudah keluar dari rumah sakit, dan Bella membawanya ke Singapura untuk tinggal bersamanya.

__ADS_1


Sedangkan perusahaan Rian sekarang Silvi yang mengendalikannya sementara waktu di ajarkan oleh pengawal Rian orang kepercayaannya.


Rian sama sekali tak ingat apa pun tentang dirinya, Bella mengambil kesempatan dengan hal itu.


Bella mengaku pada Rian bahwa dirinya adalah kekasihnya, dan mereka akan menikah sebentar lagi.


Rian di bawa ke Singapura menemui papanya Bella yang memang sedang di rumah sakit. Dan papanya Bella tak tahu bahwa sebenarnya Rian sudah menikah dengan wanita lain.


" Papa, Bella datang pa..., Bella membawa apa yang papa harapkan." ucap Bella ke papanya.


" Bella..., kapan lagi kamu akan menikah dengannya? jangan main - main terus..., sebentar lagi papa akan tiada. Apa kamu akan terus begini? siapa yang nanti akan menjaga mu kalau papa sudah tiada..., uhuk, uhuk...!" suara papanya yang sedang sakit memarahi anaknya.


" Papa..., jangan marah - marah begitu. kami juga sebentar lagi akan menikah kok pa..? ya kan mas?" tanya Bella.


" Iya kok om, kami akan menikah." kata Rian yang bingung harus bagaimana.


" Papa gak mau nanti - nanti. Besok panggil penghulu dan menikahlah di depan papa, masalah resepsi itu kalian saja yang atur. Papa bisa tenang kalau kalian sudah menikah." ucap papanya.


Lalu orang kepercayaan papanya pun langsung mengurus semuanya untuk pernikahan mereka besok juga.


Bella pun menyuruh Imel datang ke Singapura untuk menyaksikan pernikahannya sekaligus mengambil gambar untuk bukti di kirimkan ke Nita ketika waktunya sudah pas.


Imel pun menyetujuinya dan menyiapkan semuanya, dia amat senang ketika nanti melihat Nita menangis dan memohon.


" Kali ini aku sudah usah berbuat apa - apa lagi, segalanya sudah ada papa yang mengatur jalannya rencana ku. Dan kau Nita nanti akan menangis darah serta memohon di kaki ku." dalam batinnya berbicara.


Keesokan harinya...


Semua sudah disiapkan dan penghulu akan datang jam 10 pagi, Imel juga sudah tiba tadi malam di rumah Bella yang besar dan megah disana.


Bella sudah memakai baju untuk nikahnya, dia memakai gaun putih dan bandana bunga di rambutnya.


Bella terlihat sangat senang dan bahagia, karena sebentar lagi Rian akan menjadi miliknya.


" Saudara Rian, saya nikahkan..." ijab kabul sedang dilakukan oleh Rian dan papa Bella.


Sementara Bella dan Imel saling pandang dan saling melempar senyuman di acara akad tersebut.

__ADS_1


Imel juga mengambil video mereka saat ijab kabul sebagai bukti untuk di kirim ke Nita nanti. Dan tak beberapa lama mereka pun sudah sah menjadi suami dan istri saat itu juga.


Papa Bella pun sudah lega saat itu, perusahaan pun di jatuhkan hak pemilik kepada Bella saat itu juga.


Semua surat - surat di tanda tangani dan buku Nikah sudah di tangan Bella dan Rian.


Tiba - tiba saja papanya Bella drop dan mulai kejang - kejang.


" Papa! papa?!"


" Dokter...?! dokter?! tolong papa saya dokter...! papa saya kenapa...?!" ucap Bella sambil berteriak.


" Tolong semua keluar sebentar, dan jangan mengganggu kerja para dokter di dalam !" ucap dokter dan para suster mengantar mereka keluar.


" Mas..., papa mas...? papa kenapa mas...?! hiks, hiks..." Bella memeluk Rian sambil menangis.


Bella sangat ketakutan sekali saat melihat papanya kejang - kejang di depan matanya. Dia trauma saat ibunya meninggal karena keracunan dan mengejang juga di depan matanya.


Bella anak satu - satu papa dan mamanya, tak ada yang lain lagi. Dan saudara mereka tak ada di Singapura, semua berada di Mexico dan beberapa negara lainnya.


Bella sangat resah menunggu diluar ruangan itu, dia masih terus menangis dan terduduk di kursi. Imel memeluknya dan menenangkannya saat itu juga, lalu tim medis keluar dari ruangan itu menemui Bella.


" Maaf bu Bella, kami tak dapat menyelamatkan papa kamu saat ini. Beliau sudah menghembuskan nafasnya yang terakhir, kami turut berduka cita atas kepergian pak Nugraha saat ini." ucap dokter tersebut.


" Papa...., pa...jangan tinggalkan Bella pa..." teriaknya.


" Papa..., Bella sama siapa nanti pa..!"


" Papa...! papa...!" Bella menangis sejadi - jadinya.


Rian pun memeluknya, Rian yang baru saja menikah dengan Bella merasa bertanggung jawab akan diri Bella yang sudah sah menjadi istrinya.


" Sudah Bella biarkan papa pergi dengan tenang..., jangan kau menangisi kepergian papa." ucap Rian memeluk istrinya.


Jenazah itu pun di bawa pakai ambulance ke rumah Bella dan segera di makamkan di hari itu juga. Semua sanak saudara besoknya datang berkumpul untuk memberi dukungan kepada Bella, dan Bella sekalian memperkenalkan Rian suaminya saat itu juga.


Bella masih terbengong dan sering melamun karena kepergian papanya. Dia tak mau makan dan wajahnya sangat pucat, semua saudara menginap seminggu dirumahnya agar Bella tak kesepian untuk sementara waktu karena melihat kondisi Bella saat ini.

__ADS_1


__ADS_2