
Hari ini adalah hari pertunangan antara Silvi dan Pram. Semua orang sedang mempersiapkan diri, tak terkecuali Silvi yang ingin tampil cantik malam ini.
Pram sudah mempersiapkan semuanya, menu makan malam dan tempatnya pun sudah di booking jauh hari. Silvi pun hari ini sangat merasa gugup karena baru pertama kali dia akan dilamar.
Ani hari ini tidak ikut menghadiri, dia merasa kecapean dan dokter menyuruhnya untuk istirahat dirumah saja. Karena Ani sudah mulai masuk kerja dan begitu banyak berkas yang harus di kerjakan.
Sekarang Aris lebih perhatian ke Ani karena sudah mengetahui kalau Ani sudah mengandung anaknya. Dan Aris sangat bahagia sekali karena sudah lama mereka menunggu kehadiran calon buah hati itu.
🗓️ Flash Back
Malamnya Aris bangun dan mencari Ani di dalam kamar namun tidak ada. Lalu Aris bangun dari kasurnya dan berjalan mengambil handuk untuk segera mandi.
Aris pun mandi namun dia lupa untuk mencari pakaiannya. Aris yang mengenakan baju handuknya membuka lemari pakaiannya dan mencari pakaian disana.
Aris pun menemukan pakaiannya saat itu, Aris melihat kearah meja kecil yang ada di kamarnya. Ada teh dan camilan yang sudah dingin disana, Aris baru menyadari kalau saat pulang ke rumah dia meminta teh kepada Ani. Setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi dan sudah tak sadarkan diri.
"Ani..?!"
"An.., kamu dimana?" tanya Aris yang mencarinya.
Nita tiba-tiba mengintip dari samping dan meminta Aris datang ke tempatnya. Aris pun menuruti perintah Nita tersebut, dan melihat kearah yang di tunjuk Nita saat itu.
Aris melihat ada Ani disana, dia tertidur saat sedang menonton tv.
Saat itu wajah Aris cukup sedikit muram dan seperti ada masalah. Namun dia tak menceritakannya
Aris menggendong Ani masuk ke dalam kamar dan menyelimutinya.
Tiba-tiba Ani terbangun dan tak bisa tidur lagi, dia memperhatikan Aris yang diam saja duduk ditepi ranjang.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Ani yang sangat khawatir.
"Sayang..," badannya berbalik melihat Ani yang bertanya.
"Mas bingung, mama dan papa sakit disana. Dan mas mau pulang kesana tapi..." Aris tidak melanjutkannya
__ADS_1
Ternyata sikap Aris yang diam itu karena orang tuanya yang sakit disana dan terpikir olehnya. Ani pun sekarang mengerti, ternyata Aris lagi banyak pikiran dan dia hanya diam saja.
"Pergilah mas, aku tak bisa ikut kesana, karena ada suatu hal. Dan dokter juga berkata aku tak boleh kecapean untuk beberapa bulan ini." ucap Ani dengan lesunya.
Ani berpura-pura dengan wajah yang sedikit sedih agar Aris penasaran. Dan itu terbukti Aris menjadi khawatir dengan ucapan Ani. Mata Aris sedikit teduh dan wajahnya menjadi kasihan sekali kepada Ani.
"Kamu sakit sayang? Apa kata dokter? Kamu sakit apa sayang?" Aris terus bertanya kepada Ani.
Tapi Ani malah berjalan ke arah lemari dan membuka laci mengambil sebuah kotak kecil warna merah disana. Ani pun kembali menghampiri Aris dan menyerahkan kotak kecil itu.
Aris sedikit heran dan penasaran, hingga dia bertanya pada istrinya Ani.
"Ani, ini apa? Mas tidak berulang tahu kok hari ini." kata Aris.
"Mas, ini hadiah untuk kamu. Dan memberikan hadi itu tak perlu ketika berulang tahun kan mas...?!" pekik Ani.
Aris pun hanya diam dan memperhatikan kotak merah kecil itu. Tangan Aris mulai bergerak ingin membuka kotak merah maron itu.
Ani tersenyum melihat ekspresi Aris yang sangat penasaran.
Dia memperhatikannya sampai beberapa menit kemudian membaca kertas dari dokter yang menyatakan kalau Ani positif hamil.
Aris terkejut dan tak percaya bahwa Allah sudah mengizinkan mereka untuk mendapat amanah darinya.
Aris menangis terharu dan langsung memeluk istrinya, dia tak menyangka malam itu akan di beri kejutan oleh Ani dengan kehamilannya.
Aris pun melepas pelukannya itu, dan menatap Ani yang ada di depannya. Dan Ani tersenyum mengelus perutnya itu, Aris pun mencium perut Ani dan ikut mengelusnya.
***
Ani dan Aris dirumah...
Malam itu mereka berdua saja di rumah dan menikmati kebersamaan. Sementara yang lain pada pergi ke acara pertunangan Silvi dan bersenang-senang. Art juga ikut kesana semua pada ikut tanpa terkecuali.
__ADS_1
Malam itu rumah pun terasa sunyi sekali, semua orang tak ada. Ani asik bermanja-manja dengan suaminya karena besok Aris akan pergi ke rumah orang tuannya.
Ani merasa pasti akan sangat merindukannya disaat nanti Aris tak ada.
Pram dan Silvi di cafe...
Semua mata pada tertuju ke Silvi yang malam ini begitu sangat cantik dan anggun sekali. Pram sampai tak berkedip melihat kecantikan Silvi malam pertunangan mereka.
Sepasang cincin yang indah untuk sepasang kekasih yang sedang mengikat janji ingin bersatu. Dipegang oleh Nita, lalu Pram mengambil yang satu dan disematkan ke jari manis Silvi saat itu juga.
Silvi juga sebaliknya memakaikan cincin itu ke tangannya Pram, malam itu pun mereka sudah siap tunangannya. Pram sangat senang Silvi sudah mau menerimanya sebagai calon imam masa depannya nanti.
Semua orang sangat senang melihat Silvi dan Pram, pasangan yang sangat cocok sekali saat ini. Silvi juga sangat bahagia, dan Rian serta Nita memberi ucapan selamat kepada mereka berdua.
Malam itu pun menjadi momen yang tak terlupakan oleh Silvi dan Pram. Mereka akan mengikat janji dan sah dalam cinta suci hanya beberapa bulan lagi.
Malam semakin larut, mereka pun pulang setelah pesta telah usai. Silvi diantar pulang oleh Pram kerumah mamanya. Nita dan Rian segera pulang kerumah mereka dan membawa Bisma ikut bersama.
Bisma sudah tertidur lelap karena memang jam tidurnya sudah terlewatkan malam ini. Jadi dia sudah tak dapat menahan rasa kantuknya sedikit.
"Terima kasih ya mas, kamu sudah memenuhi janji dan memilihku saat ini." ucap Silvi yang sudah diantar di depan rumahnya.
Tapi Silvi belum keluar dari mobilnya Pram, dia masih berbicara dan berterima kasih karena sudah mengantar.
"Sayang, sesama kekasih tak perlu terlalu berterima kasih secara formal."
"Aku hanya membuktikan cinta ku ke kamu dan memang tidak mau mencari selain untuk menjadi pendamping hidup ku."
"Aku sudah sangat serius dan bahkan sangat ingin cepat menikahi kamu sekarang juga," Pram mencium bibir lembut Silvi.
Membuat Silvi menundukkan kepalanya dan malu, akhirnya Silvi pun keluar dari mobil Pram dan segera berlari masuk kedalam rumahnya.
"Gadis itu sangat imut sekali kalau sudah malu dan merona, aku sangat ingin memakannya saja sangking gemasnya." berkata dalam hatinya.
Silvi pun masuk dan menutup pintu rumahnya, dia langsung naik ke kamarnya yang di atas dan dengan cepat masuk dan mengintip mobil Pram yang pergi meninggalkan rumahnya.
__ADS_1
Silvi tersenyum sendirian dan sambil menggigit sedikit sudut bibirnya. Dia sangat bahagia lalu melompat-lompat kegirangan di dalam kamarnya.