
🌟 Malam sudah larut Pram malam itu tertidur di sofa ruang tv nya Silvi malam itu. Silvi membiarkannya tidur dirumahnya malam itu, dan Silvi pun pergi tidur di kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.
Semua sudah tidur dan terlelap malam itu, tiba-tiba suhu dan cuaca berubah menjadi lebih dingin terasa.
Duar !"
Duar !"
Terdengar suara Gemuruh dan petir dari luar rumah yang begitu kuat suaranya. Malam itu Silvi tak bisa tidur, dia terkejut dengan suara petir itu. Lalu teringat dengan Pram yang tidur tanpa selimut disana. Silvi memberanikan diri untuk membuka pintu kamarnya dan turun ke lantai bawah untuk membawa selimut untuk Pram disana.
Duar !"
"Argh...!" Silvi berteriak ketika lampu padam dan seiring dengan suara guntur yang kuat.
Lalu seseorang memeluknya dari tangga tepat dimana dia berdiri.
Silvi pun reflek ikut memeluk tubuh itu juga, pelukannya begitu kuat dan dia sampai gemetar sangking takutnya.
"Sudah tak apa-apa sayang, ada mas disini." ucap Orang tersebut.
"Mas Pram?! ini kamu mas?!" Silvi bertanya.
"Iya, ini mas Pram. Kamu mau kemana kenapa keluar dari kamar mu?" tanya Pram yang masih memeluk Silvi gemetaran karena ketakutan.
"Sil.., Sil.., vi tadi mau beri mas selimut. Takut mas Pram kedinginan, jadi Silvi bawakan selimut untuk kamu mas." ucap Silvi yang sudah sedikit tenang.
"Ayo kita turun ke bawah, dan ke ruang tv." ucap Pram sambil menghidupkan senter dari ponselnya.
Silvi pun berjalan menuruni anak tangga bersama Pram, mereka berjalan menuju ruang keluarga.
Disana cukup terang karena ada cahaya dari luar lampu jalan.
Ternyata listrik di rumah Silvi rusak mungkin terkena petir saat tadi.
Jadi lampu di rumahnya pun mati tanpa sengaja, rumah Silvi menjadi gelap gulita.
__ADS_1
Silvi akhirnya tak mau balik ke kamarnya karena gelap, dia sangat takut dengan kegelapan.
Dan mereka berdua berada di ruang tamu malam itu, Silvi tidur di sofa kanan dan Pram tidur di sofa kiri.
Malam itu masih hujan deras dan juga sedikit dingin, namun rasa kantuk tak bisa membuat Silvi terus terjaga.
Akhirnya dia pun tertidur lelap di sofa itu dengan di temani Pram di seberang sana.
Pram menatap Silvi dalam diamnya dan lama-lama matanya terpejam dan tertidur juga di sofa.
Pagi sudah menyapa, matahari sudah cerah menyinari bumi.
Pram terbangun karena sinar cahaya itu yang terpantul dari jendela kaca yang di buka kain penutupnya.
"Selamat pagi mas.., apa hari ini mas hanya mau tidur saja tanpa ke kantor?" tanya Silvi yang sudah bersiap-siap dengan baju kantornya.
"Kenapa baru sekarang mas di bangunkan? Bisa terlambat nih ke kantor harus pulang ganti baju baru pergi ke kantor." ucap Pram yang sebenarnya masih mengantuk.
"Kenapa harus pulang mas.., ini ada baju yang aku sediakan. Ini baju punya mas Rian, pasti mas kok di badan kamu..," ucap Silvi yang menyuguhkan teh dan kopi.
" Silahkan di minum dulu mas, abis itu kamu mandi dan kita akan sarapan di ruang makan ya mas. Dan ini handuknya juga sudah aku sediakan." ucap Silvi yang sambil berjalan ke arah dapur dan ruang makan.
Pram sangat senang karena sudah lama tak ada yang melayaninya selembut dan penuh cinta seperti saat ini.
"Terima kasih sayang." ucap Pram ke Silvi yang sudah duduk untuk makan.
"Iya mas, itu tidak masalah kalau untuk melayani makan kamu hari ini." ujarnya Silvi.
"Benarkah itu cuma melayani sarapan atau makan saja? Bagaimana kalau yang lainnya sayang?" tanya Pram sedikit menggoda di pagi hari.
Silvi hanya melirik ke Pram dan melirik lagi ke tempat yang lainnya.
Wajahnya tampak memerah dan senyumnya tersimpan hingga hanya terlihat wajah yang malu saja.
Sarapan sudah selesai dan waktunya mereka pergi ke kantor, Pram mengantar Silvi ke kantornya. Lalu Pram pun pergi ke kantornya sendiri, Pram pagi ini ada rapat maka mobil di lajunya sangat kencang sekali.
__ADS_1
"Hallo Mira, tolong kau perhatikan apa yang saya ucapkan. Dan beri tahu staf yang akan ikut rapat pagi ini.
"Kali ini rapatnya jangan sampai tidak berhasil, saya tidak mau kalian membuat kesalahan."
"Saya sudah banyak keluarkan waktu ku untuk semua ini, tolong dicek kembali apa saja yang harus kita lakukan saat semua itu berhasil." ucap Pram menelpon sekretarisnya.
Pram sangat tegas dan teratur dalam menjalankan perusahaannya, makanya perusahaannya sangat berkembang dan maju sampai saat ini.
***
Sementara Rian dan Nita menjalankan tes dan pengecekkan kepala dan tubuh mereka yang lainnya. Kali ini banyak yang mau dicek kembali, Ct scan dan tes darah untuk di lihat serta yang lainnya.
Walau terlihat baik-baik saja namun kita tak tahu apakah akan sebaik yang terlihat. Jadi Rian ingin benar-benar aman dan sehat mengecek sekali lagi, setelah itu baru Minggu depannya mereka kembali ke America berkumpul bersama Bisma dan semuanya.
Rian tak sabar menantikan hal itu, tapi yang lebih tak sabar adalah Nita yang sudah ingin memeluk dan menggendong anaknya Bisma.
Nita dan Rian pun pergi ke rumah sakit itu lagi dan bertemu dengan dokter Gino, dia yang dari awal sudah menangani Rian dan Nita saat pertama kali di rumah sakit.
Dokter Gino sudah menyelamatkan nyawa mereka saat itu, dan Rian sangat berterima kasih karena selama 1tahun lebih dokter Gino menangani mereka dan tak pernah menyerah.
Kini dokter Gino akan mengecek kembali sekali lagi kepala mereka dan sel syaraf mereka yang ada di dalam kepala keduanya.
Nita hari ini terlihat segar dan bahagia, itu sangat baik bagi moodnya untuk kesembuhannya. Pemeriksaan pun di mulai dari Nita terlebih dahulu, semua di periksa dengan Ct scan.
setelah beberapa saat giliran Rian yang di periksa oleh dokter Gino. Dan hasilnya suster yang pegang sementara baru nanti dokter akan melihat dan membacakannya.
Nita diambil sedikit darahnya dan di bawa oleh suster tersebut agar segera di periksa ke laboratorium, setelah pengecekan darah Rian yang sebelumnya sudah diambil duluan.
Mereka pun keluar dari ruangan Ct scan dan duduk di ruangan dokter Gino saat ini. Dokter itu pun membacakan hasil dari Ct scan yang sudah dipegangnya.
Dokter Gino tersenyum dan mengatakan bahwa hasilnya sangat baik dan penyembuhan sangat bagus. Namun perlu dua hari lagi untuk mengetahui hasil dari pengecekan darah mereka nanti.
Jadi Rian dan Nita Minggu depan baru bisa kembali ke Amerika, itu pun tergantung dari hasil yang di terima.
Nita dan Rian berterima kasih untuk pemeriksaannya, semua biaya sudah Rian bayar dan tinggal menunggu hasil akhirnya saja.
__ADS_1
Mereka pun pulang ke apartemennya lagi dan menikmati kebersamaan berdua saja disana. Rian sangat bahagia bisa kembali kumpul dan bersama orang yang dia cintai itu Nita istrinya.
Dulu sempat akan kehilangan bila terlambat sedikit saja, mungkin Rian akan menyesal seumur hidupnya sekarang. Syukur ada yang lainnya mau membantu untuknya, apa lagi Panji yang memang jelas mantan Nita ikut serta dalam membantu mereka bersatu lagi. Rian sangat tahu Panji memiliki hati yang sangat mulia sekali.