PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU

PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU
Bab 79. Ada Kehidupan


__ADS_3

🌼 Pagi di dalam penjara


" Hei, cepat dong !" lelet banget jadi orang !"


" Memang kamu saja yang mau mandi ?!"


" Ha ?!" teriakkan dari salah satu penghuni penjara ke Linda.


Linda hanya diam tanpa mengatakan apa pun.


" Dor, dor, dor...!" suara pintu kamar mandi di gedor.


" Hei kamu tuli ya ?!"


" Cepat dong !" ucap mereka yang pada antri mau ke kamar mandi.


Linda pun keluar dari dalam dan melirik pada mereka, namun tidak satu patah kata pun keluar dari mulutnya.


Lalu dia berjalan dan tidak memperdulikan mereka lagi. Linda langsung menuju ke kantin dan mengambil sarapan paginya.


Hari ini tidak ada senam, karena ada petugas dari penjara pusat yang akan meninjau ke penjara mereka.


Setelah sarapan pagi, mereka semua harus berkumpul dan berbaris dengan rapi.


Ada penyuluhan dan nasehat dari kepolisian tersebut, Linda sudah tidak perduli lagi mau ada apa dan siapa.


Tubuhnya sekarang sudah kurus tak terawat, mama dan Yadi tidak pernah datang mengunjunginya.


Bahkan dia sangat merindukan anaknya yang tak tahu ada dimana sekarang. Linda sekarang sudah bukan yang dulu lagi, setiap hari dia selalu meratapi nasibnya di balik jeruji besi itu.


Namun kalau hanya meratapi saja apalah guna, sekarang Linda mencoba untuk mulai berbenah hatinya menuju jalan yang lebih baik.


Dan tujuan hidupnya kali ini bila sudah keluar, akan mencari anaknya Raisa yang masih hidup.


" Kalau sudah tidak ada suami lagi, aku masih bisa bertahan untuk hidup."


" Tapi bila anak ku yang pergi, aku tak sanggup untuk menjalani hidup ini." berkata dalam hati sambil menangis mengingat anaknya Ririn yang sudah meninggal dunia.



Linda yang malang dan baru sadar akan dirinya yang dulu penuh dosa dan sekarang sangat menyesali kesalahannya.


Namun sekarang menangis pun tidak ada gunanya, karena semua sudah sempat terjadi di hidupnya.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Nita hari ini merasa sedikit tidak enak badan, dan dia tidak sanggup menghadiri rapat kantornya.


Ani ditunjuknya untuk mewakilinya hari itu, sementara Nita menelpon Rian suaminya untuk mengantarkannya ke rumah sakit untuk diperiksa.


Nita takut kalau ada apa - apa dari penyakitnya yang lama.


Rian segera sigap mengantar Nita untuk periksa kerumah sakit. Mulutnya terasa tidak enak rasanya ingin muntah, kepala pusing dan wajahnya sangat pucat.

__ADS_1


Rian memperhatikan Nita dari tadi yang terus menutup mulutnya karena mual.


Rian mempercepat laju mobilnya agar segera sampai di rumah sakit, karena Rian tak tega melihat istrinya seperti itu.


" Suster tolong istri saya.. !" teriaknya.


" Wah tampannya... " suster itu malah bengong.


" Suster... !" teriak Rian lagi.


" Oh iya pak akan segera di tolong." kata susternya.


Rian menggelengkan kepalanya dan kesal sekali melihat mereka lama dalam bertindak.


Nita di dorong pakai kursi roda, karena dia merasa lemas dan pusing. Takutnya kalau jalan nanti Nita akan jatuh dan akan fatal pula akibatnya.


Mereka berlari membawa Nita ke ruang darurat, dan segera memanggil dokter Aisyah yang biasa memeriksa Nita tempo dulu.


" Hallo Dokter Aisyah, bu Nita pasien ibu yang kemari itu sedang ada di Rs bu." Dan beliau sekarang mual - mual dan wajahnya pucat." kata suster tersebut.


" Baik suster terima kasih saya akan segera kesana." ucap Dokter Aisyah.


Dokter Aisyah pun datang dengan tergesa - gesa, dia langsung masuk ke dalam ruangan dimana Nita di baringkan.


" Dok, tolong istri saya dok !" kata Rian yang menemani Nita diruangan itu.


" Baik pak Rian, bapak duduk dulu disana biar saya periksa bu Nita disini." Dokter Aisyah pun menutup tirai dan memeriksa Nita disana.


" Sudah bu Nita, ayo duduk." katanya


" Suster tolong bu Nita di bantu turun dan duduk didepan meja ya." ucapnya lagi.


" Bagaimana dok !"


" Apa Nita sakitnya kambuh lagi atau ada gejala yang lain bu dokter" Rian panik dan cemas serta penasaran.


" Tenang pak Rian, tunggu bu Nita duduk dulu baru kita jelaskan." ujar bu Aisyah sambil tersenyum.


" Mari sayang sini dekat sama mas."


" Terima kasih suster." ucap Rian.


Nita sudah duduk di samping Rian, dan memeluk Rian disana. Nita terlihat gugup dan begitu juga Rian yang sudah dingin tangannya.


" Pak Rian..."


" Bu Nita..."


" Jangan khawatir, ini biasa terjadi kok." Dan ini akan berlangsung selama trisemester pertama." ucap Aisyah yang menoleh ke arah suster sambil tersenyum.


" Maksud bu Aisyah ini apa ya ?"


" Saya tidak mengerti.." Rian mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


" Bapak, ibu selamat ya.." ternyata bu Nita sudah mengandung sekarang." ujar susternya.


" Iya pak Rian, bu Nita ternyata sudah mengandung 6 Minggu sekarang." ucap dokter Aisyah memberi tahu ke mereka.


Rian dan Nita saling berpandangan, Nita lalu melihat ke arah perutnya serta mengelusnya.


" Alhamdulillah ya Allah..." ucap syukur Nita.


" Masya Allah, saya sangat bahagia mendengar kabar ini dokter." Rian menggenggam tangan Nita dan mencium keningnya.


" Bu Aisyah terima kasih atas kabar bahagia ini." ucap Rian sekali lagi.


" Iya pak Rian sama - sama, dan ini resep vitamin untuk bu Nita ya pak.."


" Nanti bisa diambil di depan sana, dan jaga kandungannya ya bu Nita..."


" Semester pertama kandungan masih rentan dan rapuh, ibu tolong jangan terlalu kecapean dan stres."


" Oke pak Rian... ?"


" Tolong istri dan calon anaknya di jaga." ucap bu Aisyah kepada mereka berdua.


" Baik dok, saya mengerti dan kami permisi."


" Sekali lagi terima kasih ya dokter Aisyah."


" Mari suster permisi..." ucap Rian yang begitu ramah.


Rian berjalan keluar bersama Nita, dia terlihat begitu senang mendapat kabar gembira tersebut.


Pinggang Nita dirangkul dan berjalan bersama sambil mengelus perut Nita serasa tak percaya.


" Sekarang Allah sudah mempercayakan kita lagi ya mas." kata Nita.


" Kali ini harus kita jaga benar - benar ya sayang ucap Rian kepada istrinya.


" Terima kasih ya, mas sangat bahagia sekali kamu akhirnya hamil lagi."


" Mas sudah gak sabar mau kabarkan ini ke mama dan Silvi sayang.." kata Rian.


" Sabar dong mas, mungkin nanti saja kalau usia kandungannya sudah 3 bulan saja ya mas ?" tanya Nita.


" Baiklah, kamu gak apa - apa kalau mama gak perhatikan ?" Rian balik tanya.


" Ya gak apalah mas, dirumah juga sudah ada mbak kan yang siapkan semuanya." kata Nita lagi menjelaskan.


Rian pun mengangguk dan setuju akan hal itu, mereka hanya takut akan terjadi kejadian seperti dulu lagi.


Dan mama nanti akan kecewa karena sudah berharap dengan calon cucunya.


Rian dan Nita kembali berjalan lagi ke parkiran setelah mengambil resep vitaminnya itu. Rian dengan hati - hati dan membukakan pintu mobilnya untuk Nita.


Rian begitu perlahan mengendarai mobilnya dan membawa Nita pulang untuk istirahat.

__ADS_1


__ADS_2