
Manda sudah selesai dioperasi dan sudah dibawa ke kamar istirahatnya, namun dia belum sadar dari bius operasi tadi. Dion menunggu dan menatap dari tepi tempat tidur Manda, pria itu menatap seakan tak kuasa untuk tak menangis.
Dion bingung bagaimana nanti mengatakan kepadanya kalau dia menanyakan bayi dan kandungannya.
Panji sedang pergi keluar, dia pergi untuk membelikan makanan untuk adiknya. Dion belum ada makan sedikit pun dari kejadian itu, dia terus menyesali kejadian itu terjadi. Panji membeli nasi dan beberapa makanan lainnya serta minumannya. Tiba - tiba seseorang menabrak dirinya dan minumannya pun terjatuh.
" Kalau jalan lihat - lihat juga orang lain dong." ucap seorang pria.
" Mas, bukannya anda yang sudah menabrak saya..?" ujar Panji.
" Hah !" Ternyata kamu mantan suami Linda yang pernah buta itu ya..?!" Dunia ini begitu sempit ya, gak sama yang dibilang para ahli
berkata bahwa bumi ini begitu besar." Buktinya aku sangat sial bisa bertemu dengan diri mu." ucap Yadi yang menghina Panji.
Yadi pergi ke Singapura karena ada urusan bisnis, tapi Linda tidak ikut bersamanya. Yadi sebenarnya ingin bergabung dan bekerjasama dengan perusahaan Desain xxx yang di miliki Dion adik dari Panji. Namun Yadi tidak menyadari bahwa dia telah menyinggung abangnya Dion yang sebenarnya dia ingin bekerjasama dalam perusahaan xxx itu.
" Ku lihat masih begitu - begitu saja kehidupan mu." Dan katanya sudah sukses di Singapura, tapi aku merasa kamu gak ada bedanya seperti beberapa tahun silam." Bahkan sekarang bertambah parah kehidupannya." Yadi semakin mengoloknya.
" Pantas saja Linda meninggalkan mu dan lebih memilih aku yang masa depannya sudah sukses saat ini." Linda memang tidak salah memilih suaminya dan untuk kehidupannya." Yadi semakin banyak bicara dan banyak menghina.
__ADS_1
Panji ingat akan adiknya Dion, dan dia segera bergegas berlari membawa makanannya. Panji berencana akan kembali lagi untuk membelikan air minumnya nanti saja. Panji merasa kasihan dengan adiknya yang mungkin sudah kelaparan saat ini di dalam ruangan menunggu istrinya sadar dari pengaruh biusnya.
Panji memang terlihat sangat kucel, dia pergi dari rumah dengan memakai baju kaos dan celana pendek serta sandal jepit. Yadi yang melihatnya menduga kehidupannya sekarang sangat berantakan dan merasa kasihan. Namun Yadi malah menghina dan bangga akan kesuksesan dirinya sekarang ini.
***
" Dion, makanlah dulu." Mas sudah membelikan nasi untuk kamu makan saat ini." Kasihan Manda nanti bila tahu kamu lemas dan sampai sakit karena tidak makan karena dirinya." Manda sangat sayang sama kamu, jadi jangan kecewakan dirinya." ucap Panji dan memberikan kotak yang ada nasi dan lauk didalamnya.
"' Mas pergi sebentar ya, kamu habiskan makanan itu." ujar Panji lagi sambil berjalan menuju keluar ruangan.
Panji keluar lagi dari rumah sakit itu, dia pergi untuk mencarikan makanan yang lembut dan membelikan air minum lagi yang telah tumpah tadi. Dia keluar dari rumah sakit itu dan berjalan menyusuri berbagai macam cafe dan pedagang yang berjualan.
" Heh, ternyata kamu lagi yang ditemukan." Sekarang menjadi suruhan orang ya..?" Dari tadi mondar - mandir membeli sesuatu tidak selesai juga." Kehidupan mu sungguh kejam dan menyakitkan ya..?!" ujar Yadi sambil menepuk pundaknya Panji.
" Sudah pulang saja ke Jakarta dan tinggal manis bersama mama kamu." ucap Yadi lagi.
Panji hanya diam saja tanpa memberi respon kepada Yadi. Karena hal itu semakin membuat Yadi semakin geram dan ingin memukulnya. Namun Yadi tak bisa melakukannya, dia tidak ingin mencari masalah di negeri orang.
" Berapa mas..?" Saya harus cepat kembali kesana, karena adik saya sedang melemah saat ini." ucap Panji untuk segera pergi setelah membayarnya.
__ADS_1
Panji pun pergi dan berjalan dengan cepat, yang ada dipikirannya saat ini adalah kondisi Manda. Dia tak perduli hinaan dari Yadi, Panji sudah tahu bagaimana nanti akan mengunci mulutnya dengan cara otomatis. Panji berjalan dan masuk lagi ke ruangan itu, dilihatnya Manda sudah sadar dari biusnya. Dia menangis memeluk Dion suaminya, Dion memberikan kode kepada Panji untuk beri mereka waktu untuk berdua sampai Manda benar - benar tenang.
" Dimana anak ku mas..!" Aku gak mau dia pergi tinggalkan aku..!" Mas, kamu tahu kan aku sangat sayang padanya mas.., dimana anak ku mas..!" Dimana anak kita..?!" Manda berteriak, menangis dan sangat terpukul.
" Iya, mas tahu kamu sangat sayang dia." Mas juga sayang sama dia, tapi Allah lebih sayang dia Manda.." Tenanglah, pasti dia bahagia disana." Kamu yang sabar dan tahan emosi kamu, karena tak baik untuk kondisi kamu sekarang ini sayang.." Dion mencoba menenangkan Manda dan memeluknya.
Manda tidak tahu kalau Panji ada di belakangnya, dia terus menangis dalam pelukan Dion.
Panji pun keluar setelah meletakkan makanan dan minuman yang dia beli tadi di atas meja. Panji pun menunggu dan duduk di luar ruangan itu, dia mengerti akan rasa kehilangan itu. Dia juga pernah merasa kehilangan, walau itu bukan seorang anak. Namun sama rasanya orang yang di cintai atau kita sayangi pergi meninggalkan kita. Rasa sakitnya sangat luar biasa dan butuh waktu yang lama untuk bisa terbiasa tanpanya lagi.
***
Hari sudah malam, Manda sudah bisa mengontrol emosinya sekarang dia sudah sedikit tenang. Namun dia sesekali masih juga menangis walau tidak histeris seperti tadi sore.
Suster juga mencoba memberikannya suntik penenang, agar dia bisa istirahat total dan tidak terus berpikir tentang anaknya yang sudah meninggal.
Dion keluar dari ruangan itu setelah Manda tertidur lelap dan tenang. Dion menemui Panji dan meminta abangnya untuk pulang ke rumah dan beristirahat.
" Mas Panji pulanglah ke rumah, dari tadi pagi mas belum ada istirahat." Mas baru sampai kerumah dan belum ada untuk istirahat untuk kejadian ini." Biar aku saja yang menunggu Manda disini, mas pulanglah kerumah nanti setelah mas beristirahat besok mas bisa kesini lagi." Ucap Dion yang menyuruh masnya untuk pulang dan beristirahat.
__ADS_1
Banyak musibah yang menghampirinya, namun Panji tidak akan menyerah dan dia tetap terlihat tegar serta tenang. Walau dalam hatinya sangat ingin menjerit. Panji pun pulang kerumah Dion, dan mengemudikan mobilnya sendirian. Tubuhnya sangat kelelahan dan dia juga merasa mengantuk sekali. Sampai dirumah Panji langsung masuk ke kamarnya, tanpa makan malam dan tanpa menyapa pelayan dan satpam yang ada di depan pagar rumah. Dia benar - benar sudah tidak kuat dari tadi, emosinya juga sudah habis untuk hari itu juga. Panji sekarang hanya ingin sendirian dan dia membutuhkan itu untuk menenangkan dirinya dan pikirannya.