
Imel sudah terjebak dengan permainannya.
Ya, dia sangat gugup dan terlihat pucat. Pak Rahmat pun marah kepadanya.
" Apa - apaan ini Imel ?!"
" Kenapa disaat saya ada disini kamu menunjukkan hal yang sangat tidak terpuji..!"
" Saya tidak menyangka kamu yang dulunya menjadi orang kepercayaan saya sekarang malah mau menjadi musuh saya melalui Nita..!" Pak Rahmat sangat emosi dan rapat hari itu langsung dibubarkan oleh pak Rahmat.
" Pak, sebentar pak.., saya tidak ada maksud seperti itu ke bapak."
" Maafkan saya pak, dengarkan dulu penjelasan saya."
" Pak Rahmat.., pak..!" Imel mengejar pak Rahmat sampai tempat parkiran, pak Rahmat tidak memperdulikannya.
Beliau pulang ke Jakarta langsung memesan tiket penerbangan.
Imel menangis dan merasa sia - sia selama ini karirnya dan pengorbanannya untuk bekerja dengan pak Rahmat.
Pak Rahmat menelpon Nita untuk memecat Imel dari perusahaannya.
Nita terkejut dan tidak menyangka akibatnya sangat fatal sekali.
Nita tidak bisa berbuat apa - apa, dia segera melakukannya karena itu perintah dari pak Rahmat.
Imel pun pasrah dengan keputusan itu, dia mengemaskan barangnya dan membersihkan semua barang miliknya yang ada dikantor.
Semua karyawan bingung dengan apa yang terjadi, mereka berbisik - bisik dan mencari tahu.
" Tok, tok, tok..., bu Nita permisi." ucap Imel di depan pintu ruangan Nita yang terbuka.
" Iya Imel silahkan masuk." Nita mempersilahkannya.
Ada yang ingin disampaikan oleh Imel kepada Nita, dia tak tahu mau bagaimana dan ternyata dia harus kehilangan pekerjaannya.
Imel masuk keruangan Nita dan mereka berbicara hanya berdua saja.
" Bu, maafkan saya yang sudah berniat tidak baik."
" Saya hanya tidak terima kalau bahwasannya bukan saya yang dijadikan pemimpin di kantor ini."
" Padahal saya orang kepercayaan disini dan sudah lama sekali bekerja dengan pak Rahmat."
" Maafkan saya bu Nita..., hiks, hiks.." Imel menangis dan menyesali perbuatannya.
Nita menghampiri Imel dan memeluknya, Nita juga menenangkannya dengan mengatakan sesuatu.
" Saya tahu kamu sangat berjasa disini bagi pak Rahmat."
" Dan saya juga sudah memaafkan kamu kok, jangan menangis lagi."
__ADS_1
" Sebenarnya saya sudah menelpon pak Rahmat, untuk memberikan pertimbangan lagi kepada kamu."
" Dan kamu sebenarnya tidak jadi dipecat, pak Rahmat memberi tanggung jawab kepada kamu untuk mengurus kantor cabang di daerah Lombok."
" Sebenarnya sudah lama pak Rahmat merencanakannya, namun proyek pembangunannya belum rampung, maka kamu masih disini bersama saya." ucap Nita mengatakan itu kepadanya.
" Hiks, hiks, maafkan saya bu Nita... sekali lagi maafkan saya." Imel masih tersedu menangis diruangan Nita.
" Sudahlah, kamu bersiaplah dan istirahat dirumah."
" Besok pergilah bersama pak Rahmat ke Lombok saya sudah pesankan tiket untuk berangkat." Nita melihat Imel pergi dan tersenyum.
Nita mengerti apa yang dirasakan Imel yang sudah lama sekali mengembangkan perusahaan ini.
***
" Tok, tok, tok, permisi bu ada kiriman untuk anda." ujar pelayan kantor ditempat Nita.
" Bawa masuk pak, dari siapa?" tanya Nita penasaran.
" Tidak ada nama pengirimnya bu." ujar pelayan itu lagi.
Nita menoleh dan melihat barang itu, Nita terkejut ada bunga lagi dan tanpa nama pengirim lagi.
Nita sudah tahu darimana bunga itu, dan dia sudah tidak mempertanyakan lagi.
" Mas Rian.., kamu sebenarnya mau apa dari ku..?"
" Haruskah aku menceritakan kehidupan ku itu." Nita bergumam sambil menciumi bunga dari Rian.
***
" Tring..., tring.." Suara ponselnya berbunyi."
Rian melihat ponselnya, ternyata dilihatnya Nita menelponnya.
" Hallo mas..., mas yang kirim bunga lagi ya mas..?" tanya Nita dengan suara lembutnya.
Rian terdiam sejenak mendengarkan suara Nita yang membuatnya tenang.
" Mas..., mas masih mendengarkan saya..?" Nita mengira sudah terputus.
" Oh, maaf Nit.., mas tidak fokus karena begitu terlenanya mendengarkan suaramu di saat hembusan angin laut menyapa."
" Itu cuma bunga ucapan terima kasih mas saja, dan bukan apa - apa." ujar Rian.
Sekitar 7 menit mereka berbicara, telpon pun ditutup secara bersamaan. Nita masih ada tugas lagi di kantornya, di pak Rahmat memberikan tugas kepadanya untuk pembuatan desain Resort di pantai, namun entah pantai mana.
Pak Rahmat memberikan kepercayaan itu kepada Nita dan Ani yang akan menyempurnakannya.
***
__ADS_1
Linda akhirnya bertemu dengan Yadi ayah biologis dari anak - anaknya. Namun Yadi belum ingin menjadi papa seutuhnya untuk anak - anaknya.
" Mas, aku rindu sekali padamu." Bisik Linda ditelinga Yadi dengan lembut.
Linda memeluk tubuh Yadi dan mereka saling berciuman.
" Tring.., tring..." suara ponselnya Yadi berbunyi.
" Sayang..., kamu sedang apa?"
"Aku sudah mulai merindukanmu mas.." istri Yadi menelponnya dan berkata mesra didepan Linda.
Yadi memberi kode ke Linda agar tidak bersuara selama dia terima telpon dari Sofi istrinya.
Linda kesal dan cemberut mendengar mereka telpon mesra - mesra.
Yadi kembali memeluk Linda dan membisikan kalau dia sudah menantikan kemanjaannya Linda seperti dulu, setelah sudah selesai telponnya.
Linda tadi yang datangi Yadi di penginapannya Yadi.
Kini mereka langsung melepas kangennya, Yadi dan Linda sudah lama tidak bertemu.
Sementara Sofi dirumah sangat merindukan suaminya, dan dia sore ini akan ke salon memanjakan dirinya agar kulitnya menjadi halus dan kencang.
Pergi jalan - jalan bersama temannya, shopping atau sekedar menonton.
Sofi tidak ada firasat atau perasaan apapun tentang Yadi, hanya ada pemikiran suaminya pergi karena bekerja.
Sementara uangnya dikantor sudah untuk biaya hidup Linda dan anak - anaknya.
***
Siang hari Rian kembali kekantornya, dan dia sudah sedikit tenang. Dia benar - benar tidak menyukai Bela, karena bela yang sudah mencelakai abangnya Rian.
Bela dulu adalah pacar abangnya Rian, dan dia sering mengajak abangnya sering pergi ke club' malam dan mabuk - mabukan.
Randy ( abangnya Rian ) menjadi berubah sikapnya, prilakunya dan selalu sakit - sakit.
Dan yang paling membuat Randy terpukul dan sampai meninggal, Bela mengatakan bahwa dia tidak mencintai Randy. Bela mengatakan dia mencintai Rian adiknya Randy.
" Randy, sebenarnya aku lebih menyukai adikmu Rian."
" Dia lebih gagah dan smart menurut ku."
" Sedangkan kau sekarang terbaring di ranjang rumah sakit yang menyedihkan."
" Jangankan melindungi ku, kau berdiri untuk ke toilet saja tak bisa kau lakukan sendiri." ucap Bela kepada Randy, sementara Rian tidak sengaja mendengarkannya disaat dia datang untuk membawakan bubur masakan ibunya.
Kata - kata itu masih diingat oleh Rian, dan dia masih merindukan abangnya Randy.
Makanya Rian selalu kesal dan marah bila melihat Bela didepan matanya. Bela hanya mempermainkan abangnya saat Randy abangnya Rian masih hidup.
__ADS_1
" Aku tidak akan pernah mencintai Bela mas, seperti kamu dulu yang terperangkap olehnya." Rian berkata dengan foto Randy yang ada didalam dompetnya.
Rian mengusap air matanya dan dia menutup foto di dompetnya dan kembali bekerja lagi diruangan kantornya.