
🌟 Bisma sudah sampai dirumah kembali, para art nya sangat senang dan begitu juga pak satpam yang melihat Bisma dalam keadaan sehat.
Silvi yang pulang dari Malaysia, sangat antusias setelah sampai di bandara Amerika. Dia berlari dan dengan cepat keluar dari pesawat itu.
"Mas ayo cepat kita pulang ke rumah, Bisma sudah menunggu kita pasti." ucap Silvi yang membuat Pram geli mendengarnya.
Pram hanya menggelengkan kepalanya saja saat itu, Silvi sungguh sangat semangat dengan kehadiran Bisma ke rumah itu lagi. Pram dan Silvi sudah di jemput oleh supir pribadi kantor Pram.
"Pak tolong antar kami ke kompleks xxx rumah pak Rian." ucap Pram yang duduk di samping Silvi di belakang.
"Sayang hari ini kau tampak ceria dan begitu semangat, dan aku menyukainya sekali." ucap Pram kepada Silvi.
"Iya mas, aku sangat senang, dari sekian lama aku sudah begitu banyak menangis. Aku kira aku akan sendirian selamanya dan satu persatu meninggalkan ku." kata Silvi yang kembali murung.
"Oh, tidak-tidak. Kau tak akan sendiri lagi, aku akan menemani mu sampai akhir hayat kita bersama terus."Pram mengusap kepalanya Silvi dan mengecup kening gadis itu.
Setelah beberapa menit mereka sampai di depan rumah Rian dan Nita.
Silvi langsung keluar dari mobil Pram dan langsung berjalan masuk kedalam.
"Selamat datang mbak Silvi, apa kabar?" tanya Satpam rumah itu.
"Oh hai pak, aku sangat sehat dan bahagia. Dimana Bisma berada?" tanya Silvi yang terlihat sangat senang.
"Malaikat kecil yang lucu itu sekarang sedang tidur bersama bu Ani di kamarnya." ucap satpam itu yang juga sangat senang karena Bisma sudah kembali.
Silvi pun berlari masuk ke dalam rumahnya, dan Pram berada di belakang menyusul.
"Pak Pram anda juga kesini?" ucap satpamnya lagi.
"Iya pak." ucapnya Pram.
Pram pun ikut masuk kedalam rumah Rian, seluruh orang rumah belum tahu Rian dan Nita masih hidup. Hanya Ani dan Rian saja yang tahu dan itu pun masih di rahasiakan oleh Ani dan Aris dari art serta satpam mereka.
Silvi sudah tak terlihat lagi oleh Pram, dia sudah masuk kedalam kamar Bisma dan melihatnya dia tidur disana. Pram pun hanya duduk di ruang keluarga dan menikmati acara tv disana.
Art mereka menyuguhkan minuman dan camilan ada di atas meja tv itu.
Cukup lama Silvi di dalam kamar baby itu, dan meninggalkan Pram sendirian.
__ADS_1
Lalu Aris datang menghampiri Pram, dan bertanya keadaan Rian dan Nita disana. Pram pun menceritakannya kepada Aris bahwa mereka akan kembali ke Amerika bulan depan setelah dokter memeriksa sekali lagi keadaan mereka.
"Dokter ingin memastikan keadaan mereka untuk penerbangan ke Amerika nanti. Takutnya akan ada trauma dan kenapa-kenapa dengan kepala mereka lagi nantinya." Pram menjelaskan kepada Aris.
Aris juga membahas tentang penculikan itu, dan masih di selidiki siapa yang melakukannya kalau memang mereka lagi.
"Dari penjara juga sudah saya minta data siapa saja yang mengunjungi mereka setiap harinya." ucap Aris menjelaskan.
Bella setahun kemudian sudah bisa bebas karena ada yang membayar jaminannya. Sedangkan Imel belum bisa keluar dari penjara itu karena tak ada keluarga yang mau menjaminnya sedikit pun.
Sudah berbagai cara dilakukan Imel untuk menghubungi keluarganya, tapi mereka tak ada yang mau tahu kehidupan Imel. Bella berpura-pura tak mau tahu untuk itu, dan hanya diam saja.
Bella tak mau menjamin dan membebaskan Imel saat itu juga.
Bahkan Bella sudah melakukan sesuatu tanpa Imel mengetahuinya.
***
Seminggu kemudian...
Para polisi dan penjaga sudah memberi tahu ke Aris siapa saja yang menjenguk mereka di sel. Aris juga melihat dari kamera cctv penjara itu, Imel yang sering di kunjungi oleh Dian kekasihnya.
Imel masih bingung dan menyuruh kekasihnya untuk mencari uang sebagai jaminan dirinya keluar dari penjara.
Namun Dian tak bisa memenuhi keinginan Imel, biasanya Dian selalu hidup tergantung padanya. Dan Dian tak ada pekerjaan selama ini, kerjanya juga selalu mabuk dan berjudi saja.
Di belakang Imel juga Dian memiliki kekasih dan bahkan kali ini Bella dan Dian juga lagi dekat. Bella hanya menjadikan Dian sebagai suruhannya saja, tak lebih dari itu di dalam hatinya.
Aris pagi itu datang ke kantor polisi tersebut, dia ingin bertanya-tanya mengenai informasi mereka berdua.
Dan setelah ingin pulang tak sengaja Aris melihat Dian yang masuk dan ingin menjenguk.
Lalu Aris sadar bahwa pria itu yang dicurigainya saat ini, Aris pun keluar dan menunggu pria itu di luar gerbang kantor polisi itu. Aris terus memantau di balik gerbang besar itu dari dalam mobilnya saja.
Dan tak beberapa lama kemudian sebuah mobil jip keluar dari gerbang besar, dan Aris melihat Dian yang ada di dalam.
Aris pun menyalakan mesin mobilnya dan mengikuti mobil jip itu untuk mengetahui dimana dia tinggal dan apa yang sekarang akan dia kerjakan.
Dian pulang kerumahnya, dia masuk lalu keluar lagi dan hendak mau pergi, tapi Aris langsung menghadang Dian saat itu juga.
__ADS_1
Dian terkejut dan juga emosi kepada Aris, dia turun dan bertanya kepada Aris dengan mengetuk pintu mobilnya.
"Hei apa maksud mu menghalangi jalan ku begini?!"
Bugh !"
Dian memukul atap mobil Aris dengan kencang, dan menyuruh Aris keluar dari dalam mobilnya.
Aris pun keluar dengan tenang dan menghampirinya, Dian merasa semakin emosi melihat tampang Aris saat itu.
"Aku mau tanya pada mu, apa kau yang menculik balita yang bernama Bisma di rumah kediaman Rian dan Nita?!" tanya Aris dengan tegas.
"Kau jangan asal menuduh saja, siapa kau rupanya? Bertanya seperti itu pada ku, hah?!" Dian membentaknya.
"Aku punya barang bukti jika kau mau aku tunjukkan." kata Aris lagi kepada Dian.
"Banyak bertanya dan bicara juga kau rupanya!" pekik Dian.
Bugh !"
Bugh !"
Dian meninju Aris dua kali, dan Aris tak berhasil mengelak. Aris pun tak mau kalah dengannya, dia mengepalkan tangannya dan memberi pukulan ke Dian tepat di wajahnya.
Bagh, bugh, bugh..!"
"Argh.., kurang ajar kau memukul di wajah ku ini!" Dian sangat marah bagian wajahnya di pukul Aris.
Dian mengambil belati lipat dari sakunya, dan menusukkan benda itu ke perut Aris yang dia tak tahu kalau Dian ingin menusuknya.
Argh...!"
"Ka.., kau.. menusuk ku?!" Aris terluka di bagian perutnya.
Dian yang menusuk tak mencabut belatinya dan masih tertancap di perut Aris. Dan Dian malah pergi melarikan diri dengan mobilnya untuk tak mau tahu pada Aris.
Aris mengambil ponselnya dan menelpon Pram, dan memberi tahu lokasi dimana dia berada sekarang.
Aris juga memberi tahu keadaannya dan apa yang terjadi, setelah itu Aris pun jatuh dan pingsan karena banyak kehabisan darah.
__ADS_1