
Bulan depan Nita dan Rian akan ke Makasar, namun mereka akan ke Jakarta dahulu ke kantor pusat ditempat Nita bekerja dahulu. Nita akan menemui pak Rahmat dan mengundangnya ke acara pernikahannya dengan Rian calon suaminya.
Sekarang ini Nita sedang mempersiapkan dan membereskan segala yang akan diperlukan saat nanti akan ke Makasar.
" Tring.., tring.." suara ponsel Nita berdering.
" Hallo, iya bude.." Ada apa ya..?" tanya Nita.
" Sayang.., bagaimana kabar kamu hari ini..?" Dan kapan kamu akan ke Makasar..?" tanya budenya.
" Iya bude, mungkin bulan depan." Masih banyak yang akan Nita kerjakan disini bude." ucap Nita segera.
Budenya hanya diam dan memaklumi saja, Nita mencoba memberikan penjelasan.
Ani juga ikut bersama mereka, karena pak Rahmat juga akan menempatkan Ani di Jakarta lagi untuk menangani cabang baru di Surabaya. Sementara yang di America tetap masih Nita yang akan pegang sendiri. Nita, Ani dan Rian pergi ke kampung halaman Ani sambil menjenguk orang tua Ani disana.
Ani setiap bulan selalu mengirimkan uang gajinya sebagian, untuk kebutuhan orang tuanya dan terutama pendidikan adiknya.
Ani ingin adiknya menjadi sukses dan membahagiakan orang tuanya ketika masih hidup.
Nita dan Rian langsung beristirahat di kamar yang sudah disediakan oleh ibunya Ani dikampung. Ani memang sudah bilang kalau mau pulang bersama temannya dan akan menginap 2 hari disana.
Rian tidur dengan adiknya Ani dikamarnya, sementara Nita tidur sekamar dengan Ani dikamarnya. Suasana dimalam hari sangat dingin dan sunyi, membuat Nita tidak tahan ingin berselimut rasanya.
Namun Nita masih belum bisa tidur saat itu, Ani dan Nita pergi ke luar rumah dan duduk di depan teras rumahnya. Nita keluar dengan memakai jaketnya yang berwarna merah dan memakai sandal serta celana panjang tebal.
Ani dan Nita asik berbincang sambil bercanda duduk di teras rumah. Ibu yang juga belum tidur, menyuguhkan teh jahe hangat ke mereka berdua. Mereka terkejut dan tersenyum ke ibunya Ani.
" Ibu belum tidur juga..?" kenapa repot - repot membuatkan teh untuk kami bu..?" seru Nita.
" Iya, ibu memang belum tidur." kalau teh ini gak apa - apa, ibu tahu kalian pasti kedinginan jadi ibu buatkan saja." Mari diminum nak Nita..?!" ucap ibunya dengan ramah.
__ADS_1
Ibunya langsung masuk ke lagi ke dalam rumah, lalu tidur dan beristirahat. Keduanya masih asik berbicara dan menikmati malam di kampung halaman Ani, dan besok pagi harus ke kantor bertemu dengan pak Rahmat.
Ani sudah mulai mengantuk dan dia ingin pergi ke kamarnya untuk segera tidur.
" Nit, kamu mau masuk kerumah belum ?" Aku sudah ngantuk banget nih..?!" Kalau gitu aku ke kamar duluan ya Nit, nanti kamu masuk saja." ujar Ani yang jalan kedalam meninggalkan Nita di teras.
***
Rian keluar dari kamarnya, dia ingin mengambil minum di meja makan. Dilihatnya pintu depan rumah masih terbuka serta ada suara musik melow terdengar, Rian penasaran lalu melihatnya dari dalam. Rian melihat Nita masih duduk sendirian di depan rumah dengan menikmati musiknya.
" Nita..?" kok kamu sendirian disini ngapain ?" tanya Rian.
" Mas Rian." Nita lagi menikmati suasana saja, dan belum mengantuk saja kok mas." Nita tersenyum.
Rian menghampiri Nita dan duduk di depannya, dia melihat Nita seakan penuh pertanyaan. Raut wajah Nita sangat terlihat jelas bahwa dia sedang memikirkan sesuatu.
" Nit, kamu kenapa ?" Bila kamu belum siap, mas masih bisa menunggu kamu kok." Dan mas juga bisa terima bila kita tidak berjodoh." ujar Rian.
" Enggak kok mas bukan itu." Nita hanya masih belum bisa melupakan trauma akan mencintai dan di bohongi." Jujur Nita masih takut dengan hubungan kita, ditambah dengan peristiwa yang pernah terjadi oleh Ani." Nita menjelaskan.
Nita pun segera masuk ke dalam kamar untuk tidur. Rian menghela nafasnya dan mencoba untuk menata hati dan bersabar dalam sebuah hubungan.
" Semua pasti akan baik - baik saja dan pasti ada kebahagian yang menanti didepan sana." Rian berkata dalam hatinya.
Rian mengunci pintu depan rumah itu, dan pergi kembali ke kamarnya lagi setelah selesai minum. Rian pun tidur dan terlelap dalam mimpi, sama seperti Nita juga.
***
Keesokan paginya Rian, Ani dan Nita berangkat setelah selesai sarapan pagi. Perjalanan kira - kira memakan waktu selama 2 jam dari rumah orang tuanya Ani.
Mereka pergi sangat pagi agar tidak terlambat datang kesana. Nita terlihat masih mengantuk, karena tadi malam dia belum bisa tidur juga di dalam kamar bersama Ani.
__ADS_1
Tetapi dia mencoba untuk tetap profesional dalam pekerjaannya, Ani juga gak kalah dari Nita. Masalah pekerjaan dia juga begitu gigih dan bertanggung jawab.
Ani dan Nita mengenang kembali saat masih kerja dikantor itu, setelah sampai disana. Satpam gerbang masih yang dulu dan begitu senang menyapa mereka berdua.
" Mbak Nita dan mbak Ani ya..?" Apa kabar mbak.., tambah sukses mbak berdua." ujar pak satpam.
" Amiin.., kami sehat pak." Bapak juga sehat selalu ya pak, kalau gitu kami masuk dulu ya pak." Mau ketemu sama pak Rahmat, sudah datang kan pak ?" tanya Ani.
" Oh, pak Rahmat sudah datang kok mbak Ani.." Silahkan kalau begitu mbak." Satpam itu mempersilahkan.
Ani dan Nita masuk ke dalam sedangkan Rian hanya menunggu di mobil dan di kantin kantor saja.
" Mas, aku dan Ani kedalam dulu ya..?" Mas tak apa - apa kan kalau di tinggal disini..?" tanya Nita.
" Iya mas disini saja." Mas akan tunggu di mobil atau di kantin sana." Kata Rian sambil menunjuk dengan jarinya.
Mereka pun masuk dan naik ke atas untuk menemui pak Rahmat.
" Eh Nit, berkasnya sudah kamu bawa kan..?" Aku lupa tadi." Ani panik dan bingung.
" Sudah.., nih berkasnya." Makanya kamu tuh jangan suka buru - buru begitu." Pasti kamu jantungan kan..?" Hehehe.., sama aku juga An." ucap Nita yang sedikit kekeh.
" Ih.., sama saja pun." Kamu ini pakai mengejek ku." kata Ani.
Lalu Nita dan Ani tertawa bersamaan sambil berjalan menuju ruangan pak Rahmat. Mereka juga teringat akan hal yang sama saat masih kerja di kantor yang saat ini mereka datangi.
" Nita..!" seseorang memanggil Nita.
" Nita, kamu datang kesini ?" Aku sangat rindu sama kamu." ucap salah satu karyawan yang dulu juga temannya Nita.
" Nisa.., kamu masih disini juga..?!" Iya maaf kita gak bisa ketemuan." Pak Rahmat meminta ku untuk memegang cabang yang di America." Nita menjelaskan.
__ADS_1
" Oh, begitu." Aku pikir kamu keluar dari pekerjaan, aku sangat kangen sekali." Mereka berpelukan.
" Nisa, maaf ya kami lagi buru - buru nih." Nanti kita lanjutkan ya Nisa. Gak apa - apa ya, maaf..?" ucap Ani yang langsung menarik tangan Nita dan segera ke ruangan pak Rahmad.