
Malam itu Nita dan Rian masih terus mengelilingi tempat - tempat. Dan Rian mencoba melewati tempat Bar - Bar malam, disana terlihat begitu ramai orang pada berpulang keluar dari salah satu Bar.
" Mas Rian sebentar itu sepertinya mobil Ani mas..?!" ujar Nita secara tiba - tiba.
" Tetapi kenapa pria itu yang ada didalam..?" Ani kemana mas.., kok Ani tidak terlihat..?" Nita semakin khawatir.
Rian menepikan mobilnya dan memperhatikan dari jauh.
" Tunggu sebentar Nit, dia akan kita tanyakan setelah teman - temannya pergi." ujar Rian yang kesal melihat pria itu ( Alex ).
Kebetulan Alex tadi keluar membawa mobil Ani, karena mobilnya dipakai temannya untuk berkencan ketempat yang lain.
Dan saat Alex kembali teman - temannya semua sudah pada mau pulang.
Alex mengemudi tidak menutup kaca mobilnya jadi terlihat jelas oleh Nita dan Rian saat itu.
" Mas, ayo kita hampiri pria itu, dan kita tanya keberadaan Ani ada dimana." ujar Nita yang sudah dari tadi sangat lelah dan cemas mencari Ani.
Rian turun dari mobilnya dan langsung menghampiri Alex yang juga turun keluar dari mobil itu.
Nita mengikuti Rian dari belakang, dan Nita sangat berhati - hati karena tempat itu sangat banyak orang yang dalam keadaan mabuk.
" Mas, maaf mau tanya, ini mobil teman saya kenapa ada di anda..?" Kemana teman saya yang punya mobil ini..?!" Rian mempertegas ucapannya.
Alex menatap Rian dengan senyuman kesalnya dan meludah ke lantai, Alex merasa terusik dan mulai merasa emosinya memuncak.
" Bugh.." Alex memukul Rian tanpa sebab, dia merasa tidak senang dan juga karena pengaruh dari minuman beralkohol yang dia konsumsi tadi.
" Kenapa tanya - tanya wanita itu..?" kamu siapanya dia, bapaknya ya..?" Hahaha..., dia sudah aku bereskan di dalam kamar sampai dia pingsan disana.
Nita terkejut dan tangannya menutupi mulutnya karena sangat terpukul mendengar perkataan pria itu secara langsung berterus terang.
" Kurang ajar kamu..!" Bugh, bugh, bugh.., dimana dia sekarang ?" dikamar berapa kamu tinggalkan dia..?!" ucap Rian sambil memegangi baju Alex dan masih mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Diam - diam Nita menelpon polisi untuk datang ke tempat mereka, Nita juga sudah melaporkan tindak kejahatan Alex dan mengirim foto pria itu.
Tidak beberapa lama polisi datang dan menangkapnya, Nita dan Rian masuk kedalam untuk membawa Ani kerumah sakit.
Nita menangis melihat kondisi Ani temannya, Rian menunggu diluar kamar. Nita meminta Rian untuk menunggu dulu sebentar Nita ingin merapikan Ani agar tidak ada yang melihat keadaanya yang kacau sekali.
" Mas, mari kita bawa dia kerumah sakit sekarang." kata Nita menyuruh Rian masuk dan menggendongnya, membawa masuk kedalam mobil Rian untuk pergi kerumah sakit.
Mobil Ani untuk sementara diurus sama polisi, dan Alex sudah dibawa ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Nita terus menangis melihat kondisi sahabatnya itu, Nita duduk dibelakang bersama Ani. Dia mengelus rambut Ani yang sangat berantakan.
" tolong..!" Jangan lakukan itu kepada ku..!" Tolong..!" Ani berteriak dan meringis karena dia trauma.
" Ani, ini aku An.." Sabar An, kita sebentar lagi akan sampai dirumah sakit." Sudah tidak ada lagi yang menyakiti kamu An.., tolong jangan menangis An.., Ani...?!" Suara Nita berteriak memanggil Ani, ternyata dia pingsan kembali.
" Mas, cepat mas Ani sudah tidak baik keadaannya mas.." Nita menyuruh Rian untuk mempercepat laju kendaraannya.
Rian mempercepat dan memasang lampu darurat mobilnya. Nita semakin cemas dan jantungnya berdetak sangat kencang, dia takut kehilangan sahabatnya.
Mereka sampai dirumah sakit, Rian dengan cepat berhenti dan keluar memanggil suster untuk minta bantuan.
" Sus, tolong ada yang butuh pertolongan, dia pingsan didalam mobil saya." ujar Rian dan dengan sigap membukakan pintu mobilnya segera mengangkat tubuh Ani dan diletakan ke atas tempat tidur darurat yang dibawa suster tadi.
Nita keluar dan ikut menuntun Ani dan suster ke suatu ruangan.
" Maaf bapak, ibu, tolong tetap diluar." Biar saya lihat dulu kondisi pasien saat ini." ucap seorang Dokter yang akan menangani Ani didalam.
" Dok, tolonglah sahabat saya, dia sudah mengalami sesuatu yang tidak baik dengan seorang pria." kata Nita memberi tahu kepada Dokter itu.
" Baik bu, tenanglah dulu biar saya cek kondisinya terlebih dahulu." ucap Dokter dengan membalas genggaman tangan Nita.
Dokter pun masuk kedalam dan menutup pintu ruangan itu.
__ADS_1
Nita terduduk dan menangis menutup wajah dengan kedua tangannya.
Nita sangat shock atas kejadian yang menimpa pada Ani, dia bingung bila orang tuanya tahu akan kejadian ini.
Nita tidak bisa untuk menutupinya, dan pasti akan ketahuan juga bila ditutupi.
Nita gugup dan cemas, dari tadi dia mondar - mandir didepan Rian.
Rian memegang kedua bahu Nita dengan tangannya, dan mencoba untuk menenangkan Nita yang semakin tak terkontrol perasaannya.
Rian juga takut Nita akan jatuh sakit karena terlalu banyak yang dia fikirkan.
" Nit, duduk dan tenanglah dulu." Dokter masih memeriksa Ani didalam dan belum tahu apa hasilnya." Rian menuntun ke arah kursi yang ada didepan ruangan itu.
Rian pergi keluar sebentar meninggalkan Nita disana duduk seorang diri. Tak beberapa lama Rian menghampiri Nita dan menyodorkan air mineral yang ada didalam botol kecil.
" Minumlah dulu, agar kamu bisa lebih tenang sedikit." ujar Rian kepada Nita.
" Baiklah mas." Nita mengambil botol yang ada ditangan Rian membuka dan meminumnya.
Tak lama kemudian Dokter keluar dari ruangan tersebut. Nita dengan cepat berdiri dan menghampiri Dokter itu, begitu pun dengan Rian yang langsung mendekat.
" Bagaimana dengan teman saya Dok..?" Apa yang sudah dilakukan pria itu padanya..?!" Nita bertanya dengan tidak sabaran dan dia begitu panik serta terbawa emosi.
" Begini bu.., kami sudah mengecek semua fisik korban, dan dia memang sudah dianiaya oleh seorang pria yang ibu maksud."
" Dan karena kejadian itu, membuat sahabat ibu mengalami trauma yang mendalam." Dia sangat membutuhkan dukungan dari orang sekitar untuk mengembalikan kepercayaan dirinya." Jadi saya mohon bantuan dari ibu dan bapak untuk bisa mengembalikan keadaannya yang kita inginkan bersama." ucap Dokter itu menjelaskan secara perlahan.
" Dok, apakah kami boleh masuk dan melihatnya..?" tanya Nita, dia ingin sekali memeluk Ani saat ini.
" Silahkan bu.., kalau ibu ingin melihatnya." Tetapi jangan menyinggung atau bertanya tentang kejadian ini kepadanya, karena dia belum stabil untuk sementara." ujar Dokter itu, dan Nita pun mengangguk menandakan bahwa dia mengerti yang dimaksud Dokter.
" Mas.., aku masuk dulu ya..?" kata Nita.
__ADS_1
" Baiklah mas tunggu kamu disini saja, dan ingat kontrol perasaan dan emosi kamu ya Nit..?" Rian mengingatkan.
" Iya mas, Nita akan mengingatnya." Nita pun masuk, dia membuka pintu ruangan itu.