PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU

PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU
Bab 8 ketahuan


__ADS_3

Keesokan harinya Dion dan tantenya janjian disebuah cafe dijalan Pelangi tepat jam makan siang.


" Aku pada awalnya tidak ingin di jodohkan dengan suami ku yang sekarang ini mas."


" Tetapi aku terpaksa karena kekasih ku tidak mau bertanggung jawab atas anak yang aku kandung."


" Tetapi aku senang sekarang hidup ku ada yang biayai dan mertua ku pun selalu membela aku."


" Aku juga bebas bisa bekerja seperti ini dan mereka tidak tahu."


" Aku terpaksa harus seperti ini mas.., karena sekarang suami ku tidak menafkahi ku." ujar Linda tanpa ragu mengatakannya.


" Jadi, anak mbak yang sekarang bukan anak dari suami mbak?" tanya Dion.


" Ya bukanlah mas, tetapi mertua aku percaya dan tak ada curiga dengan anak saya dengan kekasih ku yang dulu." ucap Linda.


" Bruk...!"


" Kurang ajar si Linda, saya sudah sangat sayang dan percaya kepadanya."


" Saya sangat menghormati dan menghargai keluarganya."


" Tidak disangka kalau dia benar - benar busuk didalam."


" Panji memang benar, dan dia sudah mengatakan sangat menderita, namun tante tidak berpihak kepadanya Dion."


" Hiks, hiks.., tante sangat menyesal atas perlakuan tante ke mas Panji mu." ucap mamanya Panji yang menangis karena mengetahui kebenaran itu.


" Sudahlah tante lebih baik kita cari cara agar Linda bisa ketangkap basah dan tak bisa berbuat apa - apa." kata Dion dipertimbangkan oleh mamanya Panji.


Dan mereka membuat rencana dan kesepakatan. Namun hanya mereka saja yang tahu, mamanya juga melarang jangan Panji sampai tahu tentang rencana mereka.


***


Panji mencoba menelpon Nita, tetapi dia bimbang dan ragu.


Nita melihat ponselnya dan ada nama Panji disana. Dia hanya terdiam menatap ponselnya, Nita masih kecewa dan tak ingin lagi dikatai sesuatu oleh istrinya Panji.


" Hallo Nit.., ini aku Panji." katanya dari seberang.


" Ada apa mas..?" tanya Nita.


" Maaf Nit, seharusnya aku tidak berbuat seperti itu." Panji merasa tidak enak dengan Nita.


" Apa yang kau katakan.., sudahlah mas, aku tidak apa - apa kok."


" Seharusnya kau temani mama, mungkin dia berharap mas yang menemaninya." kata Nita lagi.


" Iya terima kasih Nit, tapi..., aku harap kau ikut pulang denganku untuk temani mama." ujar Panji yang berkata pelan dan datar.


" Hei, ada apa..?!"


" Bukannya ada istrimu, dan dia sedang membutuhkan perhatian dari mu sekarang."


" Aku tidak mau kalau dibilang dan dituduh yang macam - macam mas.." Nita menaikan suaranya.

__ADS_1


" Sudahlah Nit, aku ingin kau yang menghibur dan memberikan perhatian ke mama." lanjut Panji memotong pembicaraan Nita.


Panji menutup pembicaraannya sesuka hatinya, lalu terdengar suara klakson diluar rumah Nita.


" Tin.., tin.., tin.....!"


Nita melihat dan melongok dari jendelanya.


Terlihat Panji melambaikan tangan dan mengajaknya untuk segera pergi kerumahnya.


" Hah..." Nita menghela nafas dan tidak bisa berkutik.


Dia langsung keluar dan mengunci pintu rumahnya, berjalan menghampiri Panji dimobilnya.


Nita masuk dan duduk didepan bersama Panji, dia hanya diam saja. Panji pun langsung tancap gas dan memutar setirnya untuk pulang kerumahnya dengan membawa Nita.


Ani menelpon Nita, dan tak sabar ingin tahu penjelasan dari temannya itu.


" Hallo Nit, kamu lama sekali datangnya." ucap Ani sedikit kesal.


" Maaf An, aku gak jadi pergi dengan mu."


" Aku pergi bersama Panji untuk mengunjungi mamanya yang sedang kurang sehat." Nita jujur mengatakan kepada Ani.


" Baiklah kalau begitu Nit, tidak apa - apa." Ani langsung menutup pembicaraannya.


Nita pun terdiam dan menatapi ponselnya.


" Ani pasti kesal dan marah kepada ku." ujarnya dalam hati.


Panji hanya fokus mengemudi dan sesekali melihat Nita yang hanya diam tanpa kata.


Wajahnya seperti jeruk purut dan sesekali ngedumel gak jelas.


Panji hanya tersenyum melihat Nita yang sibuk akan mulutnya yang komat - kamit.


Sampainya dirumah mamanya Panji, terlihat Linda dan mamanya Panji sedang asyik mengobrol dan bercanda. Diatas meja itu ada setumpuk uang yang terlipat rapi dengan amplop coklat tebal.


Dan amplop itu bertuliskan alamat - alamat seseorang, entah untuk apa amplop itu.


Nita masuk dan memberi salam serta senyumannya kepada mereka. Nita memilih untuk duduk disofa yang lain dan tidak ikut bergabung bersama.


Panji mendekati mamanya memberikan isyarat, Linda meraih tangan Panji dengan kasar.


" Aku sudah menunggu kamu dari tadi mas.."


" Kenapa kamu bawa perempuan itu kesini..?!"


" Membuat aku dan mama menjadi sebal saja." ujar Linda yang melirik Nita merasa tidak senang.


Mamanya Panji melirik Linda dan dia tahu kalau Linda sedang terusik dengan kedatangan Nita.


Mama sengaja menghampiri Nita dan mengajaknya bicara berdua meninggalkan Linda dimeja makan.


" Apa kabar sayang...?" Mama Panji menyapa sambil memegang tangan Nita seolah - olah mereka sangat akrab.

__ADS_1


" Oh, ibu..., saya baik."


" Bagaimana dengan ibu?"


" Tampaknya sudah mulai segaran dari wajah ibu." kata Nita yang begitu perhatian kepada mamanya Panji.


" Ya.., berkat doa dan perhatian kalian ibu sehat kembali."


" Bagaimana keadaan ibu kamu nak Nita ?" tanya mamanya Panji lagi.


" Ibu saya dikampung sehat - sehat saja kok bu.., Alhamdulillah." Nita menjawabnya dengan santun.


Nita dan mamanya Panji semakin akrab dan mengobrol semakin seru. Mamanya Panji terlihat senang dengan kedatangan Nita ke rumahnya.


Pelayan menyuguhkan makanan kecil dan minuman untuk Nita dan mamanya Panji.


Sementara Linda dan Panji mempersoalkan tentang masalah uang yang ada diatas meja dihadapan mereka.


Panji merasa heran dengan uang yang sebanyak itu ada didalam tasnya Linda.


" Dari mana kamu mempunyai uang sebanyak ini Lin..?" tanya Panji dengan nada tegas.


" Ini uang aku lah mas.., aku kan kerja, ya wajarlah kalau uang aku banyak." ujarnya membela diri.


" Katanya kamu kerja jual kosmetik bersama temanmu, mana mungkin uangnya sebanyak ini." kata Panji yang tidak percaya akan ucapan Linda.


" Aku tuh dapat bonus dari bos aku, yang dapat menjual abis bedaknya saat itu." Linda sangat hati - hati dalam berkata.


Tampak jelas sekali kalau Linda sedang membohongi Panji saat itu. Linda sedang hamil saat ini, dia belum bisa menceraikannya.


Namun saat itu tiba, Panji tidak ingin membuang waktu untuk menunda perceraian itu.


Linda sengaja memanfaatkan kehamilannya dan membohongi mertuanya.


Namun Linda tidak tahu kalau mertuanya sudah mengetahui kebusukan dirinya. Dan sebentar lagi kebusukan itu akan terbongkar.


Suara ponsel Linda terdengar mamanya Panji dan Nita.


Mama melirik Linda karena dari tadi Linda tidak menjawab ponselnya.


" Lin, kenapa kamu tidak jawab ponselmu, sangat mengganggu sekali." ujar mamanya Panji.


" oh, iya ma sebentar." kata Linda menyahut mertuanya.


Linda lalu pergi membawa ponselnya disudut taman belakang.


" Ada apa sih mas..?!"


" Telpon - telpon aku, kalau ada yang penting kan sudah aku bilang kirim pesan saja." Linda marah - marah dan tidak senang.


" Aku rindu padamu sayang.., kapan kita bertemu..?" tanya Yadi


" Nanti deh mas kita bicara lagi, aku lagi sibuk nih." ucap Linda sembari mematikan ponselnya.


Linda sangat kesal dengan Yadi, dia tidak mau menikahi Linda. Dan menelpon hanya karena membutuhkan kehangatan saja.

__ADS_1


__ADS_2