PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU

PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU
Bab 63


__ADS_3

Linda semakin frustasi karena Yadi benar - benar meninggalkannya tanpa ada menghubunginya lagi. Anak - anak sekarang mencari ayahnya dan selalu menangis. Berulang kali Linda menelpon ponsel suaminya namun tidak bisa di hubungi.


" Mas Yadi dimana kamu."


" Aku minta maaf kalau aku memang salah, tapi jangan hukum aku begini mas..." ucap Linda sambil menelpon nomor ponsel Yadi dari tadi.


Yadi sudah memblokir nomer Linda dan sekarang ini dia tidak ingin bertemu dengan istrinya dulu.


Linda pun sempat pergi ke kantornya pagi ini, namun dia tidak ada disana.


Kata satpam, Yadi pergi untuk perjalanan bisnisnya beberapa minggu ini.


Sementara sudah sebulan Linda dan anak - anak tidak bertemu dengannya.


Linda mencari melalui media sosialnya, melihat aktivitas apa pun yang dia upload.


Sementara Sumi sudah tidak mau lagi perduli dengan Linda yang tidak bisa memberikan dia keuntungan menurutnya.


" Aku bisa bertambah beban hidup kalau harus terus mengurus dia dan anaknya." Bagaimana nanti dengan nasib aku dan hidup ku ?"


" Aku tidak mau kalau masa tua ku harus hanya mengurus cucu dan menjadi pembantunya." ucap Sumi dalam hatinya.


Linda bingung sendiri dan tidak tahu mau kemana lagi, sementara uang yang dia pegang sekarang semakin menipis dan akan habis.


Kini Linda merana karena ditinggalkan Yadi suaminya sendiri.


***


" Mas, kau tidak rindu kah dengan anak dan istri mu ?" tanya seorang wanita yang tidak sengaja kenal saat berangkat satu pesawat dengan dia.


Dan kini mereka semakin akrab dan sangat dekat, bahkan mereka bertukar nomer ponsel dan sering janjian untuk bertemu walau hanya sekedar bertemu makan siang atau malam.


" Kamu tidak usah menanyakan hal itu, aku sedang tidak ingin mengingatnya." ucap Yadi.


Wanita itu tersenyum dan merasa puas akan jawaban dari Yadi. Ternyata diam - diam wanita itu memang mendekatkan dirinya kepada Yadi.


Dan ingin membalaskan dendam ke Linda yang sudah pernah merebut papanya dari mamanya dulu. Waktu Linda dulu bekerja di kehidupan malam terdahulu.


" Ya hallo ma..." nanti aku pulang kok, tenang saja perusahan sudah di tangani kok." Dan aku sedang menenangkan pikiran beberapa minggu disini." kata Maya wanita yang sedang berada disampingnya Yadi.

__ADS_1


Telpon pun ditutup olehnya, Yadi merasa heran dan takjub dengan Maya wanita itu.


" Wah, kamu ternyata punya perusahaan juga... ?" tanya Yadi.


" Ya, punya papa ku." Tapi sekarang sudah menjadi milik ku." Kenapa mas ?" Maya menoleh ke arah Yadi.


" Hebat benar kamu, selain cantik kamu juga pandai berbisnis." Yadi semakin penasaran dengan Maya.


Angin bertiup dengan kencang, suasana pantai saat senja sangat mempesona. Tak disadari mereka semakin akrab saja bermain air bersama disana.


Yadi sampai melupakan bahwa dia sekarang adalah seorang ayah dan suami yang tidak perduli akan keluarga kecilnya.


Yadi mencari cara agar bisa bekerjasama dengan Maya untuk bisa menyelamatkan perusahaannya agar tidak bangkrut saat ini.


Tetapi dia bingung dan ragu, apakah Maya akan membantunya atau tidak.


" Tapi yang paling penting dekati dia saja dulu, setelah itu baru gampang membicarakan kesepakatan dengannya." berkata dalam hatinya.


***


Hari ini Rian pergi ke bandara dengan Nita, mama dan Silvi. Rian tidak lupa untuk mengingatkan Silvi menjaga Nita dirumahnya dan mamanya juga. Walaupun Silvi terlihat jelas tidak suka akan hal itu, namun mereka sudah sepakat tidak akan mencampurinya.


Rian terlihat senang dengan kata - kata itu, dan dia sangat bersemangat untuk pergi serta bisa cepat kembali pulang kerumahnya.


Rian mencubit hidung Nita dan tersenyum sangat manis, Silvi yang melihat tidak senang dan dia seperti ingin muntah saja.


" Ma, aku berangkat dulu ya... " jaga kesehatan mama juga, dan tetap lihat anak mama yang manja ini." Rian mencubit pipi adiknya.


Rian pun pergi masuk kedalam dan terbang dengan pesawatnya, kali ini dia pergi ke Kanada dan bulan depan baru akan pulang.


Nita yang menyetir dan mengantarkan mamanya pulang lebih dulu. Silvi terpaksa ikut bersamanya dan nginap dirumahnya selama sebulan itu.


Sampai dirumah Silvi masuk dan duduk di sofa sambil memegangi tas bawaannya yang berisi baju - bajunya.


Nita sengaja membiarkan dia duduk dan tidak mempersilahkan untuk masuk ke kamarnya.


Silvi jadi bingung karena di diamkan saja, dia semakin kesal karena Nita tidak ada berkata apa - apa.


Nita sengaja, agar Silvi mau bertanya dan berbicara duluan kepadanya. Agar dia tidak seperti tuan putri yang selalu dilayani namun tidak bisa menghormati orang lain.

__ADS_1


Nita ke dapur dan memasak sesuatu disana, aromanya tercium sangat menggugah selera Silvi.


Tetapi dia tetap duduk dan tidak mau beranjak dari kursinya, Silvi menunggu Nita menyapanya dan mengajaknya makan.


Namun Nita membiarkannya dan malah makan sendirian saja.


Dirumah Nita tidak ada pelayan yang melayani, melainkan mengerjakan semuanya secara sendirian.


Silvi serba salah dan bingung mau bagaimana, perutnya terasa lapar dan sudah tidak tahan lagi.


" Kak, apakah aku boleh makan bersama disini ?!" Silvi bertanya dengan nada keras.


" Apa yang kamu bilang Sil ?" kakak gak mendengarkannya.


Silvi menarik nafasnya dan menghembuskan kembali. Nita berpura - pura tidak mendengarkannya, dan malah asik makan kembali.


" Silvi, sepertinya mama selalu mengajarkan yang baik kepada mu." Tapi sayang kamu tidak pernah menjalankannya." Bicara yang sopan kepada yang lebih tua juga di ajarkan di sekolah."kata Nita.


Silvi terdiam dan mulai menyadari, tapi itu hanya karena dia lapar saja kali ini.


" Baiklah kak, bolehkah Silvi makan bersama disini kak ?" tanya Silvi lebih sopan.


" Silahkan sayang, itu sudah kakak sediakan untuk kamu makan malam." ucap Nita.


Silvi pun duduk dan makan dengan lahapnya, dia memang sangat kelaparan dan kelelahan hari ini.


Dan besok dia sudah masuk kuliah lagi, saat libur sudah berakhir.


Nita sudah selesai makan dan langsung mencuci piring bekas makannya. Dia juga menempelkan memo di meja dekat Silvi makan.


" Jangan lupa piringnya langsung dicuci." begitulah isi dari memo itu.


Silvi yang membacanya tidak mau mengerjakan apa yang di tuliskan Nita.


Nita langsung keruang kerja dan mengerjakan beberapa tugas, serta mempersiapkan barang yang akan di bawanya ke kantor.


Silvi tidak mau mencuci piringnya dan malah meletakkan saja di atas meja makan tersebut.


Silvi kembali ke sofanya dan tidur disana, dia masih keras kepala dan tidak mau bersikap sopan pada Nita kakak iparnya.

__ADS_1


Dia tertidur di sofa malam itu, Nita yang telah selesai dengan tugasnya berjalan melewati Silvi disana. Nita yang ingin pergi ke kamar tetap membiarkan Silvi tidur di sofa itu, namun Nita mengambilkan selimut dan menyelimutinya.


__ADS_2