
Rian menemui Nita dirumahnya, sekalian menjenguk Ani. Keadaan Ani sudah mulai membaik, tetapi dia masih malu dan menjadi pendiam saat ini. Jiwanya masih terguncang, Rian mengajukan ide ke Nita untuk membawa Ani keluar dan bersosialisasi dengan orang sekitar.
" Nita kita ajak saja dia kepantai, agar dia tidak bosan dirumah terus." usul Rian untuk Ani dan Nita.
" Boleh mas, asal mas tidak sibuk hari ini." ujar Nita dan dia sebenarnya juga ingin keluar.
" kalau mas yang mengajak berarti mas ada waktu dong Nit..?!" Rian tersenyum saat Nita menggodanya.
Ani masih menonton tv diruang depan, sedangkan Nita lagi menyelesaikan cucian piringnya bersama Rian yang duduk dikursi meja makan.
Nita cepat - cepat menyelesaikan pekerjaannya, lalu pergi keruang depan dan mengajak Ani untuk ikut bersamanya.
Ani pun mengikuti kemana Nita ingin pergi, Nita menarik dan membawanya.
Rian segera membuka pintu mobilnya dan menghidupkan mesin mobil itu. Rian pun membawa mereka pergi kepantai dan menikmati suasana disana.
Mereka membiarkan Ani berjalan sendiri dipinggiran laut, agar pikiran dan hatinya menjadi tenang.
Rian menghampiri dan menggenggam tangan Nita, dan menghentikan langkah kaki Nita saat itu juga.
" Ada apa mas..?" kenapa kamu menghentikan aku..?" ujar Nita yang ingin tahu kenapa Rian begitu.
" Nit, ada yang mas mau bicarakan ke kamu, dan ini memang sudah mas pikirkan baik - baik." Rian mencoba menenangkan diri dan menarik nafasnya.
" Nit, mas ingin melamar kamu dan dalam waktu dekat mas mau menikahi mu, apakah kamu mau menjadi istri mas Nit..?" Rian dengan menahan rasa gugupnya dan mengumpulkan keberanian menatap Nita dan mengutarakannya.
" Maksud mas, mas ingin kita ke hubungan yang lebih serius lagi mas..?" Kalau Nita sih mau mas, tetapi belum bisa untuk diwaktu yang dekat." Nita masih ingin berkarir dulu mas.., tetapi kalau hanya tunangan dulu... Nita bisa lakukan kok mas.." ucap Nita sambil tangan yang satunya lagi memegang tangan Rian dan bibirnya tersenyum.
Rian senang mendengar perkataan Nita, dia mencium tangan Nita dengan kelembutan.
Terlihat Ani duduk diatas pasir putih dan sedang melihat jauh kearah lautan.
Wajahnya sekarang terlihat cerah dan segar, Nita dan Rian datang menghampirinya.
" An, kita pulang yuk..?!" Hari sudah mulai gelap, kapan - kapan kita akan datang lagi kesini." ujar Nita memegang bahu Ani.
" Baiklah Nita, kita pulang sekarang." Ayo kita pulang aku juga sudah penat dan mau istirahat." Ani sudah mulai mau banyak bicara.
__ADS_1
Rian, Nita dan Ani jalan menuju dimana mobil mereka terparkir. Rian membukakan pintu belakang dan pintu depan untuk kedua wanita itu. Ani dan Nita pun masuk kedalamnya, Ani duduk dan menutup pintu mobilnya.
Begitu juga dengan Nita, dan Rian pun menyalakan mesin mobilnya. Rian membelokkan setir itu, menginjak pedal gasnya dan melajukan mobilnya keluar dari area pantai menuju jalan pulang kembali kerumah Nita.
" Mas Rian, Nita..., terima kasih sudah membawa ku jalan - jalan hari ini." Aku sangat senang dan membuat pikiran ku tenang." Ani berterima kasih karena sahabatnya sangat perhatian dengannya.
***
Semakin hari, berganti Minggu dan berganti bulan. Ani sudah membaik dan percaya dirinya perlahan mulai kembali.
Tetapi Ani yang sekarang menjadi sedikit pendiam dan tidak terlalu banyak berinteraksi dengan orang - orang. Dia hanya banyak berbicara kepada Nita saja, dan lebih banyak fokus kepekerjannya. Saat tahun baru Ani pulang ke kampungnya, dia menjenguk orang tua dan adiknya yang sebentar lagi akan kuliah.
" Mbak kapan datang..?" Sudah lama sekali mbak gak pulang, Adi sangat kangen sama mbak." Adi adik Ani memeluk mbaknya.
" Kalau kangen kenapa gak pernah telpon mbak saja..?!" ujar Ani yang mengelus kepala Adi.
" Ibu gak kasih mbak.., kata ibu nanti aku malah mengganggu mbak disana." Adi mengerutkan alisnya dan wajahnya cemberut kepada Ani.
" Kalau sesekali telpon kan gak apa - apa sih buk.., kasihan Adi harus menanggung rindunya." Ani membuat ibunya terdiam, karena Ani tahu ibunya pasti juga sangat merindukannya.
Ani tidak memberi tahukan kejadian yang pernah menimpanya waktu itu. Ani masih bisa menerimanya dan menyimpannya dalam hati.
***
Sofi terkejut dan mencari tahu siapa Linda itu, dan Sofi tahu bahwa dia berada di Jakarta.
Orang suruhan Sofi mendapatkan alamat dan lokasi dimana wanita yang Sofi cari - cari.
Sofi mendatangi Linda dirumahnya, dan melabrak langsung kerumah Linda.
" Tok, tok, tok.." suara pintu rumah Linda diketuk oleh Sofi dari luar.
" Siapa ya..?" Tunggu sebentar..?!"
" Siapa sih yang datang mengetuknya kencang banget." Linda menghampiri orang yang ada diluar rumahnya itu.
" Ya.., cari siapa ya mbak..?" Linda bertanya karena dia tidak mengenal wanita yang ada di hadapannya.
__ADS_1
" Saya mencari wanita yang namanya Linda..?!" Apa benar ini rumahnya Linda..?" Sofi bertanya dengan suaranya yang sedikit ketus.
" Iya benar ini rumahnya mbak.., dan saya adalah Linda." Mbak siapa ya.., dan ada apa mencari saya..?" Linda sedikit heran dengan wanita itu.
" Saya istrinya mas Yadi, pria yang selalu mentransfer uang kepada mu." Dan yang sudah kamu goda dia." Sofi mulai kesal setelah tahu wanita yang didepannya itu adalah Linda yang dia cari.
" Oh, kamu istrinya mas Yadi." Kenapa datang kesini..?" tanya Linda yang langsung bersikap ketus bicaranya.
" Saya beri kamu peringatan ya, jangan ganggu rumah tangga saya." Kalau kamu mau uang kerja dong, jangan minta sama lelaki orang dan menjadi pelakor." ujar Sofi menyebutkan Linda seorang pelakor.
" Plak..!" Linda menampar wajah Sofi dengan kuat.
" Mama..." Ririn memanggil dan menghampiri Linda.
" Iya sayang.., kamu kedalam dulu ya.. mama ada tamu." Sebentar saja, nanti mama kesana." ucap Linda memberi tahu Ririn anaknya.
Ririn pun menuruti perkataan Linda mamanya, dia masuk kembali dan pergi dari situ.
Sofi melihat Ririn dan Linda yang sedang berbicara.
Sofi baru tahu kalau Linda mempunyai anak dan ternyata Yadi bersama wanita yang sudah ada anaknya.
" Dengar ya kamu, jaga mulut mu kalau bicara." Siapa yang kamu bilang pelakor ?!" Asal kamu tahu sebelum mas Yadi bersama mu, dia itu sudah bersama ku." Linda terlihat marah dan kesal kepada Sofi.
" Maksud kamu, itu tadi anak kamu dan mas Yadi..?" Dan sebenarnya..." Sofi tidak melanjutkan perkataannya lagi.
" Aku tidak perduli akan itu, yang terpenting sekarang mas Yadi sudah bersama ku..!" Dan kamu jangan mempermainkan dan mengganggu aku dan mas Yadi sekarang." Sofi menunjuk wajah Linda.
" Memang siapa kamu, kalau mas Yadi mau aku bisa bilang tinggali kamu kok." ujar Linda dengan sombong.
" Plak, plak..!" Sofi menampar wajah Linda sampai dua kali.
" Kamu tambah kurang ajar dengan saya ya." Jangan main - main dengan saya, kamu bisa saya laporkan ke polisi dan memenjarakan kamu kalau masih begitu terus." Ingat saya punya uang dan segalanya, sedangkan kamu punya apa..?!" uang saja minta sama suami orang." ucap Sofi dengan suara lantangnya.
Seluruh ibu - ibu dan tetangga keluar dari rumahnya karena mendengar mereka bertengkar.
Mereka berbisik - bisik menceritakan Linda dan Sofi yang semakin tak terkendali.
__ADS_1
Sofi pergi dari rumah Linda daan masuk ke mobilnya, dia akan membuat perhitungan lagi nanti ke Linda bila masih juga tidak berhenti menggoda Yadi.