PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU

PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU
Bab 125. Berangkat ke Malaysia


__ADS_3

~Akhirnya Rian konsultasi ke dokter dan menjalankan rencana itu. Dokter pun menyampaikan hal tersebut kepada Nita saat itu juga.


Tadinya dokter berkata 2 Minggu kemudian sudah boleh pulang, tapi masih dalam pengawasan dan perlu kontrol setiap bulannya.


Dokter bilang hanya 2 bulan saja, karena Rian juga tak ingin terlalu lama berbohong kepada istrinya.


Namun bila dalam 2 bulan itu siap gak siap mereka tetap pulang ke Amerika segera dan mengatakan yang sebenarnya kepada istrinya setelah sampai disana.


Akhirnya Rian pun menyewa sebuah apartemen untuk mereka tinggal disana di negara Malaysia.


Dan hari ini mereka sudah tinggal disana sekarang, dan juga sudah seperti biasanya beraktivitas.


Hari ini juga Silvi dan Pram terbang ke Malaysia untuk menemui mereka disana. Silvi sangat senang namun juga sangat sedih dan bercampur aduk di dalam dadanya.


"Sayang.., kau harus bisa tenangkan diri saat bertemu dan bersabarlah sedikit. Jangan lupa kau harus berperan yang baik, ingat kak Nita jangan sampai tahu dulu hal ini." ujar Pram yang mengerti akan kesulitan Silvi kekasihnya.


"Iya, aku mengerti mas." Silvi mengangguk dan menyandarkan kepalanya ke bahu Pram saat itu.


Pram selalu mendukungnya dan memberi Silvi arahan dan pengertian.


Pram memeluknya saat di dalam pesawat, karena Silvi terus menangis dan tak bisa menahan air matanya itu.


Pesawat pun turun dan telah sampai di bandara negara Malaysia ( Kuala Lumpur ).



Mereka segera turun dan mencari tempat keberadaan Nita dan Rian saat ini. Silvi tak mau makan siang dulu saat Pram mengajaknya, dia langsung ingin menemui abang dan kakaknya Nita sekarang juga.


"Mas, aku gak bisa menunggu lagi saat ini mas. Aku sampai sekarang masih tak percaya kalau mas Rian dan mbak Nita selamat dari kecelakaan itu."


"Andai mama masih ada pasti akan senang mendengarnya." ujar Silvi yang buru-buru berlari keluar dari bandara besar itu.


Pram pun tak bisa bilang apa-apa lagi dia hanya ikut saja Silvi pergi mengajaknya. Walau perutnya sudah sangat lapar sekali saat ini, Pram pun harus menahannya untuk beberapa saat.


***


Sesampainya di apartemen...


Silvi menekan bel itu dari luar, dan Rian melihat dari lubang pintu seorang gadis menunggu diluar pintu itu.

__ADS_1


"Silvi ada disini?" Rian merasa tak percaya.


Rian membuka pintu itu dan melihat adik kecilnya kini sudah begitu dewasa bahkan cantiknya luar biasa.


"Mas Rian...?!" Silvi langsung memeluk Rian dengan kuatnya dan tak bisa menahan air mata bahagianya itu.


Rian juga sangat senang dan rindu kepada adiknya, lalu Nita datang dan melihat siapa yang datang dan begitu terdengar senang sekali.


"Siapa mas? siapa yang datang?" tanya Nita.


"Mbak Nita.., ini Silvi mbak..," Silvi pun menghampiri Nita dan memeluknya.


"Silvi adik mbak! ini kamu sayang?!" Nita menangis dan sangat senang Silvi datang menemui mereka.


"Mari silahkan masuk," ucap Rian mengajak Pram untuk masuk ke dalam.


"Kau sudah dewasa ya sayang.., kamu jadi anak baik kan sama mama?" Gak buat mama menangis lagi kan?" tanya Nita kepada Silvi.


Silvi hanya menatap dan menggelengkan kepalanya, Rian merasa sedih saat Nita menanyakan hal itu. Tapi mau bagaimana lagi, memang itu sudah takdir dan jalan hidup mereka.


"Mas Rian apa boleh kita keluar sebentar, sambil ngopi di luar, biar mereka bisa melepas rindu sejenak berdua saja." Pram memberi isyarat kepada Rian.


"Sayang, aku dan Pram pergi sebentar ya. Kami mau ngopi dan minum sesuatu di luar, Pram katanya ingin melihat-lihat." ujar Rian yang memakai sandalnya dan pergi keluar.


"Baiklah mas..," kata Nita yang masih memeluk Silvi dengan erat di sofa.


Silvi dan Nita pun banyak bercerita bersama, Silvi juga makan siang bersama Nita. Lalu tiba-tiba Nita bertanya keadaan Bisma kepada Silvi, lalu Silvi menceritakan kalau Bisma sekarang sudah besar dan sudah lincah berjalan.


Silvi menceritakan hal-hal manisnya saja ke Nita, tanpa memberi tahu keberadaan anaknya itu yang sebenarnya. Silvi sebisa mungkin menghindari dan jangan sampai berkata sesuatu yang nantinya dapat menyebabkan gangguan di kepalanya Nita.


Nita lalu berkata ingin melihat anaknya dan menelponnya dengan video call sekarang juga. Tapi Silvi mencari alasan kalau jam segini dia sedang tidur siang dan tak bisa di hubungi.


Silvi akhirnya berbohong dan mencari cerita yang lainnya untuk di bahas.


Nita lalu percaya kepada Silvi dan tidak menanyakannya lagi tentang Bisma.


***


Pram dan Rian pun duduk di cafe kecil di lantai bawah apartemen itu. Disana mereka membahas lagi tentang Bisma dan mamanya Rian.

__ADS_1


Rian sangat sedih karena mamanya meninggal dia tak ada disana, dan sekarang sudah tak bisa memeluk bahkan melihatnya lagi berkumpul bersamanya.


Pram akhirnya menceritakan penyakit mamanya yang dia ketahui dari Silvi dan setelah itu meninggal karena sakitnya itu.


Pram juga menceritakan tentang Bisma anaknya Rian yang sekarang sudah diangkat menjadi anak Ani dan Aris.


Pram juga beri tahu mereka sudah menikah selama 8 bulan lamanya, dan mengambil Bisma menjadi anak mereka. Pram juga menceritakan Bisma di culik karena ada seseorang yang memang sudah mengincarnya.


"Mas, sepertinya ini ada hubungannya dengan seseorang yang memang ingin keluarga kalian hancur mas?!"


"Apakah mas tak berpikir sesuatu atau seseorang yang mas curigai saat ini?" tanya Pram dengan penuh curiga.


"Mas rasa sih gak ada tapi apa mungkin ini sebuah dendam yang lama?" tanya Rian ke Pram.


"Itu semua bisa saja mas, karena dia masih belum puas dengan keluarga mas." ujar Pram yang terus membuat Rian berpikir.


"Mungkinkah dia seorang wanita yang aku penjarakan 2 tahun yang lalu. Dia juga pernah mau mencelakakan Nita saat sedang mengandung Bisma." Rian teringat kepada Bella dan Imel.


"Tapi mereka masih di dalam penjara Singapura, dan baru akan bebas 5 tahun kemudian." ungkap Rian kepada Pram.


"Bisa saja itu terjadi mas, dan mungkin mereka menyuruh seseorang untuk menjalankannya saat itu untuk kepentingannya."


"Kalau begitu akan aku selidiki semua ini bersama mas Aris lewat rekan-rekan keamanan negaranya." ucap Pram yang sedikit senang sudah menemukan titik terang.


Pram dan Rian kembali menikmati makanan dan minumannya di cafe kecil itu. Pram memang dari tadi sudah sangat lapar sekali, karena dari pagi dia tak makan makanannya saat itu.


Karena perutnya merasa tak enak dan sedikit mengantuk. Dua Minggu itu dia harus menyiapkan berkasnya dengan cepat karena ingin meninggalkan kantornya untuk pergi ke Malaysia bersama Silvi kekasihnya itu.


Jadi Pram sangat bersemangat dan tertarik dengan mencari tahu keberadaan Bisma saat ini.


Pram juga meminta restu ke Rian untuk menjalin hubungan dengan adiknya Silvi. Dia juga memberitahu bahwa mereka sudah ketahap yang serius untuk menikah.


Dan Pram juga sudah menentukan kapan akan melamar dan menikahi Silvi nanti kepada Rian abangnya Silvi.


Pram ingin menjadikan Silvi istrinya setelah Bisma di temukan dan semua anggota kumpul bersama.


Rian juga tahu kalau Pram adalah seorang duda, namun tak memiliki anak. Pram menceritakan semuanya ke Rian agar tak ada lagi yang di tutupi dari keluarga nantinya.


Rian juga tak ada masalah asal Pram selalu bertanggung jawab atas Silvi adiknya dan tak menyakitinya, karena Silvi adalah adik satu-satunya yang Rian punya.

__ADS_1


__ADS_2