
Minggu pagi orang - orang semakin sibuk, bahkan ada yang bergadang dan saling berkumpul semalaman.
Hari ini Rian semakin gugup, Nita pun juga begitu. Keduanya terlihat sangat gelisah sekali, Rian sempat tidak hapal ucapan ijab kabulnya.
Semalaman dia sudah belajar dan melafalkannya berulang kali. Tetapi disaat waktunya sudah dekat, seketika Rian blank kata - kata itu dan rasa paniknya semakin parah.
Nita menelpon Rian yang ada di rumah kerabat budenya.
" Hallo mas, bagaimana apakah semua baik - baik saja mas..?" Tanya Nita yang juga gelisah.
" Semua aman kok sayang.., tenang saja kamu jangan khawatir." Mas gak apa - apa kok." Rian bergetar dan keringat dingin.
" Oh oke kalau begitu mas, Nita senang mendengarnya." Mas jangan lupa bacaan ijab kabulnya ya mas." ucap Nita dan langsung menutup pembicaraan dari ponselnya.
Rian melirik jam tangan yang ada di tangannya, sekarang sudah pukul 8 pagi. Dan satu jam lagi akan mengucapkan ijab kabulnya disana.
Rian pun mencoba - coba lagi sambil mondar - mandir diruang tamu rumah itu.
" Nak, sarapan dulu kamu nya, nanti perut kosong bisa lemas." Sarapannya sudah ada di meja makan sana, masih ada waktu untuk sarapan pagi." terdengar suara dari wanita paruh baya yang menyuruh Rian untuk makan.
" Iya bu." kata Rian.
Dan wanita itu pun berlalu pergi entah kemana, dirumah itu cuma ada tiga orang saja. Suami istri dan anak laki - laki yang baru saja beranjak remaja, dan dia masih tidur dikamarnya. Tadi malam Rian tidur bersama anak laki - laki itu, dan mereka sudah sangat akrab.
Rian pun pergi ke dapur dan menghampiri meja makan untuk sarapan sejenak.
" Mungkin aku dari tadi blank karena belum sarapan." Dan otak ku belum ternutrisi pagi ini." Atau otak ku sudah penuh oleh Nita saja ya ?" Aku jadi gak bisa mengingat yang lainnya." Heru berkata dalam hatinya.
***
Panji sedang ada di Jakarta saat ini, dia mengunjungi mama tirinya. Dan ketika masuk kedalam rumah, Panji melihat ada Linda dirumah mamanya.
" Panji..?" Kau datang kesini tanpa memberi kabar pada ku..?" mamanya menyapa Panji.
" Iya ma, aku cuma mau mengambil barang - barang ku saja." Dan setelah itu akan pergi dari sini." ucap Panji yang langsung masuk dan tanpa menyapa Linda atau siapa pun.
__ADS_1
" Papa Panji...!" teriak Ririn.
" Papa kemana saja, Ririn sangat rindu sekali." ujar Ririn lagi.
" Ririn, ayo kesini..?!" ucap Linda.
" Dia itu bukan papa kamu, papa kamu yang sebenarnya papa Yadi." Kamu bisa dapat masalah kalau kamu memanggilnya papa dan terdengar oleh papa Yadi." Linda langsung menarik anaknya untuk tidak menghampiri Panji.
Mamanya menghampiri Panji ke kamarnya, "kamu mau kemana nak?" keluar kota kah ?" Tapi kenapa semua barang kamu di masukan ke koper kamu ?" mamanya heran melihat Panji.
" Tidak ma, aku akan pindah dan tidak akan kembali lagi kesini." Sepertinya sudah saatnya aku lebih baik tinggal sendiri dan mandiri." Mama kandung ku juga sudah tiada dan tak akan adil bila aku tetap disini bersama mu." ujar Panji.
" Dan satu lagi ma, aku mau kau keluar dari rumah ini." Karena aku akan menjualnya dan seperempat hasil penjualan akan ku berikan kepada mu dalam bentuk rumah kecil sebagai ucapan terima kasih ku." kata Panji lagi.
" Apa yang kau bicarakan Panji !" Plak !" mama menamparnya.
Namun Panji hanya diam dan tidak menghiraukan, dia terus saja memasukkan barang - barang ke dalam kopernya.
" Panji !" Kau tidak bisa berbuat itu pada ku..!" Ini adalah rumah ku yang di berikan papa mu untuk ku, apa kau mengerti ?!" Emosinya mulai memuncak.
" Ma, aku sudah punya bukti dan surat - surat rumah ini." Jadi tolong jangan bilang apa pun lagi kepada ku tentang kebohongan." Panji membuka semua kebohongan yang dilakukan mama tirinya.
Panji menceritakan apa saja yang dia sudah ketahui, tentang Linda yang ternyata anak kandungnya. Dan cerita masa lalunya yang dia sembunyikan dari Panji sekian lama.
Setelah Panji siap mengeluarkan kecewanya dia pergi begitu saja meninggalkan mamanya dan rumah itu juga. Dia juga sudah menelpon seseorang untuk melelang rumahnya dengan harga 500 juta.
Panji sangat kesal atas sikap mamanya yang sudah membohongi dari dahulu.
Kini dia tidak akan pernah mendengar cakap mamanya lagi.
***
Rian sudah datang kerumah Nita untuk melangsungkan pernikahan. Nita masih di dalam kamar, sebelum ijab kabul di sah kan maka Nita tidak boleh keluar dari kamar. Dan belum boleh bertatap muka, Nita mulai keringat dingin dan tidak fokus ke yang lain. Dari dalam kamar dia hanya fokus ke suara Rian yang akan mengucapkan ijab kabul saja.
" Mbak..?" Mbak Nita..?" Hem, mbak..?!" perias memanggilnya.
__ADS_1
" Oh, maaf mbak, saya tidak mendengar." Ada apa mbak..?" tanya Nita.
" Mbak, jangan gugup begitu." Dan satu ini qa buklagi apakah mbak sudah sarapan..?" biar saya ambilkan sarapannya ya mbak..?" tanya periasnya.
" Iya mbak, saya sebenarnya belum sarapan." Dan ini mulai lapar banget dari tadi." ucapnya.
Tiba - tiba Nita mendengar sesuatu.
" Sah..! Sah.., Alhamdulillah.." Suara semua orang yang menyaksikan ijab kabul.
" Nita.., nak mari sini." ucap pakde ( suaminya bude ).
Nita keluar dari kamar dan menemui Rian disana. Nita sangat cantik dan anggun, Rian hampir melongo melihat Nita kali ini sangat berbeda seperti biasanya.
Nita sangat mempesona, dan semua orang juga terpesona melihat Nita yang cantik seperti barbie hidup.
" Nita ?" Ini kamu sayang ?" tanya Rian sedikit berbisik.
" Iya mas.." Nita menjawabnya.
" Nak.., ini suami mu sekarang." Kalian sudah resmi menjadi suami dan istri sekarang." ucap penghulunya.
Nita tersenyum dan menoleh ke arah Rian saat itu juga, dia mencium tangan Rian sebagai tanda bahwa Rian adalah suami sahnya.
Rian menyentuh kepala Nita dan menangis karena bahagia, Rian sangat terharu dan senang Nita sudah menjadi istri sah sekarang. Rian sangat memimpikan hari itu dan saat itu terjadi, Rian berjanji dalam hati kecilnya akan selalu membahagiakan Nita bagaimana pun.
Nita pun merasa bersyukur dalam perjalanan hidupnya saat ini. Nita dan Rian pun sungkeman ke Pakde dan Budenya, orang tua Rian hanya melalui video call saja. Mamanya Rian sangat terharu sekarang mereka sudah resmi dan kini anaknya sudah mempunyai keluarganya kecilnya sendiri.
***
Ani masih terus mencoba mendekati Aris abang sepupunya Nita, Aris awalnya risih dengan tingkah Ani. Tetapi ternyata selama banyak berbincang - bincang bersama, Ani orangnya sangat smart dan sangat dewasa.
Selama acara berlangsung Aris dan Ani saling pandang - pandangan. Nita sempat memperhatikan mereka saling berpandangan dan melempar senyuman.
Mungkinkah akan ada cinta yang tumbuh diantara mereka..?"
__ADS_1