
" Akhirnya selesai juga jadi pajangan setengah hari." Badan ku pegal semuanya." ucap Nita yang sedikit
cemberut.
" Kenapa sayang, sini biar mas pijatin." Bagian yang mana yang pegal Nita..?" tanya Rian memberi perhatian kepada Nita.
" Gak usah mas, aku gak apa - apa kok." Nanti dibawa tidur sebentar saja sudah mendingan pegalnya." Ucap Nita yang terkejut ada Rian di belakangnya.
" Kamu kok wajahnya memerah ?" Apa kamu demam atau kamu sakit begitu Nita..?" Rian bertanya karena khawatir.
" Aku gak apa - apa kok mas, kita tidur saja ya." Nita sudah capek banget hari ini." Dan besok masih ada urusan kita lagi sama bude dan orang kampung." ucap Nita dan bergegas naik ke tempat tidur dan masuk ke dalam selimut.
Nita menutupi seluruh badannya dengan selimut, dan tidur membelakangi Rian disampingnya. Seketika dia baru sadar kalau sekarang dia harus tidur satu kamar dengan Rian.
" Nita..?" Nita..?" Rian memanggilnya.
Nita hanya diam saja dan tidak berkata atau pun bergerak sama sekali. Rian pun mendekat dan menghampiri Nita dari belakang punggungnya.
" Nita..?" Kamu sudah tidur..?" tanya Rian.
" Argh..?!" Bugh..!" Terdengar ada suara yang jatuh.
" Nita..?!" Tok, tok, tok..!" Ada apa Nita..?!" Rian..?!" Kalian tidak apa - apa kan..?" Apa yang terjadi..?!" Terdengar suara bude mengetuk pintu kamar mereka dari luar.
Rian segera bangun dan berdiri dari lantai, dia terjatuh dari tempat tidur karena Nita terkejut dan menolaknya.
Rian pun membuka pintu kamarnya dan melihat Bude, Pakde, Ani dan Aris ada di depan kamarnya.
" Suara apa tadi nak ?" Kenapa Nita berteriak keras sekali..?" tanya bude ke Rian.
" Tidak ada apa - apa kok bude, tadi Rian baru dari kamar mandi dan terjatuh ke lantai." Nita berteriak karena terkejut melihat kecoak di bahunya." Ujar Rian berbohong.
" Apakah begitu Nita..?" tanya pakde dan Aris juga.
" Iya pakde, aku takut sekali." Tiba - tiba dia muncul saat Nita sedang bercermin tadi." Nita berpura - pura memainkan perannya.
Ani jadi bingung dengan kedua temannya, apa lagi sama Nita. Setahu Ani, temannya itu tidak takut pada kecoak. Kenapa setelah menikah dia jadi takut sama kecoak katanya.
__ADS_1
Ani hanya diam saja dan mengerutkan dahinya sambil berpikir.
" Ya sudah kalau begitu, istirahatlah kalian." Karena pasti sudah lelah satu harian ini." Kata pakde dan budenya.
" Baik bude.., pakde.." Sahut Nita dan Rian.
Ani dan Aris pun kembali melanjutkan tidurnya dikamar masing - masing. Ani sudah sangat mengantuk sekali, tetapi dia masih bingung akan Nita yang sekarang jadi takut sama kecoak.
" Ini semua tidak masuk akal." ucap Ani.
***
Rian pun menutup pintu kamarnya, dan mengunci kembali pintu itu. Dia berjalan ke arah tempat tidur dengan keadaan sakit di pinggangnya karena tadi jatuh terjengkang.
" Mas, maafin aku ya..?" Kamu sakit ya mas..?" tanya Nita.
Rian duduk ditepi tempat tidurnya, Nita datang mendekat dan memijat punggung Rian karena merasa bersalah.
" Nita, kamu kalau terkejut reaksinya mengerikan ya..?" Kalau tahu kamu seperti itu, aku bakal dua kali berpikir deh menikah sama kamu.." ucap Rian kepada Nita.
Nita yang tadinya memijat punggung Rian, kini dia mencubit Rian karena marah padanya.
Nita langsung ngambek dan kesal, dia pergi langsung tidur dan masuk kembali dalam selimutnya.
Nita kesal atas ucapan Rian tadi, tak menghiraukan Rian disana yang kesakitan.
Rian berjalan menghampiri Nita dan duduk ditepian tempat tidur dimana Nita tidur.
" Sayang.., mas cuma bercanda loh." Kamu ternyata tidak dewasa yang seperti mas lihat biasanya." Kamu juga manja banget sama mas, atau ini merupakan kode untuk..." Rian berhenti bicara.
Mulutnya sekali lagi ditutup oleh Nita, tapi kali ini dengan satu jari saja dan mulut Rian sudah tertutup. Rian menatap Nita, dan mereka saling berpandangan di dalam kamar itu. Keduanya mulai ada rasa yang mengalir di dalam tubuh, jantung berdebar dan gejolak terasa di dalam dada.
Saat Rian membelai rambut Nita, seketika tersadar akan belaian itu. Nita langsung kembali ke dalam selimutnya dan memejamkan matanya.
" Mas, pergilah tidur." Nita sudah mengantuk mas, dan hari ini kita sudah sangat lelah." ucap Nita yang tidurnya meringkuk dalam selimut.
" Baiklah sayang.." Rian mengelus kepala dan rambut Nita.
__ADS_1
Rian pun berjalan ke sisi tempat tidurnya. Dia pun naik dan masuk juga ke dalam selimut, malam itu memang sangat dingin. Seluruh kampung diselimuti kabut malam itu. Rian pun memutuskan untuk tidur saja malam itu, dan tidak mengganggu Nita lagi.
Malam semakin larut, dan juga hawa dingin semakin menjadi, kabut diluar rumah semakin menebal. Nita yang kedinginan walau sudah berselimut membalikkan badannya ke arah Rian, tangannya tanpa sadar berada di atas dada Rian.
Begitulah malam yang mereka lalui dan kini Nita memeluk Rian tanpa sadarnya.
***
Pagi ini Panji masih di Jakarta, dan berjalan keluar hotelnya untuk pergi mencari makanan. Dia tak mau makan di hotel, dia ingin merasakan makanan kantin seperti yang dulu pernah dia makan.
Tanpa sengaja Panji bertemu dengan pak Rahmat di jalan ketika hendak mampir ke warung yang pernah dulu dia makan bersama Ani dan Nita saat pulang kerja.
" Panji..?" Kamu disini..?!" tanya pak Rahmat yang sedikit terkejut.
" Pak Rahmat..?" kebetulan sekali kita berjumpa disini." Saya mau makan di warung ini, apakah bapak sudah makan siang ?" Kalau belum mari kita makan siang bareng pak, sekalian ada yang ingin saya bicarakan ke bapak." ucapnya Panji.
" Baiklah kalau begitu, sebenarnya saya sudah makan siang dan ini mau kembali ke kantor." Tapi bila ada sesuatu yang mau dibicarakan, saya akan mendengarkannya." pak Rahmat pun ikut bersama Panji masuk ke warung itu.
Disana Panji memesan makanan, sedangkan pak Rahmat hanya memesan kopi saja. Panji pun mulai bercerita dan ingin menawarkan kerjasama dalam bisnis yang dia kelola.
Panji ada rencana akan mengembangkan bisnisnya di Jakarta, sedangkan pusatnya ada di Singapura.
Namun Panji ingin bekerjasama dengan pak Rahmat agar bisnisnya bisa dipromosikan ke luar negara yang lebih luas lagi. Karena perusahaan pak Rahmat sangat bagus dalam mempromosikan suatu produk.
" Panji, kenapa kamu tidak pakai Nita saja..?" Dia paling ahli dalam promosi, dan perusahaan bapak sekarang banyak kemajuan ini berkat Nita yang memegang tehnik promosi." ungkap pak Rahmat kepada Panji.
Panji hanya diam saja, dan dia ragu akan hal itu. Pak Rahmat tidak tahu bagaimana jalan cerita mereka. Tetapi namanya kerja pasti harus profesional, dan tidak boleh mencampurkan masalah pribadi di dalamnya.
" Oh iya panji, apakah kamu ke Jakarta karena ingin menghadiri pernikahan Nita di Makasar semalam ?" tanya pak Rahmat.
" Semalam bapak tidak dapat menghadirinya karena ada kendala sesuatu." Dan mungkin nanti saat dia ke kantor dan bertemu padanya saja memberikan kado pernikahan untuknya." ujar pak Rahmat.
" Saya tidak tahu pak, kalau Nita semalam menikah." Karena kami sudah lama tidak berkomunikasi lagi." Dan masalah tadi nanti kita bicarakan lagi ya pak." Lain kali saya akan menemui bapak di kantor bapak saja." kata Panji.
Panji dan pak Rahmat pun pergi ke tujuan masing - masing mereka. Pak Rahmat kembali ke kantornya, sedangkan Panji dia ingin menyendiri di hotelnya.
Ya.. Panji sangat sedih mendengar Nita sudah menikah dengan Rian, yang satu rekan kerjanya dan yang satu mantan kekasihnya.
__ADS_1