PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU

PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU
Bab 118. Kehidupan Baru di Mulai


__ADS_3

Pagi itu...


"Dokter! dokter!" suster itu berlari memangil dokter.


"Dok pasien yang di ruang 09 itu sudah sadar, namun istrinya belum." mereka bergegas ke sana dan melihatnya.


Rian tersadar dari komanya sudah hampir setahun, dan dia melihat di sekelilingnya. Ruangan semua serba putih dan begitu banyak aroma obat-obat disana.


"Aku ada dimana ini? kenapa sakit sekali badan ku dan kepala ku." berkata dalam hatinya.


Dokter dan suster masuk ke ruangan itu, dan Rian pun terkejut melihat mereka dengan sigap memeriksa dirinya.


"Kau sudah sadar? apa ada yang sakit kau rasakan?" tanya dokter itu.


"Kepala ku sedikit sakit dan tubuh ku juga. Tapi.., mengapa aku sekarang ada disini?" tanya Rian kepada mereka.


"Kau kecelakaan dan baru sadar sekarang dari setahun lamanya." kata dokter tersebut.


"Jadi maksud dokter saya koma? Dan baru sadar 1tahun kemudian?" Rian terkejut mendengar ucapan dokter itu.


"Ya dan itu istri mu. Dia juga ada bersama mu saat di temukan, kalian berpegangan saat terdampar di pulau ini." ujar dokter itu lagi.


Rian menoleh ke sampingnya melihat Nita disana, namun dia merasa bahwa dia belum menikah. Semakin dia berpikir kepalanya terasa sakit, dan tak bisa ditahannya.


"Ais.., kepala ku sakit sekali dokter...!" ucap Rian memegangi kepalanya.


"Sudah kau jangan terlalu banyak berpikir, perlahan saja dan pelan-pelan saja." dokter itu memberi saran ke Rian saat itu juga.


Rian pun mengerti dan mengikutinya, namun Rian masih bingung karena dia merasa belum menikah dengan siapa pun.


"Kenapa dokter itu bilang aku bersama wanita itu ya?" dalam hatinya berbicara.


Rian masih terus memandanginya dan melihat Nita yang masih belum sadarkan diri dari komanya.


Dokter dan suster itu sudah meninggalkannya di ruangan itu, mereka pergi untuk mengecek pasien yang lainnya dan ada satu pasien yang kecelakaan dan harus di operasi.


Rian pun mencoba sedikit-sedikit untuk terus berpikir sebenarnya siapa dirinya. Dan sebenarnya apa yang terjadi saat itu, dia mencoba untuk mengingatnya kembali sekali lagi.


***


Ani dan Aris pergi liburan, mereka sangat ingin membawa Bisma bersamanya. Namun mama melarang karena khawatir Bisma akan capek di jalan. Sedangkan omanya ingin Bisma bersama dengannya, karena memang sudah lama gak bertemu atau merawatnya.


Mamanya Aris juga senang karena itu cucu pertamanya yang sangat menggemaskan sekali. Akhirnya Ani dan Aris pergi yang dekat saja, agar tak terlalu lama meninggalkan Bisma dan bisa kembali segera ke Amerika.


***

__ADS_1


Stella malam itu tak di kasih papanya pergi ke luar bersama Alex, bahkan papanya. Lalu papanya mengajak Stella keluar untuk makan malam bersama rekan bisnis lamanya yang baru saja kembali dari London.


Sampainya disana Stella dan papanya duduk di kursi meja no 06, dan masih menunggu teman papanya disana.


"Selamat malam pak Rahmat.." ujar teman papanya Stella.


" Oh pak Danu Hermawan, apa kabar, apa kabar.." ucap pak Rahmat.


"Sudah lama menunggu ya pak Rahmat?" tanya pak Danu.


"Gak kok.., kita juga baru sampai dan menunggu bapak serta nak Rizwan datang.


Mereka saling berjabat tangan dan Stella juga ikut berdiri untuk menghormati teman papanya.


"Oh ini nak Stella anak kamu yang imut dulu itu?"


"Padahal dulu masih kecil perasa om gendong, sekarang sudah dewasa dan cantik pula." om Danu memujinya.


"Ah, om Danu bisa saja memujinya." Stella mencoba mencairkan suasana hatinya.


Mereka pun memesan makanan dan menikmati, Rizwan selalu mencuri pandang kepada Stella.


Rizwan terlihat tertarik dengan Stella dan dia mengajak Stella berbicara bersama.


Papa dan pak Danu mengerti akan perasaan anak muda, lalu pak Danu dan papanya Stella menepi sejenak ke meja yang lain.


"Baik om." ujar Rizwan.


Rizwan seorang pria yang baik dan berpendidikan, dia juga merupakan seorang pebisnis muda yang sukses.


Rizwan mengajak ngobrol Stella berbagai macam obrolan, dan terlihat Stella nyaman bersamanya.


Lalu mata Stella tertuju ke satu arah, melihat seorang pria yang duduk disudut cafe itu. Stella sangat familiar dengan pria itu, lalu Stella menghampiri karena sangking penasarannya.


"Maaf mas Rizwan saya harus ke sana sebentar saja." ucap Stella kepada Rizwan.


"Baiklah Stella, silahkan." ucap Rizwan dengan sopan.


Stella mendatangi pria yang dia duga itu adalah Alex, saat mendekat terlihat Alex tertawa bahagia. Alex lalu mencium bibir wanita yang ada bersamanya dengan sangat semangat.


"Alex..?!" Stella memanggilnya.


"Iya, siapa?" tanya Alex dan membalikkan tubuhnya.


Plak !"

__ADS_1


Plak !"


Stella menamparnya dengan sekuat tenaganya, wanita itu pun marah kepada Stella.


"Kau siapa yang berani menampar pacar ku!" ujarnya.


" Oh, kamu pacarnya sudah berapa lama bersama?" tanya Stella.


"Kami sudah lama bahkan sudah mau menikah. Kenapa rupanya sama kamu? Apa ada masalah kamu rupanya pada Alex?" tanya wanita itu.


"Oh, gak ada masalah kok sekarang kalau tadi iya, saya permisi dulu ya?" Stella pun pergi dari sana.


Rizwan yang melihat Stella pergi mengejarnya, dan menelpon papanya untuk pulang sama pak Rahmat. Nanti Stella akan pulang bersamanya dan diantar sampai ke rumah.


Papanya Rizwan mengerti dan paham dari pembicaraan tersebut.


Rizwan mengejar Stella yang menangis dan duduk di taman cafe itu.


"Stella?!"


"Stella?!"


Rizwan berlari dan masih mengejar, dan duduk di samping Stella.


"Hosh..., hosh..., kau kenapa lari Stella, aku capek mengejar mu." ujar Rizwan yang tak memperhatikannya.


"Hiks, hiks, maaf ya mas Rizwan. Aku..., hua..., hiks," Stella tak bisa menahan emosinya.


"Stella kau kenapa?! aku salah pada mu ya? maafkan aku ya Stella..." Rizwan sedikit panik.


Stella memeluk Rizwan dan menangis di bahu Rizwan, Stella menangis disana sampai sesenggukan.


Riswan pun hanya diam dan membiarkan Stella menangis sampai dia puas.


Rizwan pun memeluknya dan menenangkannya, Rizwan tak mengerti apa yang terjadi pada Stella.


Namun dia tahu kalau Stella saat ini sedang terluka hatinya tetapi Rizwan tak tahu apa sebabnya.


Akhirnya Stella pun berhenti menangis karena sudah puas mencurahkan kesedihannya. Rizwan menepuk punggungnya dan memberikan sapu tangan kepada Stella saat itu.


"Terima kasih ya mas, maaf kemejanya basah karena aku nangis tadi. Aku hanya lagi sedih saja dan maaf tidak bisa menahan emosinya." kata Stella ke Rizwan.


"Aduh papa mas?!" Stella menghawatirkan papanya.


"Tenang saja, pak Rahmat sudah diantar pulang sama papa ku. Em..., mas juga sudah bilang kalau kamu nanti aku yang antar pulang sampai ke rumah." Rizwan menjelaskan.

__ADS_1


"Oh, begitu mas." Stella jadi malu dan sedikit panik tadi.


Rizwan dan Stella pun hanya duduk di taman saja malam itu, dan Stella belum mau bicara tentang Alex. Karena baginya Rizwan masih orang baru baginya jadi Stella belum mau terbuka sangat pada pria itu.


__ADS_2