
🌟 Sore itu Aris menjemput Ani dari kantornya, semua karyawan kantor pada heran dengan Aris yang menunggu di luar mobilnya Nita.
" Hei supir siapa itu ya? tampan juga, lihat tubuhnya wow...! kekar bange....t." ucap para karyawan wanita yang terkesima dengan Aris.
Lalu Ani yang bergegas ingin pulang heran melihat para karyawan wanita berkumpul bersama dan saling berbicara.
Ani menguping pembicaraan mereka yang bertanya - tanya seorang pria tampan yang mereka ceritakan.
Ani jadi penasaran dan ikut melihat ke arah bawah bersama mereka, ternyata Ani melihat Aris disana. Dan mengerti siapa yang mereka jadikan bahan cerita, dan yang mereka puji tampan itu.
" Hem..., awas kalian yah akan aku beri kalian pelajaran nanti." Ani kesal karena Aris jadi bahan imajinasi mereka.
" Hai mas..." Ani melambaikan tangannya.
Lalu Ani merangkul leher Aris dengan kedua tangannya. Ani ingin memperlihatkan kepada para karyawan wanita yang di atas gedung itu bahwa Aris miliknya seorang.
" Wah..., ternyata mereka sepasang kekasih. Ani keren sekali pacarnya, dan aku baru lihat pacarnya Ani kali ini." mereka heboh dan pada patah hati.
Ani dan Aris pun pergi pulang dengan mobil Nita, Ani begitu senang karena sudah membuat mereka kecewa.
" Tuh, makanya jangan kepo sama pacar orang. Pantang lihat yang manis dan ganteng dikit. Hahaha..." Ani tertawa dalam hati.
Ani menatap Aris yang sedang menyetir, padahal Ani dulu juga gitu pantang lihat Aris yang ganteng langsung di sosor terus sampai kecantol.
Kini Aris sudah kecantol duluan deh dengan sikap periang dan kelembutan Ani. Aris tak membawa Ani langsung pulang dia membelokkan mobilnya ke suatu tempat
Ani juga tak tahu mau di bawa kemana Ani saat ini.
" Mas, kita mau kemana?" tanya Ani.
" Mau jalan - jalan sebentar Ani, ada yang mau mas bilang ke Ani nanti." kata Aris sambil membelokkan lagi mobilnya masuk ke area pantai.
" Wah, kita ke pantai mas? Ani suka banget kesini... hem... hah..." Ani menghirup udara pantai dan menghembuskan.
Rambut Ani tergerai indah di tiup hembusan angin di pantai saat itu.
Aris terpesona melihat Ani, dia sangat cantik sekali hari ini.
Aris berjalan menghampiri Ani dan memegang tangan di bawah sinar mata hari senja. Ani terkejut dan melihat ke arah Aris, tangan Aris menyentuh pipinya Ani.
__ADS_1
" Ada apa mas? kenapa sepertinya kamu sedikit gundah?" Ani bertanya menatap wajah Aris.
Aris sedikit gugup untuk mengatakan kepada Ani kekasihnya.
" Ani, mas akan pergi pulang ke Makasar besok. Mas nanti malam akan pesat tiket pesawatnya." Aris berbicara lalu terdiam sesaat.
Aris masih menggenggam tangan Ani saat itu, Ani terdiam dan menundukkan kepalanya.
" Mas pulang untuk membicarakan persoalan kita ke orang tua mas. Dan mas juga harus mengurus surat beberapa berkas ke kantor pusat tempat mas bekerja." Aris menjelaskan.
Aris mengangkat wajah Ani yang tertunduk, dia terisak menangis saat mengetahui kabar itu dari mulut Aris.
" Sudah jangan menangis dong... mas kan pulang untuk mengurus tentang kita juga kan. Nanti bila sudah pasti harinya kau akan mas kabari dan bisa pulang ke kampung halaman."
" Kita bisa melangsungkan Lamarannya di rumah orang tua kamu sayang." ucap Aris.
Ani sangat sedih, dia memeluk Aris saat itu juga, Aris pun mengerti dengan perasaannya Ani saat ini. Aris pun mengelus punggung Ani untuk menenangkannya.
" Mas, aku sangat mencintai mu. Sudah terlalu lama aku menunggu kamu mas, kali ini tolong jangan suruh aku menunggu mu untuk setahun lagi ya mas." kata Ani berbicara dalam pelukan Aris.
Setelah puas melepas perasaan mereka dan Aris sudah menyampaikan semuanya, mereka pun pulang kerumah karena hari sudah malam.
" Mas Aris, Ani, ayo makan malam bersama kita. Dari tadi sudah di tunggu juga sampai aku kelaparan, ya kan mas? hehehe..." Nita dan Rian tertawa kecil.
Ani dan Aris pun ikutan makan malam bersama dimeja makan.
Sangat terasa kebersamaan mereka disana, dan art mereka sangat senang bisa bekerja dengan mereka.
Makan malam kali ini tak kalah lezat, art nya sudah memasak dari Nita pulang dari rumah sakit. Nita dan Ani sangat suka sekali dan merasa puas dan kenyang.
1 jam kemudian
Ani dan Aris sudah masuk ke dalam kamar mereka masing - masing. Sekarang sudah pukul 23:50 malam, tapi mata Ani belum bisa tertutup untuk segera tidur.
Ani masih teringat perkataan Aris yang besok harus balik ke Makasar di kampung halamannya.
Ani jadi dilema dan gelisah malam itu jadi dia tak dapat memejamkan matanya.
Aris pun juga begitu, dia juga masih memikirkan bagaimana nanti dengan Siva yang selama ini menyukainya tetapi orang tuanya tak suka pada Aris.
__ADS_1
Ternyata Aris pernah merasa hal pahit dalam urusan percintaannya.
Orang tua Siva saat itu membawa Siva kuliah ke luar negri. Dan itu yang Aris tahu dari teman Nita yang ada di Makasar.
Setelah lelah lama berpikir Aris dan Ani pun tertidur di kamar mereka masing - masing.
Sampai keesokan paginya terbangun dari mimpi mereka semalam.
" Hoam..., sudah pagi saja pun. Padahal aku masih mengantuk, tadi malam tidur jam berapa aku ya? Ani bertanya dalam hatinya.
Lalu Ani bergegas bangun dan segera mandi untuk pergi ke kantornya.
" Pagi !" ucap Ani.
" Hai Ani, kita pergi bersama ya ke kantornya." ujar Nita.
" Loh, kamu ke kantor juga? bukannya kamu masih sakit?" Ani sedikit heran.
" Gak apa - apa, aku masih bisa duduk di kursi roda ini kan. Lagian tidak akan menghalangi pekerjaan ku." ucap Nita yang bersi keras.
Ani melihat ke arah Rian, namun Rian hanya menghela nafasnya. Ani pun mengerti dan dia lalu terdiam dan duduk untuk sarapan.
" Mas Aris kemana Nita? apa belum bangun ya?" tanya Ani yang mencari.
" Mas Aris sudah bangun duluan dari pagi, katanya mau ke bandara memesan tiket sama mau paking barang untuk di paketkan." Nita memberi tahunya.
Ani mengerti dan dia kembali memakan sarapan paginya itu. Ani juga meminum air putih dan makan vitamin untuk kesehatan tubuhnya.
Setelah beberapa menit, Rian sudah menghabiskan makanannya dan berpamitan ke Nita istrinya untuk pergi ke kantornya duluan.
" Nita mas boleh pergi duluan sekarang? mas masih ada rapat penting pagi ini dengan pak Yosep." Tian berkata demikian.
" Baiklah mas, tak apa Nita bisa sendiri kok." ucap Nita.
" Tak apa mas Rian, masih ada Ani yang siap membantu. hehehe..." Ani tersenyum.
" Ani maaf ya merepotkan mu. Dan terima kasih sudah membantu." ucap Rian yang menghargai Ani.
Rian pun pergi ke kantornya dan tak beberapa lama Ani dan Nita pun menyusul pergi berangkat juga ke kantor mereka.
__ADS_1