
Sudah beberapa bulan berlalu, perut Linda semakin membesar.
Sekarang Linda tidak bisa pergi ke Brian itu lagi, dia tidak bisa menutupi perutnya.
Linda kini hidup hanya mengandalkan uang tabungannya yang dulu saat masih bersama dengan Panji. Sementara Panji memberi nafkah hanya sekedarnya saja, karena mereka belum resmi bercerai maka Linda masih menjadi tanggung jawabnya.
Linda pun bosan dengan tak adanya kegiatan dan hanya murung dirumah.
Sementara Yadi tak pernah menampakkan batang hidungnya ke Linda.
Yadi tak bisa dihubungi, apa pun yang sudah Linda perbuat, Yadi seperti hilang ditelan bumi.
Linda hanya ingin mendapatkan perhatian dan kembali ke Yadi, namun Yadi pergi menghilang dan tak tahu kemana.
Yadi sepertinya tidak ingin menanggung beban atas kelahiran anak Linda.
Yadi seperti sengaja meninggalkannya, dan pasti Linda akan mendesak untuk minta dinikahkan.
Sedangkan Panji hanya masih memberikan nafkahnya saja ke Linda, namun tidak untuk perhatian. Panji sudah lelah akan memberikan perhatian, sedangkan Linda hanya memberi kepalsuan.
***
Hari ini di kantin kantor, Ani dan Nita makan siang bersama. Namun Ani terlihat sangat gelisah dan seperti memikirkan sesuatu hal.
Dari tadi Nita memperhatikannya dan mengajak bicara, tetapi dia malah tak menanggapinya.
" An.., ani...?!" suara keras itu menyadarkan Ani seketika.
Ani : " Ada apa Nit ?" Maaf aku gak fokus saat kita bersama."
" An, ada apa sih dengan kamu ?" kok, dari tadi melamun terus aku lihat."
" Aku ajak ngomong kamu entah ngapain?" Nita dari tadi mengomel.
Ani : " Oke deh Nit, aku ceritakan saja padamu."
Nita mengerutkan dahi dan sedikit penasaran dengan ucapan Ani tadi padanya.
Ani : " Sebenarnya aku lagi ada masalah dengan hutang, orang tua ku yang berhutang tapi mereka memberikannya kepada ku."
" Sebelum ibu ku meninggal, ternyata ibu ku yang membayarkannya sendirian."
" Sedangkan ayahku cuma menikmati hidupnya sendiri saja."
" Sekarang ibuku sudah tidak ada dan ayahku kabur entah kemana, mereka mencari ku untuk menagihnya." ucap Ani yang menutup wajahnya dan pusing memikirkannya.
" Terus kamu bagaimana bertemu dengan mereka?"
" Kamu mau coba membayarnya atau bagaimana An..?" Nita menanyakannya dengan hati - hati agar Ani tidak terluka akan ucapan Nita.
Ani : " Aku tidak tahu mau bagaimana Nit, kalau pun aku membayarnya, ayahku akan terus menambah hutangnya lagi."
__ADS_1
" Emm.., kalau boleh tahu berapa hutang ayahmu An..?" Nita sedikit mengecilkan suaranya.
Ani : " Ada... 50 juta Nit." membisikkan ke telinga Nita yang ada disampingnya.
Nita terkejut akan ucapan Ani, dia harus membayar sebanyak itu.
Ani lalu terdiam lagi dikursinya, dia sepertinya mau bicara lagi tapi masih ragu.
" Mm.., Nit sebenarnya ada jalan untuk tidak membayarnya." Ani bercerita kepada Nita tentang kesepakatan orang tua terhadap anak - anaknya.
Tetapi Ani tidak mau kalau dijodohkan dengan mereka, dan lagi Ani masih ingin mengejar karier.
Ani sebenarnya mau melanjutkan kuliahnya ke jenjang yang lebih tinggi, agar bisa dipromosikan menjadi kepala cabang di daerah.
Nita yang mengetahui itu juga menjadi bingung. Dia juga jadi ikutan diam dan bengong bersama Ani.
Tiba - tiba saat itu juga mereka terkejut secara bersamaan.
Panji : " Hei.., kompak benar melamun..?!"
Panji menggebrak meja mereka dan mengejutkannya.
" Hayo.., sedang apa kalian..?"
" Kenapa pada diam saja bukannya pesan makanan." ucap Panji sambil tersenyum kepada Ani dan Nita.
Ternyata Nita tidak menyukai kehadiran Panji disitu, jadi Nita berdiri dan mengatakan kepada Ani, akan kembali ke ruangannya.
" Ani, aku minta maaf ya..?"
" Aku gak bermaksud kok An.." Panji berhenti bicara.
" Sudahlah Pan, aku maafkan." Ani pun berlalu darinya.
Panji hanya memandangi Nita dan Ani yang berjalan meninggalkannya di kantin itu.
***
Nita menyiapkan tugas kantornya dengan cepat, dan dia tidak ada istirahat dari tadi.
Begitu juga dengan Ani, dia rasanya ingin cepat pulang dan beristirahat.
Ani masih menginap di kosannya Nita, dia tidak berani balik dan tinggal sendirian.
Ani berencana akan pindah dan tinggal bersama Nita di kosannya.
Nanti pembayaran kosnya bisa bagi dua bersama.
Nita sudah mengantarkan berkasnya ke sekretaris pak Rahmat. Besok berkas itu akan di tandatangani karena itu Nita cepat menyiapkannya.
Nita tahu itu adalah berkas kerjasama dengan perusahaan besar Diego.
__ADS_1
Belakangan ini Nita sangat giat bekerja, dan selalu cepat dalam mengerjakan tugas. Sampai dia sekarang dipromosikan untuk mengelola di kantor cabang untuk tahun depan.
Nita ingin dipindahkan dan menjauh dari Panji, walau hatinya terasa sedih dan sakit karena Panji adalah pria yang dia cintai dari pertama kali masuk ke kantor itu. Jadi Panji merupakan cinta pertamanya, dan juga pertama kali dia merasakan jatuh cinta.
Walau mamanya Panji baik kepadanya, namun Panji itu suami orang lain. Nita tidak mau dituduh merebut suami orang yang istrinya sedang hamil buah cinta mereka.
Panji tidak pernah mengatakan apa pun tentang Linda, Panji hanya pernah mengatakan bahwa mereka akan bercerai.
Saat pulang dari kantor, Nita tidak sengaja melihat Linda ada disekitaran kantor, dan sepertinya dia sedang menunggu Panji didepan gerbang kantor itu.
Nita lalu tak melihatnya lagi, dia memilih tidak mengetahui apa - apa. Tetapi kok perasaannya tidak enak karena adanya Linda disekitaran kantor.
" Nit, ayo masuk.." kita makan diluar dulu yuk ?!" Aku lapar banget tadi siang kita gak jadi makan gara - gara si Panji." ucap Ani yang memanggilnya dari dalam mobil.
Nita pun masuk dan mereka pun pergi dari parkiran kantor pulang kerumah. Ani melajukan kendaraannya ke cafe tempat biasa mereka makan.
Ditempat itu juga ada teman mereka yang bekerja disana.
Mobil diparkirkan, Ani dan Nita masuk ke dalam cafe.
" Ani..!" seseorang memanggilnya.
Ani menoleh mencari sumber suara itu, namun dia belum menemukannya.
Nita sudah duduk dan memilih mejanya, namun Ani masih mencari suara yang memanggilnya tadi.
Seseorang datang menghampiri.
" Hai Ani..!"
" Masih ingat main kesini ya ?" tanya orang tersebut kepadanya.
" Ih Mario, ya masihlah... kami mau makan nih sudah lapar."
" Ceritanya nanti dulu yah, bawakan makanan yang enak untuk dua orang." Ani tak sabar untuk makanannya, dia langsung berjalan menuju meja dimana Nita duduk sekarang.
Mario datang dengan pesanan Ani tadi kepadanya.
" Loh An, kapan pesannya ?"
" Kok sudah datang saja makanannya, maaf mas mungkin salah meja masnya." Nita merasa mereka belum memesan sesuatu.
" Gak salah kok, Ani sudah pesan kepada saya tadi."
" An, ini teman kamu manis dan imut ya?" Mario menggoda Nita yang masih heran dengan makanannya.
" Kamu jangan ganggu dia, dimana si Boy kok gak nampak lagi ?" Ani mencari Boy teman Ani dan Nita.
" Boy sudah gak disini lagi, dia dipindahkan ke cafe cabang yang baru." Mario pergi meninggalkan mereka begitu saja.
" An, kamu kenal sama dia?"
__ADS_1
" Kamu sering kesini sendirian rupanya ya." Nita berbisik ke Ani dan bertanya tentang Mario temannya.