PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU

PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU
Bab 133. Dapat Berkumpul


__ADS_3

" Mas, kenapa kau bisa disini?" tanya Silvi.


"Kau pasti tahu jawabannya, dan seharusnya mas yang tanya dimana ponsel mu? Kenapa tak menjawab telpon ku?!" Pram mulai bertambah kesal.


"Maaf mas, aku.., aku..," terbata-bata.


"Katakanlah Silvi, mas sedang menunggu jawaban dari mu." ucap Pram.


"Aku juga tak tahu kemana ponsel ku mas, sudah seminggu ini aku tak pakai ponsel selama disini, hiks..," Silvi menangis dan dia merasa sedih karena sudah di marahi Pram.


Apa lagi di tambah kliennya yang tak punya hati yang hanya mempermainkan dirinya saja. Pram akhirnya memeluk Silvi yang menangis, dia tak tega melihat Silvi yang sudah berusaha tapi dipermainkan.


"Sudah jangan menangis lagi, ayo okut pulang bersama ku sekarang juga." ujarnya Pram.


"Pak, batalkan kerjasama kita dengannya tadi." pekik Pram yang sudah tak ingin melanjutkan berbisnis dengan pak Haris.


"Baik tuan." ucap Pengawalnya sekalian orang kepercayaannya.


Silvi dan Pram kembali ke Penginapannya Silvi dahulu untuk membenahi kopernya. Namun Silvi sempat mengantuk kerena sangat merasa lelah sekali. Dia menyiapkan pekerjaannya agar bisa cepat kembali ke Amerika dengan waktu tidur yang sedikit


Pram berada di samping Silvi yang tertidur, dia membelai Silvi dan mencium pipinya yang lembut itu.


Pram menyuruh pengawalnya untuk membelikan ponsel yang baru untuk Silvi segera.


Nanti ponsel itu akan di berikan kepada Silvi setelah berada di atas pesawat. Semua keperluan dan tiket juga sudah di pesankan oleh pengawal Pram saat itu juga.


Dan Pram pun tertidur disebelah Silvi dengan memeluknya, Nanti malam mereka akan berangkat ke bandara dan segera pulang ke Amerika.


Silvi terbangun dan terkejut melihat Pram tidur di sebelahnya. Namun lebih terkejut lagi saat melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 19:00.


"Mas gawat, kita akan ketinggalan pesawat mas...," ujar Silvi kebingungan.


Pram terbangun dan jadi ikutan panik, namun Pram langsung sadar dan kembali normal lagi. Pram sudah mengundur penerbangan menjadi jam 8 malam, jadi bisa sedikit bersantai karena lelahnya seharian.


"Silvi tenang, mas sudah memundurkan jam terbang kita. Jadi jangan panik dan khawatir lagi, santai sayang semua sudah diatur." ucap Pram yang juga hampir panik.

__ADS_1


Dan beberapa jam kemudian mereka sudah terbang menuju Amerika. pulang ke rumahnya saat itu juga, dia tak ingin di rumah Rian. Silvi akan pulang kerumah ibunya dan istirahat disana.


***


Rian dan Nita sampai di rumah, Ani dan Aris terharu melihat mereka. Bahkan Ani tak berhenti memeluk Nita temannya yang kini menjadi kakak sepupunya.


"Tuan, dan nyonya masih hidup dan selamat?" ujar Satpam yang membukakan pintu untuk taksi mereka masuk ke dalam mengantarnya.


Semua orang sangat senang dan bahagia sekali setelah melihat secara langsung mereka di depan mata.


"Mama..!"


"Mama..!"


Bisma keluar dari kamarnya memanggil Ani, dia terbangun karena melihat Ani tak bersamanya.


"Bisma nak...?!" ucap Nita yang sangat merindukannya.


Nita menghampirinya dan menggendongnya, namun Bisma menangis dan memanggil Ani dengan sebutan mama terus. Bahkan tangannya ingin meraih Ani untuk segera di gendong olehnya.


"Bisma ini mama sayang..., Bisma mama sudah pulang untuk kamu nak...," ujar Nita yang menangis karena Bisma tak mau di gendong olehnya.


"Oh, iya sayang... ini mama jangan menangis ya." ucap Ani yang langsung mengambil Bisma dan menggendongnya.


Nita sangat sedih dan menangis, Rian memeluknya dan mengerti benar perasaan Nita yang sedih karena Bisma tak tahu Nita itu mama kandungnya.


"Sudah sayang kau tak perlu khawatir, tentu saja dia lebih memilih Ani. Karena kita sudah sangat lama meninggalkan dia Bersama Ani, dan Ani juga terlihat sangat memperhatikan dan menyayangi anak kita Bisma." ujar Rian menenangkan hati Nita.


"Iya Nit, Bisma hanya belum terbiasa dengan kehadiran mu. Nanti juga kalau kau sudah mulai dekat dan Bisma terbiasa akan kembali pada kamu kok." ujar Ani ikut menenangkan Nita yang menangis itu.


Ani menggendong Bisma sudah ada 10 menit, dan kini dia sudah tertidur dalam gendongan Ani. Bisma pun di bawa Ani ke dalam kamar untuk segera di tidurkan. Nita menatapi wajah Bisma dengan derai air matanya. Hatinya masih terasa sedih saat anak kandung tak ingin bersamanya dan memanggil wanita lain dengan sebutan mama di hadapannya.


Malam itu pun Nita dan Rian tidur bersama di kamar Bisma. Mereka berdua berpelukan saat tidur disana, Rian sangat menantikan saat itu sekian lama tidur bersama anak dan istrinya kembali.


Dan malam pun mulai berganti pagi..

__ADS_1


Pagi itu Silvi hendak pergi ke kantor, namun sedikit terlambat karena ada berkas yang tertinggal di rumahnya dan belum sempat di bacanya.


Silvi mulai bingung dan tak mengerti kenapa hari ini dia tak seperti biasanya.


"Aku kenapa sih, padahal semalam sudah aku siapkan dan, oh iya di ponsel sudah aku siapkan tinggal memasukkan saja nanti di kantor ke laptop disana."


"Aku benar-benar bodoh banget dan sekarang menjadi lemot."


"Aku kenapa juga selalu teringat akan perkataannya yang kasar itu."


"Tapi dia begitu tampan dan cool saat marah begitu kepada ku semalam."


"Astaga aku memikirkannya lagi kali ini, ada apa dengan otak ku sekarang?!" ujarnya dalam hati.


Silvi mulai bergegas dan pergi ke kantornya lagi dengan taksi yang sudah menunggu di depan rumahnya.


Silvi pun berangkat menuju ke kantornya sementara di kantor, Rian sudah menunggunya di ruangan.


Silvi masuk terburu-buru tanpa tahu ada Rian di dalam yang sedang duduk membelakanginya.


"Kenapa terlambat datang ke kantor?!"


"Dan tidak mengetuk pintu di ruang atasan sendiri? Kamu mau saya pecat ya?!" tanya Rian dengan suara yang di bedakannya.


"Kamu siapa berani memecat saya hah?!"


"Apa tidak tahu saya lah bos dan pemilik perusahaan ini sekarang!"


"Kamu juga sudah sangat lancang duduk di kursi saya dan tidak sopan kepada saya." ujar Silvi yang geram kepada itu orang.


Rian lalu membalikkan kursi itu dan melihat ke arah Silvi. Seketika Silvi berteriak dan melompat dengan senang.


"A..., mas Rian sudah disini mas? Mas sudah pulang sama mbak Nita ke rumah?" tanya Silvi.


"Iya, mas sudah pulang. Kamu kemana kok gak main kerumah? Mas nya pulang gak di lihat, apa mungkin tidak rindu ya?" tanya Rian.

__ADS_1


" Bukan begitu mas, Silvi juga baru pulang semalam, dan ini baru masuk ke kantor lagi. Ada urusan dengan klien di Jakarta, jadi harus meninggalkan kantor dan gak bisa di wakilkan." Silvi berkata sambil memeluk Rian.


Silvi bersyukur sudah bisa berkumpul kembali dengan keluarganya, namun disaat berkumpul mama mereka sudah tiada lagi bersama mereka saat ini. Tapi mereka yakin mama mereka juga turut bahagia melihat dari sana.


__ADS_2