
Bulan Oktober
Pagi itu di Amerika sedang musim gugur. Semua daun berserakan di tanah, hati Panji juga sedang menggugurkan cintanya.
Tetapi masih bisa tumbuh kembali, Panji masih menguatkan hati dan cintanya ke Nita berharap akan dipertemukan kembali.
Dua tahun sudah terlewatkan, dan Panji masih tidak ingin mencari yang lain dan juga belum pernah mencoba untuk membuka hatinya.
Dion sangat sedih melihat Panji, dia merasa Panji seperti hilang satu pondasi kehidupannya. Bisa berdiri tegak, namun dapat tergoyangkan juga saat untuk bertahan.
Panji ingin mengejar karirnya dulu, lalu dia akan mencari Nita dan menjadikannya istri satu - satunya didalam rumah tangganya nanti.
" Nita tunggulah aku, sebentar lagi kita bisa bersama menjalin cinta dan hidup bahagia." Dalam hati Panji berjanji, matanya menatap daun - daun diluar ruangan kantornya yang berserakan memenuhi taman itu.
Dulu juga Dion pernah begitu, dia merasakannya juga. Namun ceritanya sedikit berbeda, kekasihnya bernama Manda baru saja menjadi artis baru didunia hiburan.
Karena ingin mengejar karirnya, Manda rela pergi meninggalkan Dion dan tanpa kata putus.
Manda yg tidak menelpon bahkan tidak memberi kabar apapun.
Kini sudah lima tahun Dion sendirian, dia ingin menghasilkan uang yang banyak dan tidak akan bernasib sama lagi bila nanti bertemu dengannya.
Dion selalu menatap Manda dari balik layar saja, dan mengetahuinya dari berita dan media sosial saja.
Suatu hari Dion pernah menghubungi Manda lewat manajernya, namun Manda sedang sibuk dan belum bisa diganggu.
Namun malam harinya Manda menelpon Dion dan ada satu perkataan Manda yang membuat hati Dion kuat.
" Mas Dion, Manda kerja untuk kita kedepannya, maaf kalau Manda pergi tanpa beri tahu mas."
" Tapi percayalah, Manda akan kembali kepada mas Dion." ucapan Manda satu tahun yang lalu setelah Dion menantikannya dari tiga tahun yang lalu.
Dion dan Manda membuat satu tabungan di bank untuk masa depan mereka. Manda selalu memasukan uang gajinya sebagian dan Dion juga begitu.
Dan satu tahun lagi Manda akan menemui Dion di Amerika untuk bertemu dengan keluarga Dion disana.
Dion dan Manda saling mencintai, bahkan sampai saat ini.
Sekarang Dion tidak merasa sedih seperti Panji sekarang, karena Manda akan datang sebentar lagi di bulan Januari di tahun baru nanti.
" Manda..., aku sangat merindukan mu." mata Dion terpejam membayangkan Manda saat itu bersamanya dipantai terakhir kalinya.
Penantiannya sudah sangat lama sekali dan sebentar lagi akan ada masanya Dion dan Manda bahagia.
Dion juga ingin membuat Panji kuat dan dapat berdiri tegar seperti dirinya. Jangan kegagalan di pernikahannya membuat dia menjadi tidak ingin hidup lagi.
" Semua ini karena mamanya Panji, yaitu ibu Rita yang tidak tahu diri."
" Menggunakan Panji sebagai alasan dan umpan untuk keserakahan dirinya."
__ADS_1
" Kali ini tidak akan aku biarkan dia menggunakan abang ku sebagai alat untuknya." ujar Dion geram mengingat ibu Rita.
***
Nita sudah bangun dan menyiapkan sarapan pagi, Ani yang baru siap - siap tidak sempat sarapan.
Nita sudah menyiapkan bekal Ani untuk sarapan dimobil saja.
" Ayo kita sudah mau kesiangan, ini bekalnya untuk sarapan di mobil saja."
" Mana kunci mobil, biar aku yang bawa." Nita berkata sambil berjalan dan mengambil tasnya.
" Oh, oke kalau begitu."
" Kamu pengertian sekali, terima kasih ya bu Nita..." ujar Ani kepadanya.
" Tadi malam bukannya jemput aku sih kamu, malah tidur dirumah."
" Katanya mau ditraktir makan malam."
" Dihubungi malah gak jawab telpon." Nita ngedumel sambil mengemudikan mobilnya Ani.
" Iya maaf ya, aku kelelahan tadi malam, dan gak makan, cuma ngemil saja."
" Eh, nonton tv jadi ngantuk."
" Maaf ya bu Nita sayang.., nanti traktirnya makan siang saja ya.." Ani berbisik di telinga Nita.
" Gak tahu teman lagi marah..?!"
" Hehehe..." Nita tertawa melihat tingkah Ani yang sedang sarapan di dalam mobil.
Mereka sangat kompak dan saling mengerti, sudah hampir lima tahun berteman namun masih akur - akur saja.
Saat di lampu merah mobil mereka berhenti didepan, dan disebelahnya ada mobil Rian yang tidak diketahui Nita.
Kaca mobil memang sengaja dibuka Nita, dan mereka tidak pakai AC mobil.
Rian tidak sengaja melihat Nita yang tertawa bersama Ani.
Mereka saling bercanda disaat lampu merah menyala.
Rian sangat terpesona melihat wajah Nita yang begitu ceria saat itu.
Dan Rian membuka kaca mobilnya agar lebih jelas lagi dapat menatap Nita disebelah mobilnya.
Ani tersadar ada yang memperhatikan mereka, dan dia mengenalinya. Ani memberikan kode dengan menganggukkan kepalanya memberi salam.
Nita jadi heran melihat Ani, dia menoleh dan melihat kearah yang Ani lihat juga.
" Pagi Nita..?" ucap Rian di seberang sambil tersenyum.
__ADS_1
" Pagi pak Rian.." ucap Nita memberi salam dari jauh.
Nita jadi terdiam dan kembali kaku didepan Rian, dia selalu bersikap dingin terhadap pria itu.
Tak beberapa lama lampu merah sudah berganti hijau, mobil dibelakang mereka sudah membunyikan klaksonnya.
" Tin, tin, tin..."
" hei.., cepat jalan..!" suara - suara orang yang dibelakang mobil mereka sudah marah.
Nita dan Rian melajukan mobil mereka dan berpisah karena tidak satu arah jalannya. Rian harus berbelok ke kanan sementara Nita terus kedepan melajukan mobilnya.
" Cie..., beberapa hari ini teman ku sangat bahagia sepertinya."
" Kemarin dapat bunga, semalam makan malam berdua, dan hari ini uhh.., bertemunya lagi."
" Mungkin kalian memang berjodoh Nit...?!" ujar Ani yang tidak memandang wajah Nita yang kesal atas perkataanya Ani dari tadi.
" Sudah diam...!"
" Kamu buat kesal dan mood aku jadi tidak enak." Nita berteriak dan menghentikan mobilnya tiba - tiba.
" Iya - iya bu Nita saya minta maaf."
" Sini biar saya saja yang menyetir bu.., bisa gawat nih kalau dia menyetir dalam keadaan marah."
" Bisa seperti naik jet pribadi, bukan mobil pribadi lagi." Ani langsung bertukar tempat duduk ke Nita.
" Huf..., ampun aku... alamak sudah marah dia." Ani ngedumel dalam hatinya.
Mobil pun melaju kembali dan kali ini Ani yang mengemudikannya.
Nita hanya diam saja dan tidak berbicara sama sekali dengan Ani.
10 menit kemudian mereka sampai dikantor, Nita langsung turun tanpa berjalan bersama dengan Ani.
" Nit, tunggu aku."
" Bu Nita maafkan aku, janji tidak akan ulangi lagi." ucap Ani sambil memegang tangan Nita.
Nita berhenti dan berbalik kebelakang ke arah Ani.
" Janji gak buat lagi...?" tanya Nita.
" Iya.., aku janji bu Nita.." Ani berwajah sedih.
" Baiklah.., hahaha.., aku hanya bercanda." ucap Nita ke temannya itu.
Nita berjalan duluan meninggalkan Ani dan dia tertawa.
Ani berbalik kesal, namun dia bahagia. Begitulah mereka kalau sudah berdua saling bercanda.
__ADS_1