
Silvi dan mama menemui Nita di kamar pasien, mama sangat senang Nita sudah sadar dan memeluknya.
Silvi tidak berani mendekat, dia hanya duduk di sofa ruangan itu. Bukan karena takut dengan Nita, tetapi dia takut karena rasa bersalahnya tersebut.
" Silvi ?"
" Kok kamu disitu ?" tanya Nita lalu memanggilnya.
" Iya kak, aku tadi..." Silvi terhenti.
Nita memeluk Silvi dan dia menangis, Silvi semakin tidak kuasa menahan semuanya. Akhirnya Silvi pun berbicara ke Nita dan mengungkapkan perasaannya serta meminta maaf.
" Kak, maafkan Silvi ya."
" Gara - gara Silvi tinggali kakak malam itu jadi begini." ucapnya sambil menangis.
" Tidak Silvi, ini bukan salah kamu kok."
" Kakak saja yang tidak bisa menjaga calon anak kakak sendiri."
Tiba - tiba ada suara pintu di ketuk dari luar.
" Tok, tok, tok !" terdengar dari dalam ruangan.
" Permisi... " Selamat pagi bu Nita." ucap orang tersebut.
Ternyata Mira, Yanto datang mengunjungi Nita. Mereka dari semalam sudah bertanya dan pantau terus perkembangan Nita di rumah sakit.
Kini saat mendengar Nita sudah sadar, mereka pun datang menjenguknya.
" Kamu datang Mira ?"
" Terima kasih atas kunjungannya." ucap Nita.
" Iya bu, saya senang ibu sudah sadar dan akan membaik." Mira memberi supportnya.
" Oh, iya bu."
" Pak Rahmat memberikan cuti untuk ibu selama sebulan." Dan sementara kantor akan di pegang oleh bu Ani yang di utus oleh pak Rahmat." katanya lagi.
" Apakah Ani teman ku itu ?" bertanya dalam hatinya.
" Baiklah Nita nanti saya akan menghubungi pak Rahmat sendiri dan menanyakannya." kata Nita yang masih merasa ingin tahu.
Rian juga berterima kasih kepada mereka dan bersalaman, karena sudah menjenguk Nita istrinya.
Mira dan Yanto tidak berlama - lama disana mereka harus kembali lagi ke kantor dan banyak yang mau di kerjakan.
Mira dan Yanto pun pergi dari rumah sakit kembali lagi ke kantornya.
__ADS_1
Rian hari ini tidak jadi masuk ke kantornya, dia hanya ingin menemani Nita yang sudah sadar saat ini.
Sementara mereka semua kumpul, Silvi dan mama mengupas buah yang di bawakan oleh Mira dan Yanto tadi. Silvi menyuapi Nita dengan buah yang sudah dikupas bersih oleh mama.
Sementara Rian keluar untuk menelpon ke kantor dan memberi tahu pengawalnya untuk mengurus masalah kantornya.
Rian juga sempat keluar membelikan bunga dan bubur untuk istrinya itu. Rian selalu memanjakan Nita setiap saat, bahkan Nita sampai risih dengan Rian yang selalu memperlakukannya seperti ratunya.
@@@@@@@@@@@@@@@@@....
" Mas Yadi !"
" Mas, dengarkan aku dulu mas." kata Linda yang mencoba mencegah Yadi suaminya pergi.
" Awas !" Yadi membentaknya.
Yadi tidak dengar kata Linda dan tancap pergi dengan mobilnya. Yadi memang sudah mengurus perceraiannya Minggu lalu di pengadilan agama.
Dia sudah tidak ingin lagi bersama Linda, selain itu Maya jauh lebih baik dari Linda untuk perusahaan dan karir menurutnya.
Maya telah memberikan syarat untuk Yadi bila ingin perusahaannya kembali seperti semula.
Dan Yadi sebenarnya juga sudah berpikir untuk itu, Linda tidak mengerti tentang dunia bisnis.
" Kalau aku terus bersamanya bisa hancur perusahaan ku."
" Sangat berbeda sekali antara Maya dan Linda."
" Linda selalu menggunakan diri dan kecantikan untuk mendapatkan uang."
" Sementara Maya selain cantik dia menggunakan otaknya untuk mendapatkan uang yang jauh lebih banyak." hehehe..., sungguh wanita yang hebat." ucap Yadi sambil menyetir mobilnya kembali ke rumah orang tuanya yang lama.
" Besok aku akan bicarakan lagi masalah ini ke Maya dan aku akan meminta secepatnya uang itu untuk menangani hutang dan yang lainnya di kantor ku."
" Kalau begini terus karyawan ku bisa mengundurkan diri semuanya." ujarnya lagi.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
Nita hari Rabu sudah bisa pulang kerumah bersama keluarganya. Ruangan VIP rumah sakit itu seperti kamarnya sendiri dirumah.
Bahkan sangat nyaman, tempat tidur disana ada dua. Semuanya ada dan sangat lengkap, bahkan tempat tidur disana merupakan matras yang seperti dirumahnya.
Semua fasilitas itu disediakan Rian khusus untuk Nita agar nyaman saat berada disana.
Sekarang Nita juga ada seorang suster yang khusus untuk menjaganya.
Rian memperlakukan Nita bagai ratu di hidupnya, semua para suster dan dokter disana sangat iri padanya.
" Oh..., andai saja dia suami ku.." Aku pasti akan sangat senang sekali." kata salah satu suster.
__ADS_1
" Kau jangan suka menghayal deh.." kata temannya sesama suster.
" Hehehe..." suster itu tertawa karena malu.
Rian berjalan melewati mereka yang sedang berjaga malam itu.
" Oh.., aku meleleh rasanya."
" Seperti sedang melihat malaikat tampan saja."
" Hanny aku sepertinya tiba - tiba jadi tidak sehat." suster itu berkata.
" Ya, otak mu yang gak sehat saat ini.. !" tok !" Hanny memukul kepala temannya.
Rian memang sangat tampan, dan berkharisma sekali. Pembawaan tenang dan berbicara sangat lembut serta meyakinkan. Siapa yang tidak tahu dia dalam dunia bisnis, semua perusahaan mengenalnya karena dia hebat dalam bernegosiasi.
Rian juga sangat selektif dalam beberapa hal dan begitu perfek dalam urusan pekerjaan. Namun terlalu mencintai dan manja saat bersama Nita istrinya.
Saat ini Sammy dan Panji bekerja sama dengan baik, dalam beberapa bulan ini perusahaan sudah terlihat sangat baik perkembangannya.
Panji sangat senang dan puas dengan kinerja Sammy temannya.
Panji tidak lupa akan janjinya yang akan melanjutkan pendidikan anaknya Sammy. Kini kehidupan Sammy dan keluarga sekarang sedikit lebih baik.
Anak - anaknya juga melanjutkan pendidikan tinggi untuk mencapai cita - citanya.
Sammy sangat berterima kasih ke Panji yang sudah membantunya.
Perlahan rumah makan yang istri Sammy kelola semakin berkembang dan maju.
Mereka juga sudah pindah ke perumahan yang disediakan oleh perusahaan Panji.
Dion dan Manda juga sangat bahagia disana, bisnis mereka perlahan tapi pasti berkembang dengan pesat. Bahkan bisnis mereka sekarang sedang mendaftar ke dalam beberapa brand dan ingin bergabung bekerjasama.
Manda sekarang sudah mulai lebih baik dan kini dia sudah menjadi periang kembali. Dion sangat senang begitu juga dengan Panji yang mendengar kabar itu dari Dion adiknya.
" Selamat siang pak Panji, saya Lina dari perusahaan xxx." wanita itu mengulur tangannya untuk bersalaman.
" Dia sangat cantik dan lembut." berkata dalam hatinya.
" Oh, iya saya Panji dari perusahaan xxx." Selamat siang silahkan duduk." Panji berdiri dan mempersilahkannya.
Mereka sedang membicarakan tentang beberapa berkas yang ingin dibahas. Dion sudah beberapa bulan bekerjasama dengan perusahaan Lina.
Jadi Panji belum pernah bertemu dengannya, sedangkan dulu Dion ingin memperkenalkannya tapi Panji tidak mau menemuinya.
Tapi kali ini dia terpesona dan terpikat akan Lisa yang pembawaannya begitu lembut dan manis.
Jantung Panji berdetak sangat kencang dan dia terlihat sangat gugup tidak seperti biasanya yang sangat santai dalam membicarakan pekerjaan.
__ADS_1