PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU

PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU
Bab 66. Malapetaka


__ADS_3

Sudah satu bulan dua minggu terlewatkan Nita menunggu suaminya pulang kerumahnya.


" Hoek, hoek.. !" suara dari kamar mandi di rumah Nita.


" Sepertinya aku sudah mulai masuk ke fase mual - mual."


" Rasanya tidak enak sekali mulut ku dan ingin makan yang sedikit asam dan berkuah." ujarnya dalam hati.


" Hari ini sebaiknya aku dirumah saja deh, dan tidak masuk ke kantor." Mira, hari ini tolong kamu tangani apa saja di kantor ya ?!" saya sangat tidak enak badan dan kelelahan, kalau ada kendala atau yang mau di tanda tangani kamu bisa kerumah saya." ucapnya.


Pagi itu Nita memesan makanan online lagi dan tidak masak, dia juga membeli beberapa camilan untuk bersantai di rumah. Nita berjalan ke arah mesin cuci dan niat mau mencuci.


" Sudah beberapa hari aku gak mencuci, karena hari ini di rumah aku mencuci saja deh." ujarnya.


Di masukannya kain kotor ke dalam mesin cuci, berjalan mengambil sabun dan pewangi.


Semua dituang menjadi satu dan di isi air olehnya, Nita memakai sandal di rumah dan masih mengenakan baju tidurnya.


dia juga membereskan piring kotor semalam yang tidak Silvi cuci saat sudah pulang.


Setelah itu selesai tiba - tiba bel pintu rumahnya berbunyi dan dia segera datang menghampiri.


" Ting, tong..." suara bel rumah Nita.


" Sebentar saya kesana." dengan tangan masih basah dia berjalan cepat ke arah pintu itu.


Nita pun membuka pintunya dan melihat bahwa ada kurir yang mengantarkan pesanan makanannya saat itu.


" Terima kasih.." ucap Nita.


Dia pun masuk kembali dan menutup pintunya tanpa menguncinya. Dia lupa mengunci dan buru - buru berjalan karena sudah tidak sabar untuk memakan makanannya.


Saat ke dapur dan ingin mengambil piring, Nita menginjak minyak yang tumpah di lemari rak bawah di dapurnya. Ternyata minyak itu sudah dari semalam tumpah dan Silvi tidak membersihkannya.


" Prang !" Hauw, tolong sakit sekali." Nita merasa kesakitan.


Dia menjerit meminta bantuan namun tidak ada orang satupun yang mendengar.


Nita tidak bisa berdiri kakinya tidak bisa di gerakan saat itu. Ponselnya jauh dia letakkan dan sekarang tidak bisa berbuat apa - apa. Tiba - tiba dia merasa ada sesuatu yang mengalir dari tempat dia duduk sekarang.


Nita melihat ke arahnya dan pingsan seketika, ternyata Nita mengalami pendarahan.


Pagi itu Rian pulang kerumah tanpa memberi tahu ke Nita, dia berencana akan pulang kerumah dan menyambutnya saat pulang dari kantor.

__ADS_1


" Ting, tong." Rian memencet bel rumahnya.


Biasanya jam segini ada pekerja yang membereskan rumah.


Namun pintu tidak dibuka juga, Rian mencoba membuka dan menolak pintu rumahnya. Pintu itu mudah dibuka olehnya, Rian sangat curiga mengapa pintu tidak terkunci dengan baik pikirnya.


Rian masuk dan melihat sekelilingnya, memperhatikan dan mencari tahu. Saat Rian ke arah dapur dia melihat Nita tergeletak dilantai dan penuh dengan darah.


" Nita... !" Rian berteriak dan melempar kopernya berjalan ke arah Nita.


" Sayang, bangun sayang... !"


" Nita !" Rian mencoba membangunkannya.


Lalu Rian bergegas mencari kain dan membalut tubuhnya Nita membawanya kedalam mobil untuk segera kerumah sakit.


Rian berlari menggendongnya dan memasukkannya ke dalam mobil di bagian belakang.


Rian secepat mungkin menyalakan mobil dan pergi kerumah sakit. Dalam perjalanan Rian menelpon Silvi adiknya dan menyuruhnya datang kerumah sakit xxx dan memberi tahu bahwa Nita masuk rumah sakit.


Silvi terkejut dan dia terdiam, pagi itu dia sedang di jalan mau ke kampusnya dengan taksi. Namun tidak jadi dan menyuruh supir taksinya untuk ke rumah sakit xxx.


Silvi merasa sesuatu sudah terjadi pada Nita yang sangat fatal, perasaan dan jantungnya berdetak sangat kencang.


" Kenapa sih Nita itu pakai kecelakaan segala, palingan juga gak yang bahaya banget." kata Silvi sepele dan menganggap remeh.


@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@


Setelah sampai di rumah sakit xxx, Rian berlari sendiri menggendong Nita masuk kedalam.


" Suster tolong istri saya suster." Rian sangat panik dan sudah lemas sekali karena melihat begitu banyak darah.


Suster mengambil cepat tindakan dan membawa Nita ke dalam ruangan untuk segera diperiksa.


" Tunggu sebentar bapak disini ya, dan tidak di izinkan untuk masuk." ucap suster yang menutup pintu ruangan itu.


Dokter dan para suster didalam sedang sibuk memeriksa, lalu salah satu suster keluar menghampiri Rian.


" Pak, apakah bapak suaminya ?" tanya suster itu.


" Iya sus saya suami pasien, ada apa ya suster ?" Rian panik dan jantungnya berdebar sangat kencang.


" Begini pak, ibu tersebut harus segara dioperasi sekarang juga." Janinnya sudah meninggal dan ada sedikit kendala yang harus di periksa di dalam rahimnya ternyata juga ada miom yang tumbuh." kata susternya.

__ADS_1


" Apa sus ?!" Istri saya sedang hamil ?" Rian tidak percaya akan hal itu.


" Iya pak dan silahkan bapak ke meja depan untuk mengisi formulirnya dan membayar administrasinya." suster itu langsung masuk lagi kedalam.


Rian sangat terpukul atas apa yang dikatakan suster itu, sekarang dia kehilangan anak yang Nita kandung di rahimnya.


Rian berjalan dan pergi ke meja resepsionis dan menyelesaikan semua persyaratannya.


Rian terduduk lemas dan terlihat sedih, dia merasa bersalah karena tidak dapat menjaga Nita dan calon anak mereka.


" Mas, dimana kak Nita mas ?"


" Bagaimana keadaannya ?" tanya Silvi yang baru datang.


Rian hanya diam dan menangis di depan Silvi, Rian sudah kehabisan kata - kata dan tubuhnya lemah tidak berdaya.


Silvi pun pergi untuk mencari minum untuk abangnya, dan menelpon mamanya agar datang memberi semangat ke Rian abangnya. Walau Silvi belum tahu bagaimana kondisi Nita yang sebenarnya.


Silvi kembali ke Rian dan memberinya sebotol air minum untuknya.


" Mas.." Silvi menyerahkan air minumnya kepada Rian.


Rian mengambilnya dan meminumnya, tak berapa lama mama datang kerumah sakit menemui mereka yang sedang duduk seperti sedang menunggu.


" Rian.. ?!" Ada apa nak ?" siapa yang masuk rumah sakit ?" tanya mama.


" Mama.. ?!" Rian memeluk mamanya dan menangis dalam pelukan.


" Nita ma.., Nita banyak keluar darah dan dia keguguran." Dia sekarang sedang kekurangan darah akibat pendarahan hebat itu."


" Nita tidak sadarkan diri ma.." kata Rian kepada mamanya.


" Apa ?!"


" Kak Nita keguguran ?"


" Aku tidak tahu kalau dia sedang hamil, dan aku malah meninggalkannya sendirian malam itu." Silvi terpukul dan merasa bersalah.


" Sudah nak.., tenangkan diri kamu." Ini sudah kehendak Allah begini jalannya." Kamu yang sabar ya sayang." Banyaklah kamu berdoa untuk Nita agar selamat dan sembuh dengan cepat." kata mamanya.


Silvi pergi menjauh dan dia sangat merasa bersalah karena tidak menghiraukan Nita yang mencegahnya untuk menemaninya di rumah.


Silvi menangis dan menyalahkan dirinya sendiri, dia sangat tidak percaya akan terjadi sesuatu oleh Nita kakak iparnya.

__ADS_1


__ADS_2