PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU

PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU
Bab 129. Di Tusuk Belati


__ADS_3

🌟 Pram membawa Aris ke rumah sakit, dengan cepat karena dia sangat kehabisan darah di tubuhnya. Aris sudah tak sadarkan diri lagi saat Pram sampai di tempat kejadian.


Pram tidak memberi tahukan Ani saat ini karena takut nanti Ani akan panik dan kenapa-napa.


Silvi juga belum di beri tahu, dan sekarang Aris masih di ruang operasi karena luka tusukkannya sangat dalam sekali dan harus di bersihkan serta di jahit dagingnya.


Aris juga membutuhkan transfusi darah, karena dia sudah sangat kehabisan darah dalam tubuhnya. Aris saat ini sedang bertaruh nyawa di dalam ruangan operasi itu.


Tut...


Tut...


"Hallo Zen, aku minta kau cari orang yang menusuk Aris saat ini, dan lapor ke polisi segera, barang bukti sudah aku kirim ke kamu melalui supir ku yang sebentar lagi sampai disan." ucap Pram ke pengawalnya.


"Baiklah tuan, akan aku cari orang itu sekarang juga." kata Zen yang bertubuh besar dan kekar.


Pram semenjak kematian Shelly dan sekarang menjalin kasih dengan Silvi, dia memperkerjakan bodyguard sebagai pengawalnya dan memantau Silvi kalau ada apa-apa padanya.


Zen pun pergi setelah mendapat barang bukti itu dari supir pribadinya Pram. Zen melaporkan ke polisi dan menyerahkan barang bukti dan akan mengambil sampel sidik jari dari pemilik belati itu.


Lalu Zen bekerjasama dengan kepolisian untuk menangkap orang yang sudah menusuk Aris hari itu juga. Polisi langsung bertindak cepat menyiarkan ke seluruh kepolisian kota untuk mencari orang tersebut.


Dian yang panik karena dirinya sudah menusuk orang, dengan cepatnya dia berfikir untuk melarikan diri ke luar negeri dari tempatnya sekarang.


Dia pun menyamar dengan memakai topi dan kumis palsunya, bahkan dia ternyata sudah lama memiliki paspor palsu dan identitas palsu juga.


Dian adalah penduduk gelap yang pergi bersama Imel dan saat identitas Rian di palsukan, Dian juga ikut memalsukan identitasnya.


***


Sudah 2 jam Aris di dalam ruangan operasi, dan dokter atau suster satu pun belum ada yang keluar dari dalam ruangan itu. Pram masih merasa cemas dan gelisah menunggu diluar ruangan.


Masalah ini sangat serius dan harus benar-benar di tangani dengan serius.


Tring..., tring..., tring..." ponsel Aris berdering.

__ADS_1


Pram melihat siapa yang menelponnya, disana tertulis ( my wife ). Pram tak menjawab telpon itu, dia silent suara nada deringnya dan bahkan ingin mematikan ponselnya.


Silvi juga tiba-tiba menelpon Pram mengajaknya makan siang saat ini.


"Hallo mas, kamu dimana? kata sekretaris mu kau tak ada di kantor dari tadi, aku ingin mengajak mu makan siang di luar nih mas...," ucap Silvi yang sudah berada di kantor Pram.


Tadinya ingin kasih kejutan atas kedatangannya dan mengajak makan saat itu. Namun Pram tak ada di tempat dan Silvi sedikit sedih karena itu.


"Maaf Silvi, mas hari ini sedang ada urusan di luar kantor jadi mas tidak bisa bersama mu menemani makan siang kamu."


"Sudah dulu ya nanti kalau ada waktu mas akan kabari kamu lagi." Pram mematikan pembicaraan mereka.


"Tapi mas, ak..ku.., tut..., tut...,tut...," Silvi tak dapat berbicara lagi.


"Maafkan mas sayang..., nanti akan mas jelaskan semuanya. Dan kau harus tetap percaya aku takkan berbuat yang mengkhianati cinta kita ini." batinnya Pram sedikit sedih.


Setelah setengah jam lagi menunggu, akhirnya Aris keluar juga dari ruangan itu, dan menuju ke ruangan rawat inap nya.


Aris memakai selang oksigen di hidungnya, karena tusukan itu sangat berdekatan dengan paru-parunya.


"Bagaimana keadaannya sekarang ini dok? apakah dia akan selamat dan sehat kembali..?!" tanya Pram yang sedikit panik dan gelisah.


"Pasien sudah melewati masa kritisnya, dan saat ini belum sadar karena masih dalam obat bius di tubuhnya."


"Bapak jangan khawatir, nanti tiga jam lagi pasien akan sadar dan bisa di berikan minum ke mulutnya." ucap dokter itu kepada Pram.


"oke dokter terima kasih atas pertolongannya." ucap Pram yang sudah sedikit lega.


"Syukurlah kalau begitu, aku sangat takut akan terjadi apa-apa pada Aris.


Karena aku yang menyuruhnya untuk menyelidiki kasus ini dan dia malah pergi seorang diri."


"Ternyata Aris sangat ingin mengurusnya sendirian sebagai menebus rasa bersalahnya pada Rian karena tak baik menjaga anaknya Bisma." ucap dalam hatinya.


Pram pun memperhatikan Aris yang terbaring dan belum sadar juga sudah 1 jam berlalu. Pram merasa lapar sekali, karena belum makan siang menunggu Aris keluar dari ruangan operasinya, dan sekarang sudah pukul 5 sore sekarang.

__ADS_1


Pram pun turun sebentar untuk mencari makanan yang bisa untuk dia makan. Hari ini Pram benar-benar menjaga Aris dengan baik dan tak meninggalkannya pulang kerumah.


Setelah selesai makan Pram pun tertidur di sofa yang ada di ruangan itu. Sampai pukul 19:06 Pram terbangun karena mendengar Aris memanggil dirinya.


"Pram..., Pram...!" Aku ada dimana?" tanya Aris yang masih kebingungan.


"Kenapa perut ku sakit sekali..?" Aris tak ingat apa yang terjadi padanya.


" Kau jangan banyak bergerak dulu mas Aris, takutnya luka jahitan mu akan robek nanti." ucap Pram yang mendekat ke Aris dan duduk disebelahnya.


"Bagaimana sama Ani, Pram?" tanya Aris yang ingat akan istrinya.


"Tadi mbak Ani menelpon terus-terusan sih mas, tapi aku tak menjawabnya. Apa mas mau menelponnya agar tak khawatir nantinya." ujar Pram yang memberi saran.


"Baiklah, tolong tekan nomer istri saya Pram." pinta Aris ke Pram.


Tut...


Tut...


"Hallo mas.., kamu dimana? aku telpon dari tadi kenapa tak kamu jawab sih mas...?!" tanya Ani yang sedikit cemas.


"Iya maaf ya sayang, mas gak pulang saat ini karena mendadak pergi ke luar negeri karena ada urusan dan mas lupa bilang ke kamu tadi malam. Maaf ya sayang." ucap Aris ke istrinya.


Lalu pembicaraan pun segera di akhiri dan ponsel pun dimatikannya.


Aris merasa sedih, dan tak tahu bagaimana. Pram bisa mengerti isi hati Aris yang tak ingin membuat istrinya cemas dan banyak pikiran.


Apalagi sekarang lagi senang bersama Bisma saat ini yang ada di rumah sekarang.


Aris pun berterima kasih kepada Pram yang sudah mau mengerti dan cepat menolongnya saat itu juga.


Aris berhutang nyawa pada Pram, dan Pram memang sangat mulia hatinya juga sangat perduli dengan keluarga Silvi.


"Pram memang benar-benar sangat tulus kepada Silvi adiknya Rian. Bahkan dia selalu membantu dalam segala hal kali ini." ucap Aris dalam hatinya.

__ADS_1


Silvi sangat beruntung bila memang mereka nanti jadi menikah dan bersatu dalam janji cinta suci mereka.


__ADS_2