
Perusahaan yang di Singapura sudah di berikan kepada Panji, Dion mempercayakan kedua perusahaan itu kepada abangnya.
Sementara perusahaan yang telah Dion kembangkan di London sekarang akan dia pegang dan kelola sendiri.
Sudah lama itu di rencanakan oleh Dion, mengingat perusahaan itu tadinya akan di hadiahkan oleh Manda istrinya. Perusahaan itu bergerak di bidang fashion dan make up yang sedang lagi trend masa kini.
Namun keadaan Manda tidak memungkinkan untuk mengelolanya. Semenjak keguguran itu, Manda menjadi pendiam dan suka murung serta menyendiri. Dio sangat kasihan melihat istrinya yang masih sangat sedih akan kejadian itu. Jadi Dion memutuskan untuk cepat berangkat dan pindah ke London segera. Dion ingin Manda lebih bersemangat berganti suasana dan tidak mengingat terus kejadian yang telah terjadi kepadanya.
" Mas, mungkin aku dan Manda akan secepatnya pergi ke London." Mungkin dalam beberapa hari ini aku akan menyiapkan semua barang - barang dan perusahaan itu sudah bisa mas kelola mulai besok." ucap Dion dan dia memeluk Panji dengan rasa sedih.
Dion merasa sedih karena dia akan kembali berjauhan lagi dari abangnya yang sudah lama dia rindukan.
Besok pagi Dion juga akan pergi ke pemakaman mamanya. Dion membawa Manda bersamanya, mereka ingin berpamitan juga kepada mamanya.
***
Di pemakaman
" Ma, maafkan Dion yang harus pergi tinggalkan mama disini." Tapi Dion minta sama mama, titip cucu mama ya ma." Peluklah dia bersama mama, berilah kasih sayang mama untuknya, karena kami tidak bisa mempertahankannya bersama kami ma." Manda dan Dion pergi ya ma.." Kami sayang dan sangat rindu kepada mu." ucap Dion yang tidak dapat menahan air matanya.
Manda hanya terdiam dan menatap batu nisan mama mertuanya dan batu nisan anaknya disebelah makam mamanya. Manda memeluk Dion dan menangis lagi, kesedihan yang sangat mendalam membuatnya menjadi seperti bukan dirinya sendiri.
Dion pun mengajak Istrinya Manda untuk balik pulang kerumah. Dion dan Manda naik ke dalam mobil lalu pergi begitu saja, Manda masih menangis dan pilu hatinya. Dion pun mempercepat kepergian mereka dan segera memesan tiket secara online untuk keberangkatan mereka ke London.
Mulai Kamis Panji sudah masuk dan memperkenalkan dirinya ke karyawan, karena sekarang dialah pemegang perusahaan yang baru itu.
__ADS_1
***
Yadi masuk ke gedung perusahaan milik Dion yang sekarang sudah resmi Panji yang mengelolanya. Yadi ingin bertemu dengan Dion dan membicarakan tentang kerjasama yang diajukan kepadanya beberapa bulan yang lalu.
Yadi ingin mengembangkan perusahaannya sehingga bisa sampai Internasional.
" Selamat pagi mbak.., apakah pak Dion atau bos kalian ada di kantor..?" Saya ingin bertemu dengannya dan saya sudah membuat janji semalam." ucap Yadi ke resepsionis.
" Tring.., tring.., Lisa bila nanti ada pak Yadi yang ingin bertemu tolong antar saja dia langsung keruangan saya." ucapnya Panji.
" Oh, baiklah pak." Orangnya sudah ada dilantai bawah." ujar Lisa ke Panji.
" Oke baik, bawa pak Yadi ke ruangan saya." ucap Panji ke Lisa.
Lisa pun membawa Yadi ke ruangan Panji saat itu juga. Yadi yang memang sudah membuat janji merasa senang karena dia akan menyelesaikan kerjasamanya segera dengan perusahaan mereka.
" Selamat siang pak Dion, saya ingin membicarakan kerjasama kita yang tertunda." ucap Yadi.
Saat itu Panji sedang bekerja dengan laptopnya, dan wajahnya tidak begitu terlihat dengan Yadi.
Lalu Panji mempersilahkan Yadi untuk duduk saat itu, dan dia menutup laptop yang ada di hadapannya seketika.
" Iya pak Yadi, jadi bagaimana..?" tanya Panji saat itu.
Yadi terkejut dan langsung bangkit dan berdiri dari duduknya. Dia merasa heran kenapa bisa ada Panji yang duduk di kursi itu.
__ADS_1
" Kamu kenapa ada disini..?" Lancang sekali duduk di kursi atasan perusahaan ini." Kamu tuh gak pantas ada di situ, dan jangan berharap untuk menjadi bos perusahaan ini." Yadi masih berkata kasar dan menghinanya.
" Pantas dan tidaknya bukan kamu yang menilai diri saya pak Yadi." Lagian saya memang yang memiliki perusahaan ini sekarang, dan Dion itu adalah adik saya." Memang dia tadinya pemilik dari perusahaan ini, tapi sekarang saya lah yang dipercayakan untuk mengelola dan menjalankan perusahaan ini." ucap Panji kepada Yadi.
" Lisa tolong kamu kesini dan bawa berkas atas kerjasama dengan pak Yadi kesini segera." perintah Panji ke Lisa dari telpon kantor.
" Baik pak Panji, akan segera saya bawakan." ujar Lisa dengan sigap.
" Pak Yadi, mohon maaf atas segalanya." Dan saya sudah pertimbangkan berkas yang bapak ajukan ke perusahaan kami." Dan sekali lagi mohon maaf saya tidak bisa bekerjasama dengan orang seperti anda." Kertas itu dirobek oleh Panji, setelah Lisa memberikannya kepadanya.
Yadi dipermalukan dan merasa terhina, dia juga tidak menyangka ternyata Panji adalah pemegang perusahaan yang ingin dia ajak bekerjasama. Yadi pun pergi dari ruangan itu, dia sangat malu dan tidak terima atas perbuatan Panji kepadanya. Hari itu juga Yadi langsung mengemas barang - barangnya yang ada di hotel dan pergi kembali ke Jakarta.
Yadi saat ini bingung mau bagaiman, sudah banyak perusahaan yang menolak kerjasama dengannya. Perusahaan Rian juga menolak, perusahaan Dion yang Panji pegang sekarang juga di tolak. Sementara perusahaan dia memerlukan investasi agar modalnya bisa bertambah untuk kemajuan perusahaan miliknya.
Yadi sangat marah dan dia melampiaskan emosinya kepada Linda istrinya.
" Kamu sudah pulang mas..?" Kenapa gak bilang dulu kalau mau pulang..?" Kamu mau kasih kejutan ke aku ya..?" tanya Linda penuh manja.
" Sudah diam kamu, ini semua salah kamu." Aku capek - capek mencari perusahaan yang mau bekerjasama supaya ada investasi kita malah semuanya tidak ada yang mau." Karena kamu sudah membuat kacau semuanya." ucap Yadi dengan nada tingginya.
" Loh, kamu kok menyalahkan aku sih mas..?!" Kamu pulang - pulang kok malah marah - marah ke aku." Kamu saja yang gak becus mengelola perusahaan dan mengajak kerjasama ke mereka." Kamu yang gak bisa malah aku yang kamu salahkan." ujar Linda yang tidak terima disalahkan.
Yadi semakin marah dia menampar wajah Linda sampai dua kali dengan kuatnya. Linda pun terjatuh dan menangis, Yadi langsung mengambil kunci mobilnya dan pergi meninggalkan Linda dalam keadaan emosinya.
Mereka bertengkar sangat hebat dan sampai Yadi tidak pulang kerumah saat itu. Dia lebih memilih menginap dikantornya, dan makan malam di luar atau memesan lewat ponselnya.
__ADS_1
Linda sangat sedih dan mengadu ke mamanya saat itu juga. Dia ditinggalkan Yadi dirumah bersama anak - anaknya dirumah.
Linda sudah mencoba menelpon ponsel dan telpon kantornya, tetapi Yadi tidak ingin bicara kepada Linda sedikit pun. Dia malah memilih untuk diam dan menghindari Linda saat itu juga.