PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU

PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU
Bab 76. Penggoda


__ADS_3

Sudah enam bulan terlewati, Ani tidak pernah mendapat kabar dari Aris.


Dia masih menanti Aris dengan setianya, dan memegang janji Aris yang akan kembali dalan satu tahun lalu menikahinya.


Nita memperhatikan Ani yang duduk di tepi jendela taman belakang, dia melamun dan menatap ke satu arah saja.


Rian sengaja menyuruh Ani tinggal dirumah mereka selama di America. Maksud Rian biar Nita ada teman dan tidak sendirian kalau ada apa - apa. Ani pun senang karena bisa bersama dengan sahabatnya lagi dan mengenang kebersamaan.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸŒΌπŸŒΌπŸŒΌπŸŒΌπŸŒΌπŸŒΌπŸŒΌπŸŒΌ


Sore itu tiba - tiba turun salju, Ani dan Nita masih bisa jalan pulang karena salju belum begitu lebat.


Sedangkan Rian masih berada di kantornya mengurusi berkas dari departemen marketing untuk segera di siapkan dan di tanda tangani.


Nita dan Ani sampai dirumah dan pelayan sudah menyiapkan sup hangat di meja makan.


" Bu, dimakan sekarang saja sup nya bu." Masih hangat biar ibu gak masuk angin nanti." kata pelayan.


" Oh iya mbak." ucap Ani.


" Ayo Nita kamu harus jaga kesehatan kamu mulai dari sekarang."


" Biar nanti fit saat di beri kepercayaan lagi untuk menjadi orang tua." ujar Ani memberi semangat ke Nita.


Mbak pelayan itu tertawa kecil dan tersenyum bahagia. Rian sengaja memilih pelayan orang Indo saja, karena Rian lebih suka masakan Indonesia. Sedangkan bila ingin makanan western bisa pergi ke resto western saja.


Rian menelpon Nita ke ponselnya, namun tidak ada yang menjawab. Ponsel Nita ada di kamar dalam tasnya, sedangkan Nita sekarang sedang makan bersama Ani di lantai bawah meja makan.


" Tring..."


" Tring..."


" Kemana Nita ya kok gak ada yang jawab sih." berkata dalam hatinya.


" Coba aku telpon kerumah saja deh, mana tahu sudah sampai dirumah." ujarnya lagi.


" Tring..." tring..." suara telpon rumahnya Nitaa.


" Iya hallo, ini siapa ?" mbak yang menjawab telpon itu.


" Hallo mbak, ini saya." bu Nita sudah pulang mbak ?" tanya Rian.


" Oh bapak ?!" sudah pak, bu Nita dan bu Ani sudah pulang barusan saja." Dan mereka sekarang sedang makan sup dimeja makan pak." kata pelayan itu.


" Oh ya sudah kalau begitu." Nanti tolong sampaikan kalau saya akan pulang malam karena masih ada pekerjaan." Suruh ibu untuk tidak usah menunggu saya pulang." Mbak, tolong siapkan apa keperluan ibu ya, saya minta tolong jangan lupa vitamin ibu Nita." terima kasih mbak." ucap Rian begitu santunnya.


" Baik pak saya mengerti." kata mbaknya.

__ADS_1


Pembicaraan pun diakhiri telpon pun ditutup kembali. Mbak pergi ke kotak obat di rumah itu, dan berjalan lagi menghampiri Nita yang masih di meja makan bersama Ani disana.


Pelayan itu memberi tahu ke Nita bahwa Rian masih ada pekerjaan di kantornya.


Salju semakin lebat, bahkan sekarang di malam hari tiba - tiba ada badai sekitar jam 8 malam.


Rian akhirnya tidak bisa pulang kerumah dan terpaksa menginap di kantornya.


Nita sangat mencemaskan suaminya yang belum pulang, Nita yang dirumah juga tidak bisa tidur karena mencemaskan suaminya.


Udara semakin dingin, salju begitu tebal di jalan sehingga banyak jalan yang ditutup disana.


Rian pun tidak bisa memesan makanan untuk makan malamnya. Semua cafe dan resto tutup karena badai salju tersebut.


Rian mencoba mencari air di dapur kantornya dan dia ingin membuat secangkir kopi untuk dirinya. Pengawal serta orang kepercayaan Rian juga sudah pulang dari sore tadi.


" Pak Rian mau buat kopi juga ya ?" suara seorang wanita terdengar oleh Rian.


Dia menoleh ke belakang dan melihat wanita yang ternyata karyawannya.


Dengan masih pakaian kantornya dan rok yang kekurangan bahan berdiri di depan Rian.


" Shella kamu sedang apa disini ?" tanya Rian yang sedikit heran.


" Saya tadi sedang menunggu jemputan pak." Tapi malah pacar saya gak datang - datang sampai sekarang, saya jadi bermalam disini deh." Shella berbicara sambil menghampiri Rian dan mendekatkan tubuhnya ke Rian.


" Hati - hati dalam bergerak dan berbicara pada saya."


" Air panas bisa saja tumpah melukai mu dengan sengaja atau tidak sengaja." ucap Rian langsung kepada Shella.


" Saya bisa kembalikan kamu ke perusahaan lama mu dan memberikan penjelasan kepada atasan kamu disana." ucapnya lagi.


Shella pun berhenti dan terdiam, Rian sangat kesal padanya. Lalu pergi meninggalkan Shella begitu saja kembali lagi ke ruangannya.


Disana ada kamar khusus untuknya bila sedang lembur dan tidak ingin pulang.


Shella semakin greget ke Rian dan semakin ingin menaklukkannya.


" Wow...., aku suka gaya mu mas Rian..!"


" Kita lihat saja siapa yang akan membutuhkan kehangatan itu."


" Aku atau kamu sekarang..?!" ujar Shella berbicara sendirian di dapur kantor itu.


Shella lalu membuat kopi disana dan kembali lagi ke ruangannya. Dia hanya duduk dan tidak mengerjakan apa pun, namun pikirannya melayang tentang Rian.


Dia berpikir dalam keadaan seperti ini pasti Rian sangat perlu kehangatan.

__ADS_1


Dan tiba - tiba dia ada ide yang sangat cemerlang yang ingin dia lakukan.


Shella mengetuk pintu ruangannya Rian dari luar, sekarang dia sedang ingin akting disana.


" Tok, tok.... !" suara pintu.


" Tolong..., pak tolong pak, tolong saya."


Rian berdiri dan mendengar sesuatu dari luar, Rian yang saat itu sedang merebahkan tubuh di kasurnya langsung bangun dan melihat ada kejadian apa disana.


Rian membukakan pintu ruangannya yang tadi dia kunci. Dan melihat ada Shella kesakitan yang sudah duduk dibawah lantai kantornya.


" Kamu kenapa ?" tanya Rian.


" Pak perut saya sakit sekali, sepertinya mag saya kambuh lagi."


" Lantaran saya belum makan siang dan diluar sangat dingin, saya kedinginan pak." Shella memegangi perutnya dan berpura - pura merasa kedinginan.


Rian segera memapah Shella masuk kedalam ruangannya, dan Shella duduk di sofa ruang kantornya.


" Pak, apakah bapak ada obat mag untuk saya ?" Shella bertanya sambil memegangi tangan Rian.


" Sebentar akan saya carikan obat mag istri saya, apakah masih ada di kotak obat." kata Rian sambil menepis tangan Shella.


Rian pun pergi keruangan dimana kotak obat itu berada, Shella semakin semangat saat melihat kancing kemejanya Rian terbuka 3 buah dan memperlihatkan dadanya yang bidang itu.


" Aku rasanya ingin memakan kamu saja mas." ucap Shella setelah Rian pergi.


Shella berpura - pura kesakitan lagi setelah Rian kembali membawakan obat dan minum untuknya.


" Ini masih ada obat punya istri ku, duduklah dulu dan minum segera." kata Rian.


Lalu Rian pergi dari tempat itu, dia duduk di sofa yang lain dan sedikit jauh dari tempat Shella berada.


Shella yang sedang meminum obat itu pun memperhatikan Rian yang sedang mengotak - atik ponselnya. Rian ingin sekali menghubungi Nita dari tadi namun tidak ada signal ditengah badai salju itu.


Lalu Rian mengirim pesan lewat ponselnya untuk mengabari Nita, mana tahu nanti akan terkirim dan bisa Nita baca pesan itu pikirnya.


" Sayang, mas tidak bisa pulang karena badai salju ini." Semua jalanan tertutup dan baru akan pulang nanti pagi, kamu tidak usah masuk ke kantor besok ya sayang tunggu aku dirumah karena aku sangat merindukan kamu." I LOVE YOU.❀️❀️❀️


Rian pun menekan tanda kirim di ponselnya, dan menutup ponselnya.


" Maafkan mas ya sayang." Malam ini kamu mungkin tidak bisa tidur nyenyak, aku tahu itu."


" Besok pagi kita bisa tidur bersama dan memeluk mu." ujarnya dalam hati.


Rian juga kepikiran dengan Nita, dan sebenarnya pun Nita memang tidak bisa tidur di dalam kamarnya. Dia masih terjaga karena memikirkan Rian yang masih berada dikantornya.

__ADS_1


Sedangkan Ani sudah tertidur di jam 1 malam, dia juga memikirkan Aris dari kamarnya.


__ADS_2