
Nita semakin bagus dalam kinerjanya dikantor, dia sangat berprestasi dan bahkan hasil kerjanya sangat memuaskan.
Ani juga gak kalah dari Nita, mereka sama - sama bekerja keras dan saling mensuport satu sama lain.
Ani sudah pindah ke tempat Nita, setiap hari mereka pergi dan pulang bersama.
Mereka tidak menghiraukan isu - isu atau fitnahan apapun ke diri mereka. Yang mereka tanamkan hanya fokus dengan kehidupan diri dan pekerjaan.
***
Bulan ini genap sudah usia kandungan Linda 9 bulan. Kurang dari dua minggu lagi dia akan melahirkan anak keduanya.
Mama Panji tidak terlalu bahagia saat Linda datang dan memberi kabar akan hal itu. Linda datang kerumah mencari panji disana, namun Panji keluar bermain futsal bersama temannya.
***
Minggu depan Nita dan Ani akan dipindahkan di kantor cabang.
Nita memegang bagian kepala kantor cabang di daerah Singapura, sementara Ani memegang di daerah Batam untuk sementara.
Setelah ada orang yang diutus, Ani akan ikut Nita ke Singapura.
Hutang ayahnya Ani sudah terbayar separuh, Nita ikut membantu melunasinya. Ani sangat berhutang budi kepada Nita, dan Nita tipe teman yang sangat setia bila berteman.
Panji tidak tahu akan hal Nita dan Ani akan dipindahkan. Karena Ani dan Nita selalu menjauhinya, dan mereka tak pernah lagi kumpul bersama. Panji juga berniat untuk sementara tidak menyapa, dia merasa bersalah karena kelakuan Linda terhadap Nita.
***
" Tolong...!!"
" Tolong...!"
" Perutku sakit sekali, ponsel..., Rin.., Ririn tolong ambilkan ponsel ma.. ma..." Linda terbata - bata karena kesakitan.
" Tut..., tut..., mas angkat telpon ku mas.., mas Panji..."
"Ririn telpon oma saja."
" Tolong..., sakit.., tolong..., perut ku sakit sekali..!" Suara Linda terdengar oleh Nisa kerabatnya yang kebetulan sedang melintas dari warung.
" Linda.., kamu kenapa ?!" Nisa terkejut sudah ada darah yang mengalir dilantai.
" Astagfirullah Linda..!!" Nisa berteriak.
" Mbak, tolong sakit sekali perut Linda.., argh.." Linda kembali kesakitan.
" Iya Lin, mbak akan bawa kamu kerumah sakit."
" Tunggu mbak minta bantuan dulu ke warga." Nisa berlari meminta bantuan ke tetangga mereka, dan membawanya kerumah sakit.
Ririn yang dari tadi menelpon Omanya tidak ada jawaban, sekarang Nisa yang mencoba menelpon dan memberi tahu kalau Linda sedang dalam perjalanan kerumah sakit untuk melahirkan.
Mama Panji hanya menjawab datar dan tidak begitu senang akan kehadiran anak itu sebentar lagi. Panji yang baru pulang dari kantornya, tidak langsung diberi kabar pada mamanya.
Dibiarkannya Panji mandi makan dan beristirahat tidur dikamarnya.
__ADS_1
Mamanya Panji juga tidak pergi kerumah sakit untuk melihat Linda disana.
Linda hanya ditemani Nisa dirumah sakit itu, dan juga Ririn.
Sudah satu jam, anaknya tak kunjung keluar juga.
Linda menjerit - jerit menahan sakitnya, sesekali sakit itu berhenti dan mulai datang kembali.
Linda sampai kelelahan dan tidak bertenaga, dia sudah lemas dan tak sanggup untuk meneruskan lahiran secara normal.
Maka dokter akhirnya menyarankan untuk mengoperasi Linda secepatnya, air ketuban juga sudah mulai sedikit dan tidak memungkinkan untuk melahirkan normal lagi.
Akhirnya Nisa menyiapkan dan menandatangani segala urusan untuk operasi Linda.
Tidak ada keluarga yang lain maka Nisa lah yang mewakili dari pihak keluarga.
Malam itu juga Linda operasi caesar, Ririn dan Nisa menunggu diluar ruangan sudah 2 jam namun belum ada satu suster pun yang keluar memberi tahukan keadaan Linda dan anaknya.
Nisa juga berfikir kenapa mertuanya Linda dan Panji suaminya tak datang untuk melihatnya. Nisa ingin mencoba menelpon kembali namun dia takut akan mengganggu mereka, karena sudah jam 12 malam sekarang.
Sudah lama Nisa menanti dan Ririn sudah tertidur dikursi tempat mereka menunggu, akhirnya suster keluar juga memberikan kabar.
Suster : " Selamat bu, bayinya Perempuan yang cantik, keadaan ibu dan anak sehat."
" Namun mamanya masih lemah karena kelelahan saja."
Suster itu masuk lagi kedalam dan meninggalkan Nisa ditempat itu lagi.
" Syukurlah Linda dan anaknya dalam keadaan sehat dan selamat."
" Terima kasih ya Allah.." ucap Nisa bersyukur.
***
Mamanya mengatakan bahwa Linda sudah melahirkan, dan anaknya perempuan.
Pagi - pagi sekali Nisa mengirimkan pesan dari ponsel Linda memberi kabar akan kelahiran cucunya.
Panji yang mendengar kabar itu hanya diam saja dan tidak ada perkataan apa pun, dia hanya cuek dan memakan sarapan nasi gorengnya.
" Kamu tidak ingin melihatnya nak?" tanya Mamanya kepada Panji.
Panji terdiam dan berhenti makan sejenak.
" Panji tidak ingin melihatnya ma, karena itu bukan anak Panji."
" Panji sedikit pun tidak pernah menyentuhnya.
" Kalau mama mau melihatnya, mama saja yang pergi menjenguknya." ucap Panji penuh kesal.
Mamanya Panji mengerti bagaimana rasa kecewanya hati anak satu - satunya itu.
"Linda yang memang tidak tahu diri, dan malah memanfaatkan kebaikan dari Panji dan aku." Mamanya bergumam dalam hati.
Panji lalu pergi ke kantornya dan berpamitan, dia cukup tidak bahagia pagi ini.
__ADS_1
Mama berniat ingin melihat Linda dirumah sakit, dan bukan hanya itu saja, mama juga ada maksud dan tujuan datang kerumah sakit itu.
Rasa penasaran mama akan anak yang baru saja lahir dan juga Ririn yang sudah lama lahir.
Semua akan terbongkar dan bukti - bukti akan segera ditunjukkan kepada Linda, sehingga dia tidak bisa berkata apa - apa lagi saat itu juga.
Mama berberes dan segera pergi dengan motor Panji yang lama, diantar ke rumah sakit saat itu juga oleh mbak pelayan.
Mamanya Panji menemui Linda diruangannya, terlihat Linda sedang terbaring disana.
" Mama..?"
" Mama kesini sama siapa ma?"
" Mas Panji mana ma?" Linda sangat bersemangat mencari keberadaan Panji.
" Tidak ada Panji disini, dia berangkat kekantornya dan mama disini bersama mbak." Mama menjawab dengan sedikit ketus.
" Ma, cucu mama cantik sekali loh ma.., dia ada diruang baby."
" Mama sudah melihatnya ?" Linda mengalihkan perhatian ke anak yang dia melahirkan.
" Linda, mama tidak mau basa - basi lagi kepada mu."
" Coba kamu mengaku anak siapa yang kamu lahir kan itu?"
" Panji mengatakan tidak pernah menyentuh mu, lalu kenapa kamu bisa mengandung anaknya?!" Mama mertuanya langsung menanyakan hal tersebut.
Linda terkejut akan ucapan mama mertuanya.
" Kenapa mama bilang seperti itu ma..., ini anak mas Panji."
" Ini cucu mama, ma...!" Linda meninggikan suaranya.
" Apa kamu berani tes DNA kalau memang itu anak Panji?"
" Bahkan mama juga ragu akan Ririn anak pertama mu !"
" Jangan kau permalukan dirimu dan juga kedua orang tuamu yang selalu bersikap jujur dan baik." mertuanya Linda lalu pergi meninggalkannya di rumah sakit.
Mertuanya tidak melihat bagaimana rupa bayi itu.
Linda menangis dan sangat sedih, tidak ada yang mengerti dengan kondisinya sekarang.
Namun Nisa menenangkan dirinya, agar tidak terjadi sesuatu hal yang menyebabkan fatal bagi ibu abis melahirkan.
Mamanya Panji pun langsung pulang dan tidak mau lagi melihat Linda dirumah sakit.
Linda kini Nisa yang mengurus dan merawat Ririn.
Biaya rumah sakit tetap Panji transfer ke Linda, selama mereka belum bercerai Linda masih tanggungannya.
Panji mencoba menjadi seorang pria dan suami yang bertanggung jawab.
Namun untuk bersama lagi, Panji tidak akan kembali dan menerimanya lagi.
__ADS_1
Panji rasa itu sudah cukup untuk tidak membahagiakan hati.
Dan sekarang sudah saatnya mencari kebahagiaan diri sendiri.