
Panji dan Sammy menyelidiki dengan secara langsung dan tanpa Bella tahu.
Ramon alias Rian semakin terdesak setiap bertemu mereka.
kali ini Ramon melihat foto Nita dan anaknya, tapi dia masih belum mengenalnya juga.
Ramon akhirnya marah kepada mereka karena menyebarkan ke bohongan kepada dirinya.
Sore itu kepala Ramon sakit sekali, bahkan tak bisa dia tahan.
" Agh..., kepala ku....! kepala ku...!"
" Tolong kepala ku sakit sekali...!"
Ramon di larikan ke rumah sakit oleh karyawan dan sekretarisnya, mereka memberi kabar pada Bella istrinya tentang ke adaan Ramon saat ini.
" Apa kau bilang?! baiklah aku akan kesana sekarang juga." ucap Bella yang panik akan hal itu.
Balla pun mulai tancap gas mobilnya untuk pergi kesana, dia sedikit takut kalau Rian akan sembuh ingatannya.
Bella berlari dan menyusuri loby rumah sakit itu, lalu bertanya tentang keberadaan Rian.
" Suster, suster...! dimana suami saya Ramon, hah, ha,ha.." nafasnya tersengal.
" Pak Ramon ada di ruangan pelita 6 nomor 10 ibu." kata suster itu.
Bella langsung pergi tanpa mengatakan terima kasih kepada suster tersebut, dia sangat terburu - buru ingin tahu keadaan Rian atau Ramon saat ini.
Suster itu hanya melihat Bella yang pergi tanpa pamit tersebut sambil menggelengkan kepalanya.
" Rian..., kau tidak boleh sembuh dulu. Aku tak memberi izin kepada mu untuk sembuh. Kau hanya milik ku seorang." kata Bella dalam hatinya.
Bella sudah di depan ruangan Ramon dia segera masuk dan mencari keberadaan lelaki itu.
" Ramon ! Ramon kau tak apa - apa sayang?!" Bella berperan sebagai istri yang baik di depan dokter yang masih memeriksanya.
" Entahlah tadi kepala ku sangat sakit sekali, aku tak bisa menahannya sedikit pun. Kepala ku seperti di pukul - pukul dan berdenyut tak tertahan." ujar Ramon kepada Bella.
__ADS_1
" Dokter ada apa dengan suami saya dok? kenapa bisa begitu?" Bella bertanya kepada dokter tersebut.
" Itu wajar terjadi kepada orang yang hilang ingatan, semua itu karena adanya usaha untuk mengingat masa lalu, atau memori yang akan muncul. Tapi pak Ramon tolong jangan di paksakan, nanti kepala anda akan mengalami sesuatu yang fatal." ucap Dokter itu.
" Apa dok? saya hilang ingatan bagaimana?" Ramon bertanya karena merasa heran.
" Oke dokter terima kasih kalau begitu,apakah pak Ramon sudah boleh pulang dokter?" Bella sangat kesal dengan dokter itu.
" Oh, sudah boleh pulang kok bu, silahkan bawa pak Ramon pulang, dan beliau perlu istirahat." Bella langsung bersiap dan ingi membawa Ramon pulang ke rumah saat itu juga.
Saat di perjalanan pulang...
" Bella, apa yang di maksud dokter tersebut Bella? Aku amnesia gitu? Coba kau jelaskan pada ku Bella?!" tanya Ramon lagi.
" Bukan mas..., dokter itu tadi bilang kepala mu hanya sudah pulih dari kecelakaan itu memang begitu. Tapi kalau kamu tadi amnesia mungkin akan fatal lagi. Cuma itu saja yang dokter itu maksud, kamu saja yang salah dengar kali mas..." Bella mencoba menutupinya dari Rian.
" Apa benar begitu?" tanya Ramon lagi.
" Iya mas..., kamu kan lagi sakit kepalanya jadi gak fokus apa yang dokter itu tadi bilang ke kamu." Bella menegaskan sekali lagi.
" Tapi Panji dan Sammy selalu berkata aku sudah di permainkan dan bahwa aku itu sedang amnesia. Siapa yang harus ku percaya? Bella? atau mereka?" Ramon menjadi pusing dan mulai sedikit sakit lagi kepalanya.
" Dokter kurang ajar, hampir saja Rian tahu kalau aku sedang membohonginya." gumam Bella yang sedikit marah dengan dokter itu.
" Akan aku tutup rumah sakitnya itu, biar tahu siapa aku ini." ucapnya lagi dalam hati.
Mereka sudah sampai di depan gerbang rumah Bella.
" Tin...., tin, tin, tin...." Bella menekan klaksonnya terus menerus.
Bella terlihat marah dan kesal saat itu, satpam rumah itu langsung berlari membuka gerbang pintunya dengan secepatnya.
" Brengsek kalian ya, lama sekali membuka gerbang saja!" Bella mengomel kepada satpamnya.
" Maafkan saya bu, tadi sedang makan siang." ucap satpam itu.
" Makan saja yang kalian tahu, aku pecat nanti kalau gak becus bekerja!" Bella tambah naik darah.
__ADS_1
Bella dan Ramon masuk kedalam rumah, dan Bella mengajak Ramon untuk makan siang dahulu. Baru akan beristirahat dan meminum obat yang diberikan oleh dokter itu tadi.
Setelah itu Bella pun menyuruh art nya siapkan obat untuk Ramon dan minumannya. Sedangkan Bella pergi dan tak memperdulikan Ramon saat itu, dia kesal dengan semuanya.
Akhirnya Bella pergi dan mempercepat pesta resepsi mereka, semua diaturnya dengan menelpon saja dan semua beres.
" Sepertinya aku harus mempercepat dan aku harus sudah tercatat di catatan sipil bahwa aku adalah istri yang sah dari agama dan negara." dalam hatinya.
Bella pun datang fitting baju dengan butik ternama di negara mereka.
Semua sudah dia beri tahu sanak dan saudaranya, serta teman - teman kumpulnya yang kaya raya.
" Mbak aku ingin terlihat sangat cantik di acara ku nanti, dan baju malamnya aku mau yang terlihat seksi dari yang lainnya." kata Bella yang mau terlihat sempurna penampilannya.
" Oke mbak, aku akan buat mbak menjadi princess dan malamnya bagai penggoda yang terseksi disana." ucap Desainer itu.
Kue pernikahan juga sudah di pesan 6 tingkat dan sangat mewah sekali.
Bella mau nanti semua warna dekor itu emas dan merah maron yang penuh dengan bunga putih dimana - mana.
Bella memiliki sifat yang egois dan mendominasi semua orang, karena dia anak satu - satunya pewaris dari Nugraha yang selalu di manja papanya.
Hari itu semua sudah diurusnya semua, Bella juga sudah menelpon Imel agar bulan depan datang untuk menikmati perayaan pesta pernikahannya dengan Ramon alias Rian.
***
Ani malam itu memberi tahukan kepada Aris tentang sebuah rencana mereka, dia juga menceritakan kalau tempatnya juga sudah di ketahui dan tepatnya ada di Singapura.
Dan Aris langsung bergerak bekerjasama dengan keamanan disana, dan mengarahkan kalau bulan depan mereka akan kesana dan menemuinya.
Semua polisi dan keamanan sudah mempersiapkan dan memantau serta mencari tahu keberadaan Rian, namun masih dalam pantauan saja.
Panji juga sering mengirim foto - foto saat dia bersama dengan Nita. Dan memberikan nama perusahaan miliknya, namun Ramon tak mengatakan ke Bella bila itu semua dari Panji.
Nomor pengirim itu di sembunyikan dan selalu mengirimkan semua identitas asli dirinya. Foto mama, adiknya Silvi, kebersamaannya bersama keluarga, terutama dengan Nita yang saat itu tengah mengandung anaknya.
Ramon mulai pusing dan sedikit - sedikit terbayang wajah Nita, saat mereka pertama kali kenal dan berjumpa di pantai.
__ADS_1
Semua mulai terbesit di kepalanya, dan mendapat respon dari kepalanya sedikit dan perlahan.