
π Nita hari ini seperti yang di pesankan Rian tidak pergi ke kantornya. Karena Rian tahu pasti Nita tidak tidur menantikan dirinya. Pukul 5 : 00 pagi Nita baru terlelap tidur di kasurnya. Sekarang sudah pukul 6 pagi Rian bergegas pulang kerumah dan meninggalkan Shella disana sendirian.
Rian berjalan ke pos satpam kantornya, dan menyuruh satpamnya untuk membangunkan Shella dan menyuruhnya pulang kerumah kalau masih mau tidur.
" Tolong saya ya pak, dan satu hal lagi kunci ruangan saya."
" Kalau ada berkas atau apa pun minta Lita saja yang menyimpan atau mengantarkannya ke rumah saya."
" Hari ini saya mau pulang menemui istri saya dan tidak kembali lagi ke kantor." ucapnya.
" Baik pak !" kata satpam dengan tegas.
" Siap laksanakan, pak...!" ujar satpam itu lagi.
Rian pun menyalakan mobilnya dan melaju ke jalanan menuju rumahnya.
Rian sangat merasa bersalah kepada Nita, dia hampir berkhianat karena godaan dari Shella.
Namun Rian segera sadar dan menahan dirinya dari Shella karyawan magangnya.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
" Bu !"
" Bu...!"
" Bu Shella..., ayo bangun pak Rian mengatakan kamu harus pulang kerumah dan istirahat dirumah."
" Hari ini tidak usah bekerja dulu, pulanglah kerumah." ucap satpam itu.
" Em... ?" Shella terbangun dengar suara itu.
Shella pun melihat sekelilingnya dan mencari Rian atasannya dikantor.
" Dimana pak Rian pak ?" tanya Shella sambil mencarinya.
" Pak Rian sudah pulang dari tadi kerumahnya untuk menemui istrinya." kata satpam itu lagi.
" Ayo bu, segera keluar dari sini."
" Saya mau menutup ruangan pak Rian sekarang." kata satpam dengan tegas.
" Iya... !"
" Ih !"
" Bawel banget sih !" berbicara pelan.
Shella merapikan pakaiannya dan keluar dari ruangan Rian, satpam itu pun menutup dan mengunci ruangan Rian.
Shella pergi dan membawa tasnya dengan menyetop taksi untuk pulang kerumahnya. Shella masuk ke taksi dengan masih mengantuk sekali, tubuhnya lunglai dan bersandar di kursi taksinya.
" Kita mau kemana ya nona ?" supir taksi bertanya.
" Nona !"
" Em..., jalan Mawar nomer 10." ucap Shella yang kembali memejamkan matanya di bangku belakang taksi tersebut.
Taksi berjalan menuju apa yang di katakan Shella tadi. Supir itu sesekali melihat ke arah Shella yang tertidur lagi di kursi.
" Anak jaman sekarang begini tingkah lakunya."
" Tidak pulang, mabukan dan suka sekali pulang pagi." supir itu menggelengkan kepalanya.
Melihat kondisi Shella yang acak - acakan dan baju yang kurang bahan baginya. Shella tidak perduli dengan guncangan yang membuat dia terpelanting sana dan kemari.
" sit.... !" suara rem mobil yang berhenti secara tiba - tiba.
Shella terhempas dan terbangun dari tidurnya, berusaha untuk membetulkan posisi duduknya kembali.
" Pak, kamu tidak bisa pelan mengemudinya ?" tanya Shella.
__ADS_1
" Maaf bu, ini sudah di depan rumah nomer 10."
" Apa ibu bisa turun sendiri ?" tanya bapak itu, dikiranya Shella sedang mabuk saat itu.
" Ya bisalah kamu pikir aku lumpuh apa sampai gak bisa jalan sendiri."
" Jangan ambil kesempatan dong pak ya ?" ucap Shella kesal.
" Rian - Rian, kalau kamu antar aku pulang pasti gak bakal begini jadinya." berbicara sambil turun dan keluar dari pintu taksinya.
" Nih uangnya, ambil !" kata Shella mencampakkan uangnya dari balik jendela kaca pintu taksi itu.
" Lain kali jangan pernah stop taksi saya lagi ya bu.. !"
" Brum..."
Taksi itu melaju kembali meninggalkan Shella dan pergi. Supir itu sangat kesal karena penumpangnya tidak menghargai kerjanya.
Shella tertatih - Tati saat masuk kerumahnya, dia juga terlihat sangat kusut dan acak - acakan.
" Duh yang baru pulang cari mangsa lagi." ucap teman kosnya Nina.
" Dapat berapa hari ini bu ?"
" Kerja lemburnya padat banget apa nikmat banget tuh ?!" Nina menyindirnya.
" Ham... !"
" Diam deh kamu, aku ngantuk sekali nih."
" Ingat jangan berisik !" kata Shella.
Nina pun cemberut dan mengepalkan tangannya.
" Hu..!"
" Mau ku hajar juga nih orang." Nina mencoba ingin meninjunya.
" Bagaimana cara mendapatkannya ya ?" dalam hati Shella bertanya.
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
Rian pulang dan langsung pergi ke kamarnya, mencuci wajahnya dan membuka kemejanya meletakkan di dalam ke ranjang pakaian kotor.
Dia melihat Nita masih tidur di atas kasur mereka. Rian menghampiri dan naik ke atas ranjang masuk kedalam selimut Nita.
Perlahan mendekap tubuh Nita istrinya itu, dan mencium pipinya.
" Aku sangat merindukan mu tadi malam sayang." bisik Rian ke telinga Nita.
" Em.., mas Rian ?"
" Kamu sudah dirumah.. ?" tanya Nita.
" Sssssttttt.... !" Rian menutup mulut Nita.
" Sudah jangan bicara lagi, mas mau menikmati ke bersamaan kita." ucap Rian yang menutup matanya.
Nita dan Rian pun tidur kembali, mereka sangat mengantuk sekali hari itu, karena malamnya sama - sama tidak bisa tidur memikirkan satu sama lainnya.
Hari itu sangat dingin sekali, salju masih turun namun tidak begitu lebat. Nita dan Rian tidur dalam satu selimut yang hangat.
Mereka sepasang pasutri yang selalu sangat romantis sekali.
Silvi pagi itu tidak ada mata kuliah, dia menemani mamanya dirumah.
Hari ini mamanya akan memasak sesuatu, Silvi sangat ingin membantunya.
" Ma, mama mau buat kue ya ?"
" Kita nanti ke rumah kakak yuk ma ?!"
__ADS_1
" Sekalian makan kuenya disana saja, bagaimana ?" tanya Silvi.
" Iya juga ya ?!"
" Sudah lama gak main dan melihat kakak ya Sil ?" kata mamanya.
" Ayok lah kalau begitu."
" Kamu telpon dulu kakak ya Silvi." perintah mamanya.
" Oke ma, sip." Silvi sangat senang sekali karena mau kesana.
π " Hallo kak !" ucap Silvi.
π " Iya Silvi, ada apa ?" Rian bertanya.
π " Kakak jam berapa pulang dari kantor ?"
" Mama mau main kerumah kak ?!" ucapnya lagi.
π " Oh, ini kakak sedang dirumah, dan tidak masuk kantor Sil... ?!"
π " Kalau kamu dan mama mau datang dan main bisa sekarang kok." ujar Rian kepada adiknya.
π" Ya sudah kak, kalau begitu." Silvi langsung menutup ponselnya tanpa berpamitan atau ucapkan salam.
Rian hanya menggelengkan kepalanya saja. Sementara Nita sedang memasak sesuatu untuk suaminya yang sedang ada dirumah.
Nita kali ini sedang memasak soto yang disukai Rian.
Saat bangun dari tidur tadi, Nita punya ide akan memasak soto dan makan berdua di taman belakang rumah mereka.
Nita yang menata dan mengatur semuanya sendirian.
Aroma soto mulai tercium di hidung Rian, dia yang menonton tv jadi tidak bisa fokus ke tv nya.
" Hem..., harum sekali membuat ku lapar jadinya." gumam Rian.
Rian berjalan dan mencari aroma itu berada dimana. Dilihatnya di dapur tidak ada yang sedang memasak disana. Lalu dia bertanya pada art nya keberadaan Nita saat ini.
"mbak !"
" Bu Nita ada dimana ?" tanya Rian.
" Oh ada di taman belakang pak." ucap art itu.
" Ngapain Nita disana mbak ?" tanya nya lagi penasaran.
" Ibu lagi masak disana pak." ujar art itu yang sedang menyiapkan piring dan mangkuk serta yang lainnya.
Rian sangat ingin tahu, jadi dia bergegas jalan ke taman belakang. Disana memang ada dapur mini yang hanya sekedar untuk pesta kecil.
Namun Rian berpikir hari ini tidak ada yang berulang tahun atau mengadakan pesta.
Dan hidungnya semakin mencium aroma kuat itu. Rian melihat Nita sedang sibuk mengaduk sesuatu di pancinya.
" Wah sayang kamu buat soto kesukaan aku ya sayang... ?" tanya Rian sumringah.
" Iya mas, tadi kepikiran pengen buat soto saja." jawab Nita datar.
" Pas dong, mama dan Silvi juga mau kesini."
" Jadi kita bisa makan bareng, tadi Silvi telpon mas."
" Mama pengen main kesini katanya." ucap Rian lagi.
" Oh ya ?"
" Makin rame dong." bentar lagi juga Ani akan sampai dirumah." Nita sangat senang.
" Em, mbak tolong ditambah lagi yah piringnya." Terima kasih." ucap Nita lagi.
__ADS_1