
Panji masih tidak percaya, di dalam pesawat penerbangan ke Jakarta. Dia masih berpikir apakah semua yang dikatakan Dion itu benar atau tidak.
Dia tak ingin percaya, namun Dion tidak pernah berbohong padanya.
Tapi bila itu benar mengapa harus ditutupi dari dirinya.
Panji masih belum bisa menerima, dia terbang ke Jakarta menemui mamanya disana dan ingin diam - diam menyelidikinya. Sampai di bandara Jakarta, Panji langsung kerumah mamanya tanpa mampir kesana kemari lagi.
Taksi yang mengantarkannya sudah berhenti didepan rumah. Panji pun juga turun seketika, langsung membayar ongkosnya.
Taksi sudah berlalu, pergi dari depan rumahnya. Panji segera masuk kedalam pagar dan menyapa satpam yang ada didepan pagar rumah itu.
" Pak, ibu lagi pergi gak ?" tanya Panji.
" Oh pak Panji, ibu dirumah kok." kenapa gak kasih kabar biar dijemput." satpamnya bertanya dengan sopanya.
" Ah iya, tidak perlu pak." Saya memang sengaja tidak memberi tahu mama kalau mau pulang ke Jakarta." sahut Panji dari pertanyaan satpamnya.
" Saya masuk dulu kedalam." ucap Panji.
Panji jalan ke arah pintu rumahnya dan mengetuk pintu itu.
" Tok, tok, tok." suara pintu diketuk.
Bibi pelayan mamanya yang mendengar langsung berlari - lari kecil kearah pintu depan.
" Sebentar..." bibi pelayan berkata dari dalam rumah.
Pintu pun dibuka olehnya, bibi melihat didepan pintu berdirilah Panji disana.
" Mas Panji pulang...?!" bibi itu terkejut dan langsung memeluk Panji.
" Kenapa tidak beri kabar mau pulang mas..." Biar bibi masaki makanan kesukaan mas dirumah." bibi begitu senang melihat kedatangan Panji.
__ADS_1
Bibi pun membantu membawa barang bawaan Panji.
" Bi, dimana mama..?" Dari tadi aku tidak melihat mama..?" Panji langsung bertanya keberadaan mamanya.
" Ada mas, masih diatas." Mau bibi panggilkan mas..?" tanya bibi pelayan dirumah itu.
" Oh, tidak perlu bi, saya akan tunggu saja sampai mama turun kebawah." Panji menunggu sambil duduk diruang tamu.
" Kata nyonya sih mau pergi keluar mas, tapi bibi gak tahu mau kemana." ucap bibi itu lagi lalu pergi ke dapur untuk membuatkan teh.
Bibi datang kembali dan menyuguhkan secangkir teh untuk Panji. Terlihat Panji sangat kelelahan dan tertidur disofa depan tv.
" Bi.., saya pergi dulu ya." Jangan lupa untuk berkata pada orang - orang penagih itu bila mereka datang lagi, saya tidak ada dirumah dan sedang keluar kota." ujar bu Sumi (mamanya Panji).
" Siapa itu yang disofa bi..?" Kenapa tiduran disitu..?" Saudara bibi atau siapa bi..?!" penasaran dan penuh tanda tanya.
" Ini nyonya mas Panji pulang kerumah.., dan sudah menunggu nyonya dari tadi." pelayan itu menjelaskan.
" Hah.., Panji pulang..?!" Kenapa gak panggil saya tadi dikamar bi.." Saya kangen banget sama dia." ucap Sumi mama Panji.
Panji masih tertidur disofa itu, bibi segera siapkan makan siang untuk nanti Panji terbangun dan merasa lapar. Aroma masakan tercium ke hidung Panji yang sedang tidur disofa ruang tv, memang jarak antara dapur meja makan dan ruang tv tidak begitu jauh.
Panji terbangun dan merasakan bahwa perutnya sudah merasa lapar saat itu. Tadi pagi dia juga tidak sarapan karena perutnya tidak enak dan merasa kesal saat pulang ke Jakarta.
Panji bangun dari tidurnya dan pergi ke kamar mandi. Dibasuhnya wajah dari bangun tidur agar terasa segar kembali.
" Mas Panji sudah bangun, kalau gitu makan dulu mas." Bibi sudah siapkan makanan kesukaannya mas." ucap pelayan itu.
" Oh, iya bi. Saya juga sudah lapar dan tadi pagi tidak sarapan pula." ujar Panji yang segera duduk di kursi makan.
" Dimana mama bi..?" Dari tadi aku menunggu sampai tertidur disana kok gak nampak turun..?" Panji menanyakan keberadaan mamanya.
" Oh iya mas, tadi pas mas tidur ibu bilang mau pergi sebentar." Nanti akan pulang dan langsung menemui mas." Katanya ibu ada urusan gitu mas." ucap bibi sambil melayani Panji makan siang dimeja.
__ADS_1
***
" Mas Pram bisa saja sih mas.., aku gak bisa lama - lama loh disini." Anak ku tiba - tiba pulang dari Singapura, dia tidak ada memberi kabar. Jadi kalau mas mau yang lama lain waktu saja kita kencan lagi ya sayang.." kata - katanya sangat menggoda, dan itu ternyata mama Panji yang sekarang mengincar pria - pria berdasi derajat tinggi.
Kalau dibilang mamanya Panji masih cantik dan muda, karena memang dia istri mudanya dari papa mereka. Semua yang dikatakan Dion itu memang benar, namun Panji saja yang tidak diberi tahukan.
" Okelah kalau begitu, nanti kita janjian lagi bertemu untuk berkencan." Dan..., mas mau kali ini mas yang menentukan pertemuan kita dimana." Karena mas ingin pertemuan kita tidak ada yang mengganggu." Pria itu mencium tangan Sumi ( mamanya Panji ).
" Dah sayang, aku pergi dulu." Sumi melambaikan tangannya ke Pram dan pergi dengan supirnya.
Sumi sungguh seperti gadis belia yang baru mengenal cinta dan lawan jenis. Tetapi bukan itu yang paling utama baginya, uang dan kesenangan yang ingin dia dapatkan dari pria berdasi dan berkedudukan tinggi.
***
Rian dan Nita telah kembali ke America, Ani sangat senang sekarang dia sudah tidak kesepian.
" Tega sekali kalian meninggalkan teman begitu lama." Jangan karena sudah tidak jomblo lagi kalian menelantarkan aku yang masih jomblo ini." ucap Ani yang sedikit iri akan kebersamaan mereka.
" Mana oleh - oleh untuk ku yang sudah sangat baik berdiam diri dirumah dan tidak menjadi pengganggu." Ani mengulurkan tangannya kepada Nita.
Nita dan Rian tersenyum melihat tingkah Ani yang sedikit menjadi anak - anak.
" Tenang saja, kami tidak lupa membawakan oleh - oleh untuk jomblo yang ada dirumah." Nita mengeluarkan dan menyerahkan satu paper bag besar oleh - oleh untuk Ani.
" Wah..., sebanyak ini untuk aku Nit..?!" Kamu memang yang terbaik banget.
Ani mencium pipi Nita dengan semangat, Rian dan Nita tersenyum senang melihat Ani bahagia.
" Terima kasih ya, aku kekamar dulu mau lihat ada apa didalam tas besar ini." Ani berlari ke kamarnya dan tidak sabar ingin melihat semua yang ada didalam tas itu.
" Terima kasih ya mas.."
" Oh ya mas mau minum apa biar Nita ambilkan." ujar Nita ingin berjalan kearah dapur.
__ADS_1
" Tidak usah Nit, mas mau langsung pulang saja." Mas mau istirahat dirumah, rasanya penat banget." Kan gak mungkin mas tidur dirumah kamu, karena kita belum menikah." Lain cerita kalau sudah sah jadi istri mas nanti." Rian menggoda Nita dan berjalan keluar rumah karena supirnya sudah menunggunya diluar.
Nita hanya diam tetapi wajahnya merah merona, dia sedikit malu dengan ucapan Rian tadi.