PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU

PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU
Bab 42 Harus Kehilangan Lagi


__ADS_3

Panji kembali ke Singapura keesokan harinya, karena Dion menelpon bahwa mama mereka kecelakaan dan sedang ada dirumah sakit.


Setelah Dion selesai menelpon, Panji langsung memesan tiket pesawat secepat mungkin. Namun adanya penerbangan ke Singapura itu besok paginya, jadi Panji berangkat dipagi hari saat itu.


Mamanya yang sedang kritis selalu memanggil Panji dan dia sudah tidak kuat lagi katanya. Panji juga sangat gugup dan panik, apa lagi sekarang dia sudah tahu bahwa itu adalah ibu kandungnya.


Panji belum sempat berbakti padanya, selama tinggal dirumahnya, Panji selalu mendapat kasih sayang dan perhatian penuh olehnya.


***


" Dion..., dimana mas Panji mu nak..?" Mama sangat ingin memeluknya dan meminta maaf kepadanya." Selama ini mama tidak pernah mengurusnya dan tidak pernah menemuinya." Karena mama tidak tahu dimana dia berada saat itu." ucap mama Dion.


" Sudah ma.., mas Panji sebentar lagi juga akan sampai ma.." Mama yang kuat ya.." Mama harus bertahan agar bisa bersama mas Panji." Dion juga sudah menceritakan peristiwa itu ke mas Panji." Dia juga sudah tahu kalau mama itu adalah mama kandungnya." Jadi mama tidak perlu khawatir ya ma..?" Kata Dion menenangkan mamanya.


***


" Mama..., mama..." Panji masuk ke ruangan mamanya dengan terburu - buru.


" Mama..., ini Panji ma." Panji sudah datang ma.., mama yang kuat." Panji akan jaga mama disini." ucap Panji dan dia sangat sedih.


" Panji..., maafkan mama yang tidak bisa memberikan kasih sayang mama ke kamu saat kamu masih kecil." Mama tidak tahu dimana kamu dan papa mu pergi saat itu." mamanya berbicara dengan terbata - bata sambil menarik nafasnya.


" Sudah ma.., Panji tidak menyalahkan mama." Tidak usah di ingat lagi kejadian itu ma..." ujar Panji yang berada disamping mamanya.


Panji membelai kepala mamanya dan dia juga menangis melihat keadaan mamanya. Dalam hati dia berharap dan berdoa agar mamanya diberi kesempatan untuk sembuh, dan bisa berkumpul dengannya dalam hubungan layaknya ibu dan anak yang tidak pernah terpisah saat itu.


Namun saat itu juga mamanya menghembuskan nafasnya yang terakhir.


Hilang sudah harapan Panji yang ingin mamanya bisa bersamanya dalam waktu yang lama.


" Mama...?!"


" Ma, bangun ma.., bangun...?!"


" Ma, jangan tinggali Panji secepat ini ma.., Panji masih mau bersama mama..!"

__ADS_1


" Ma, Panji ingin merasakan kasih sayang mama, ma.." Mama buka matanya ma.., lihat ini Panji anak mama..!" Panji menangis sambil menggoyangkan tubuh mamanya yang sudah tidak bergerak lagi.


" Dokter..., dokter tolong mama saya dok." Mama saya kenapa dok.., tolong sembuhkan mama saya dok." Panji panik dan tidak dapat terkendali.


" Maaf semuanya, beliau sudah meninggal dunia." ucap Dokter itu.


" Kami sudah berusaha namun beliau tidak bisa diselamatkan." Dokter pun pergi dan suster segera mencabut infus yang ada ditangan pasien.


Panji merasa lemas dan dia jatuh pingsan kelantai.


" Mas Panji...!" Dion menangkap abangnya.


" Suster tolong abang saya sus." Dia pingsan dan lemas, tolong beri pertolongan kepadanya." ujar Dion.


" Manda tolong kamu urus segala urusan tentang mama dan pembayarannya juga." Mas mau urus mas Panji dulu." Mas minta tolong ya sayang." ucap Dion kepada Manda.


" Iya.. mas." Tidak perlu khawatir, semua akan Manda urus tentang mama." Ucap Manda yang memang pengertian.


Panji dibawa keruangan lain dan segera disadarkan. Semua telah beres Dion dan Manda pulang duluan kerumah untuk menyiapkan keperluan dirumah.


Sedangkan Panji dia ingin bersama mamanya pulang dengan naik mobil ambulance.


Mereka semua ingin melayat dan mendoakan mama Panji dan Dion.


Jenazah pun diturunkan dan dibawa kedalam rumah untuk segera dimandikan.


Panji masih belum bisa terima kenyataan yang ada dihadapannya bahwa mamanya sudah tiada. Panji masih menangis dan meratapi kepergian mamanya saat ini.


Yang Panji sesali kenapa semua baru dia ketahui sekarang dan tidak dari awal mama tirinya mengatakannya.


Panji sangat kesal dan kecewa sangat, bahkan dia tak ingin bicara sama mama tirinya untuk saat ini.


***


Semua proses sudah di lakukan, sekarang waktunya jenazah di sholatkan di masjid dekat rumah mereka.

__ADS_1


Dion dan Panji pun ikut menyolatkan mamanya, bahkan Panji sempat berdoa dan menangis untuk mamanya.


Sekarang waktunya membawa mamanya ketempat peristirahatan yang terakhir.


Panji masih sedih dan Dion pun juga begitu, mereka baru saja berkumpul kembali tetapi harus cepat berpisah lagi.


Dion dan Panji membawa mamanya ke bawah tanah dan mereka harus menutup lubang itu.


Disinilah hati mereka terasa semakin sedih, karena ini yang mereka dapat lihat terakhir kali. Manda selalu memberikan semangat dan kekuatan untuk suaminya.


Semua para pelayat sudah mulai berpulangan setelah selesai berdoa.


Dion dan Manda pun akan segera pulang, karena mereka akan membereskan yang belum dikerjakan lagi untuk keperluan lainnya.


Dion sudah menelpon saudara mereka yang berada di Jogjakarta untuk membuat acara tahlilan disana saja.


" Hallo bu.., lebih baik acara mama dilakukan dirumah ibu saja." Disini mungkin akan sulit untuk membuat tahlilan dan melaksanakannya." ujar Dion dalam telponnya.


" Baiklah nak..., ibu akan buat disini saja, kamu yang tabah akan cobaan ini ya nak.."


" Maaf ibu tidak bisa kesana, dan sebenarnya ibu ingin sekali melihat kakak ibu yang terakhir kalinya." Hiks, hiks.., padahal kami sudah janjian akan bertemu dan dia sudah bilang akan datang kerumah." Namun kenapa datangnya


malah dalam acaranya yang begini." ibu Ami sangat sedih dan terisak - isak.


" Iya bu.., saya mengerti." Tetapi kita harus bagaimana lagi, ini kenyataannya." Bu.., mungkin saya tidak bisa datang." Nanti Manda istri saya yang akan kesana dan berangkat malam ini juga." Terima kasih ya bu." Tolong nanti Manda dijemput dibandara, karena dia tidak tahu dimana rumah ibu." kata Dion kepada ibu adik dari mamanya.


Panji masih belum pulang, hatinya sangat terpukul dan begitu pilu. Dia masih duduk di samping tanah gundukan itu.


" Ma.., Panji gak tahu harus bagaimana lagi ma.." Kenapa orang - orang yang Panji sayang satu persatu pergi meninggalkan Panji." Panji seperti putus asa dan tak ingin hidup lagi rasanya ma.." tutur Panji yang merasa sangat pilu.


Sudah dua jam dia disana dari semua orang sudah pada pulang. Panji sempat kelelahan menangis dan tertidur disamping makam mamanya.


Dia terbangun saat angin dingin terasa ditubuhnya. Ternyata hari sudah sore dan gelap, seakan badai hujan akan turun.


Panji segera tersadar dia sudah sangat lama disana. Panji bangkit dan berdiri dari duduknya segera pergi meninggalkan makam mamanya.

__ADS_1


Angin begitu kencang, Panji segera berlari masuk kedalam mobilnya dan pergi untuk kembali pulang kerumahnya.


Dan harus menerima kenyataan mulai dari sekarang bahwa mamanya sudah tiada.


__ADS_2