PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU

PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU
Bab 87. USG


__ADS_3

Minggu ini Rian tak lupa untuk cek pemeriksaan Nita ke dokter kandungan Aisyah di rumah sakit ***. Biasanya mamanya saja yang menemani Nita, tapi sekarang Rian juga ikut menemani Nita dan mama ke rumah sakit.


Siang hari Nita pergi dari kantornya di jemput oleh Rian yang sudah duluan menjemput mamanya.


Mama mertuanya membawakan bekal siang untuk Nita makan di dalam mobil.


" Wah, mama repot- repot nanti kita juga akan keluar makan siang kok ma. Nita juga biasanya sudah pesan makanan di kantor khusus ibu hamil."


" Tapi..., Nita tahu kalau masakan mama itu paling enak banget dan juara di hati anaknya, ya kan mas...?" Nita menggoda suaminya.


" Iya dong...," kata Rian.


" hem, kamu ini paling bisa deh Nita..." mama memeluk Nita yang ada disebelah mama.


Nita dan mama duduk di belakang, sedangkan Rian yang menyetir di depan. Setelah beberapa menit mereka pun sampai di rumah sakit itu.


Mereka semua turun dari mobil dan masuk menemui dokter Aisyah secara langsung dengan suster yang mendampingi.


" Tok, tok," permisi bu Aisyah, ada pak Rian dan bu Nita yang ingin kontrol hari ini !" suster mengetuk pintu ruangan dokter Aisyah.


" Iya silahkan masuk," ucap dokter Aisyah.


" Silahkan bu, pak Rian. Mari silahkan masuk." ucap suster itu.


Mereka pun masuk ke dalam ruangan dokter Aisyah yang kebetulan sedang berada di ruang USG.


" Wah.., hari ini ada papanya yang mengantar untuk lihat debay ya ma..." kata bu Aisyah.


" Iya dokter, saya penasaran sama calon anak saya." Rian sangat antusias.


" Oke kalau begitu, bu Nita silahkan berbaring disini. Biar kita bisa melihat debaynya apakah dia setampan papanya atau secantik mamanya ya bu..?" dokter Aisyah berbicara pada mama Rian.


Nita pun berbaring dan suster mengoleskan krim khusus untuk bisa mengecek bayinya. setelah itu dokter Aisyah mengecek dengan alatnya dan melihat ke arah layar monitor.


" Masya Allah..., Alhamdulillah ya bu..., pak...anaknya sehat sekali."


" Ini air ketuban juga bagus dan juga semuanya normal. Nah ini jenis klam**nya." ujar dokter itu.


" Oke semuanya bagus, baiklah bu sudah selesai." ucap dokter Aisyah.


Mama mertuanya pun memapah Nita dan duduk di kursi depan meja bu Aisyah. Dokter Aisyah menulis resep di kertasnya dan memberikannya kepada Rian suami Nita yang duduk di sebelah mamanya.


" Bu Nita, selamat ya anak anda seorang lelaki yang tampan seperti papanya." ucap dokter itu.


" Alhamdulillah..., terima kasih dokter." ucap Rian yang sangat menginginkan anak lelaki.


Rian memeluk dan mencium istrinya, dokter itu tersenyum melihat mereka karena ikut bahagia.

__ADS_1


Lalu mereka pun pergi pamitan karena harus kembali lagi ke kantor saat itu juga.


" Sayang nanti pulang biar aku jemput ya, mobil biar Ani saja yang bawa." ucap Rian.


" Mas antar ibu dulu pulang ya ?" ujarnya lagi.


" Baiklah mas, ibu terima kasih sudah menemani." ucap Nita.


" Iya nak, hati - hati jaga cucu oma ya..?" mama tersenyum mengelus perut Nita.


" Dah mas, dah mama." Nita melambaikan tangan.


Nita pun jalan kembali ke dalam kantornya, dan tiba - tiba seorang karyawannya memanggil sambil berlarian.


" Bu Nita...!"


" Bu tunggu !" Mira memanggil.


" Ada apa Mira? kenapa kau berlarian di kantor, hati - hati dengan heels mu itu." ucap Nita yang sangat takut dia terjatuh.


" Hosh, maaf bu." hosh, hosh..., capek sekali. Bu ini salat yang biasa ibu pesan sudah datang dari tadi." ujarnya.


Nita pun menerimanya dan mengambil salat itu dari tangan Mira.


" Mira, terima kasih ya..., lain kali kalau sudah datang salatnya bawa atau letakkan saja di meja saya atau titip sama Ani asisten saya." ucap Nita ke Mira.


" Untung saya tidak memakannya tadi, besok saya pesan juga deh, sepertinya enak banget." Mira sedikit mengeluarkan air dari mulutnya.


Mira langsung pergi ke ruangannya lagi menyiapkan pekerjaannya.


Nita pun jalan perlahan dan berhati - hati, sekarang Nita setiap kerja tak mengenakan heels lagi. Dia hanya mengenakan sepatu atau sandal flat saja, karena dokter melarangnya untuk memakainya.


" Hai Nita, bagaimana keponakan ku di dalam sayang..., uh...!" Ani mulai lagi dengan tingkahnya.


" Dia sehat, dan semuanya normal kata bu dokter Aisyah." ujar Nita yang sedikit risih dengan Ani yang lebai.


" Ani, sudah deh..., kamu ini gak malu apa dilihat mereka? mereka menertawakan mu." Nita buru - buru masuk kedalam ruangannya.


" Ngapain aku malu, mereka saja yang norak. Aku kan cuma senang sama debay saja." Ani jadi cemberut.


" Iya deh tante Ani, mau tahu gak jenis kelamin aku tante...?" ujar Nita.


Ani tersenyum kembali dan menghampiri Nita.


" Apa jenis kelaminnya Nita? apa dokter sudah memberi tahukannya ?" tanya Ani penasaran.


" Sudah dong tante Ani, kata dokter aku tampan seperti papa ku." Nita tersenyum.

__ADS_1


" Oh..., gemasnya." Ani jadi gak sabar menantikannya keluar dan melihatnya secara langsung.


" Sudah - sudah, kerja lagi sana." ucap Nita yang mengusir Ani agar kembali ke tempat duduknya.


Ani pun pergi dan semangat lagi bekerjanya, Nita juga masih ada berkas yang akan dia tandatangani hari ini juga harus sudah selesai.


Lima jam kemudian...


" Hah..., penatnya badan ku ini... ?" tapi syukur deh sudah siap semuanya." kata Ani yang bersiap akan pulang ke rumah.


" Nita, kita pulang bareng yuk. Aku sudah siap." kata Ani sambil mengambil tas kecil yang ada di atas mejanya.


" Maaf Ani, aku nanti pulang sama mas Rian, katanya akan menjemput ku." ucap Nita yang masih menyusun berkas dan bersiap - siap.


" Oke deh kalau begitu, aku pinjam mobil ya, mau pergi sebentar. Nanti malam baru pulang. Dah Nita...!" Ani pergi begitu saja.


Nita pun mengenakan tasnya di bahunya dan berjalan sambil menundukkan wajah karena merapikan pakaiannya.


" Bug !"


" Ah..., maaf ?!" kata Nita.


" Cuma minta maaf? ini harus ada hukumannya." terdengar suara Rian di hadapannya.


" Mas Rian ?! sudah dari tadi menunggu atau baru datang ?" Nita terkejut.


" Baru saja, dan sudah di tabrak sama bumil cantik dan menggemaskan." ucapnya.


" Huh! gak mas Rian, gak Ani, kalian kok bilang aku menggemaskan sih ?!


Emang aku baby yang menggemaskan...?" Nita ngomel sambil jalan turun kebawah dan menuju ke parkiran.


" Nita, tapi benar yang dibilang Ani kamu dan perut mu sangat menggemaskan sayang..." Rian berbisik ke telinga Nita saat sudah di dalam mobilnya.


" Terserah deh..!" Nita kesal tapi padahal suka.


Gak tahu kenapa dia begitu, bawaan ibu hamil memang banyak sekali yang aneh dan gak seperti biasanya.


Nita juga terkadang heran, makanan yang biasa dia tak suka tiba - tiba dia jadi suka memakannya.


Sekarang lebih suka makan, dan ngemil terus. Rian dan Ani suka bilang menggemaskan karena tubuh Nita sudah naik 10 kilo sekarang. Jadi mereka suka sekali melihat Nita, namun Nita merasa seperti di ejek tapi suka.


" Aku jadi bingung, mereka gemas karena aku gendut. Tapi aku suka...." Nita senyum - senyum sendiri.


Rian melihat istrinya yang tersenyum sendiri menjadi tersenyum juga.


"Pesona wanita hamil satu ini membuat aku ingin menerkamnya saat ini juga...!" dalam hati bergumam.

__ADS_1


__ADS_2