
🍁 Pagi itu Rian sudah ingat semuanya, dan dia teringat akan anaknya Bisma di rumah bersama mamanya dan Silvi disana.
Nita masih belum sadar dan dia melihat ke arahnya Nita.
"Nita..!"
"Nita..!"
"Kau kenapa belum sadar juga sayang..?" Rian bangkit dari tidurnya dan berjalan mendekat ke arah Nita yang terbaring di atas tempat tidurnya.
Lalu dokter masuk bersama suster datang untuk mengecek setiap harinya.
"Dok, bagaimana dengan istri saya Nita dok? apakah dia masih bernafas saat ini? saya sangat berharap dia segara sadar dan kami akan segera pulang ke rumah kami di Amerika." ujar Rian sambil menangis karena khawatir dengan istrinya Nita yang tak kunjung sadar juga.
Rian kemudian bingung untuk menghubungi keluarga mereka bagaimana. Tapi dokter menyarankan menunggu sebulan lagi kalau mau pulang ke Amerika setelah bisa memberi kabar keluarga.
Dan dokter juga belum izinkan Rian untuk balik ke sana karena mereka masih memantau perkembangan kepala Rian dan Nita yang terbentur karena kecelakaan itu.
***
Aris diam-diam masih mencari dan berusaha terus, padahal sudah 1 tahun lebih Rian dan Nita dinyatakan meninggal.
Aris dan Ani belum di karuniai anak, Ani masih belum hamil juga.
Namun mereka tak terlalu menghiraukan hal itu, karena ada Bisma bersama mereka.
Silvi sekarang rajin main kerumah dan tidur di rumah abangnya.
Bisma yang membuatnya sering main kesana dan karena juga kangen dengan semuanya.
Sebulan sudah berlalu...
Kini Silvi sudah menerima Pram untuk menjadi kekasihnya, dan bahkan Pram langsung melamarnya sekali lagi untuk yang ke dua kalinya.
Karena Silvi sudah melihat ke sungguhan hati Pram kepadanya, bahkan kesalahan yang lalu dia terima tak dilakukannya lagi.
Pram memang baik dan sangat dewasa dan dia juga sangat sayang pada Bisma anak Rian dan Nita.
Malam ini Silvi akan makan malam bersama dengan Pram di tempat yang sudah dia pesan tadi siang oleh Pram.
__ADS_1
Tidak ada yang spesial malam ini hanya saja Pram ingin bertemu lagi dengan Silvi pujaan hatinya dan bisa mengenalnya lebih dekat lagi.
Pram menjemput Silvi di rumahnya dan mengetuk pintu rumah itu.
Art membukakan pintu dan melihat begitu tampannya Pram malam ini, sehingga membuat art itu menjadi terpana.
"Mbak.., Silvi nya sudah siap belum?" tanya Pram dengan suara bas nya.
"Silahkan masuk dulu mas, mungkin sebentar lagi sudah akan turun kok."art nya berkata-kata sampai gemetaran.
Tak, tok, tak, tok..
Silvi turun dari kamarnya yang ada di lantai atas, dan Pram melihat kaki jenjang yang bergerak turun begitu menakjubkan di pandang.
Gaun merah yang dikenakannya begitu menawan dan sangat elegan dikenakannya. Pram tak berkedip memandang Silvi malam itu, dia sangat berbeda dari biasa. Malam ini Silvi terlihat sangat dewasa dan begitu anggun sekali, mata Pram tak bisa berpaling darinya, dan mulutnya tak bisa berkata apa-apa.
"Ayo mas, aku sudah siap pergi." Silvi mengajak Pram untuk segera pergi bersama.
"I... iya mari kita be..rangkat sekarang juga." Pram berbicara terbata-bata.
Silvi sudah jalan duluan di depan menghampiri mobilnya Pram, lalu Pram dengan seger membukakan pintu mobilnya untuk Silvi wanita pujaannya yang sekarang.
Lalu Pram mengajak Silvi ke ruangan itu, mereka pun menikmati makan malam berdua saja disana. Sehingga mereka berdua lebih pribadi dan mengobrol pun jadi nyaman saat sedang makan.
***
Bella dan Imel sekarang masih di dalam penjara, mereka masih tak bisa tenang saat belum bisa menghancurkan keluarga Rian dan Nita.
Baru-baru ini Bella dan Imel memiliki rencana besar dan sangat jahat.
Walau mereka masih di penjara, tetapi kaki tangan mereka masih berkeliaran di luar sana.
Bella menelpon Dian sang pacar Imel yang rela melakukan apa saja untuk dirinya. Lalu siang itu Dian datang menjenguknya di dalam penjara, maka kesempatan Imel membicarakan kepada pacarnya tersebut.
Imel pun bertemu dan membicarakan rencananya kepada Dian, mereka semua bersekongkol dan ingin memusnahkan seluruh anggota keluarga dari Rian saat itu juga.
Bella dan Imel sangat membenci mereka semua, namun sampai saat ini masih ada keluarganya yang masih 1 bahagia.
Bella juga sudah tahu kalau mamanya Rian yang pernah menampar pipinya sudah meninggal dunia.
__ADS_1
Dian pun pulang dan mulai menyusun rencananya serta memantau dulu rumah Rian beberapa hari ini.
Art sudah sedikit curiga dan merasa ada yang selalu melihat atau memantaunya dari kejauhan. Tapi art yang khusus menjaga Bisma selalu waspada dan berhati-hati.
"Permisi mbak.., saya mau tanya alamat teman saya. Apa benar ini rumah mbak Silvi ya?" tanya seorang pria yang sangat tampan.
Baby susternya itu tidak menaruh curiga karena pakaian dan gaya pria itu sangat sopan dan terlihat orang berkelas.
Sehingga dia mendekat dan membawa Bisma yang sedang makan di stroller mendekat dan membuka pintu pagarnya.
Saat itu satpam sedang tidak ada di depan, dia pergi ke belakang ingin membuat kopi sebentar.
Saat merek menghampiri pria itu dan membuka pagarnya dia langsung membius susternya Bisma dan membawa lari Bisma dengan mobil yang dia kendarai.
Bisma tak ada menangis atau apa pun saat bersama penculiknya.
Bisma dengan santai dan menikmati perjalanannya bersama penculik tersebut.
Suster tadi sudah terjatuh di depan pagar di samping stroller Bisma saat itu. Pak satpam yang baru datang terkejut melihat pagar terbuka dan suster itu terjatuh di lantai. Dengan cepat satpam itu melihat Bisma di dalam stroller, namun sudah tidak ada.
Satpam langsung panik dan memanggil semua orang yang ada di dalam rumah itu.
Suster itu di bawa masuk ke dalam rumah dan disadarkan oleh mereka, lalu menanyakan kejadiannya.
Satpam segera telpon Ani dan Aris lalu menelpon menelpon polisi segera. karena ini kasus penculikan anak, maka polisi segera bertindak dan melakukan pencarian.
Ani dan Aris menjadi panik dan Ani terlihat sangat sedih, dia menangis dan menelpon Silvi segera.
Silvi pun segera pulang dari kantornya dan menemui Ani dirumahnya.
Semua lagi panik dan gelisah, karena Bisma masih kecil dan Ani takut Bisma akan kenapa-kenapa nantinya.
Ani berdoa dan dia masih terus menangis.
Bisma sudah di bawanya kabur dan di letakkan ke panti asuhan sama Dian hari itu juga. Bahkan Bisma masih tenang dan tak ada tangisan sedikit pun dari mulutnya.
Bisma memegang satu mainan dan memakai gelang kakinya yang ada ukiran nama mama dan papanya disana. Dian meletakkan Bisma di depan pintu panti asuhan dan mengetuk pintunya.
Lalu seorang wanita keluar dari pintu dan melihat Bisma disana duduk dengan tenang. Wanita itu melihat kesana dan kemari mencari orang yang meletakkan anak itu di tempatnya.
__ADS_1
Namun tak ada orang satu pun yang iya jumpai disana. Dan wanita itu segera membawa Bisma masuk karena tak ada seorang pun yang dia lihat diluar sana. Bisma yang malang, sudah kehilangan orang tua, kini harus berpisah dengan Ani dan tinggal di panti asuhan.