
Saat pagi telah menyapa, Nita yang sangat antusias untuk mengajak Rian berjalan ke pantai.
Villa pribadi itu memang ada di tepian pantai yang sangat indah, dan itu membuat Nita tak sabar saat begitu sampai disana. Karena Nita memang menyukai lautan dan pantai. Saat sampai disana Rian melihat istrinya itu sangat gembira, Nita berlari dengan senangnya. Rian membawa sebuah kamera untuk merekam semua aktifitas Nita selama liburan. Dan Nita tidak masalah akan hal itu, dia meraih kameranya dan gantian merekam Rian suaminya yang sedang berjalan mengikutinya dari tadi.
Rian tersenyum malu saat Nita mengambil rekaman untuk dirinya, lalu kamera itu Nita serahkan lagi ke Rian dan dia mulai berlari kembali. Gaun putih dan buihnya air laut serta pasir dan cahaya matahari yang baru akan muncul itu membuat Nita tampak begitu menawan. Dia terlihat bagai bidadari yang baru saja turun dari kayangannya.
Rian sangat terpesona melihat Nita dari kameranya, seakan - akan dia tidak bisa di gapai saja.
" Sayang...?!" tiba - tiba Rian berteriak.
Rian berlari menghampiri Nita yang terjatuh dan duduk di pasir putih saat ini.
" Kau tidak apa - apa sayang..?" Yang mana yang sakit...?" Rian menanyakan keadaan Nita.
" Hehehe..., Nita tidak apa - apa kok mas." ucap Nita sambil menyiramkan air laut ke wajah Rian yang datang menghampiri mereka.
" Argh.., Nita..., airnya dingin tahu..." Rian berlari mengejar Nita yang sudah pergi lari duluan menyelamatkan dirinya.
" Awas kamu ya..., berani menipu mas dengan pura - pura menangis saat jatuh..?!" Nita..." ujar Rian yang masih mengejarnya.
Suasana dan keadaan pantai sangat sepi pagi itu, apalagi itu merupakan villa pribadi miliknya. Mereka bebas berlarian dan menikmati pantai sepuas hati. Orang pengawal Rian hanya tersenyum dan geleng kepala saja melihat tingkah mereka berdua. Pak Kamil orang pengawal pribadi Rian yang sudah bekerja selama 10 tahun dan dia sangat setia.
Rian memberi kode kepada pak Kamil untuk pergi atau istirahat, Rian merasa malu kalau ada pak kamil disana. Dia ingin menikmati kebersamaannya dengan Nita, dan berlarian bersamanya. Rian sungguh - sungguh seperti baru bertemu dambaan hatinya, dan sekarang sudah dia miliki.
" Nita, apa kamu masih ingat akan janji mu kemarin kepada ku..?" tanya Rian.
" Janji yang mana mas ?" Em.., Nita agak sedikit lupa karena sangat senang sekali." Bisakah mas mengatakannya lagi biar Nita ingat mas."ujar Nita yang asik bermain air.
__ADS_1
" Sayang kamu sungguh lupa atau pura - pura lupa apa yang kamu katakan di saat kita sedang makan malam di resto itu..?!" Rian menghentikan tangan Nita yang bermain air.
Dan kini Nita sekarang duduk di pasir pantai, Rian pun memandanginya sambil menunggu jawaban dari bibir Nita. Wajahnya merona dan matanya berpaling dari tatapan Rian. Nita kebingungan dan dia mencoba untuk mencari alasan serta ingin berlari dari Rian.
" Sayang ku.., sepertinya kamu sudah ingat sekarang." Suami mu sekarang sedang menunggu jawaban dari istrinya, tapi jangan menyiksa aku lagi sayang dengan alasan yang lain." rengek Rian bersandar di bahu Nita.
" Hem, baru kali ini ku lihat seorang bos besar merengek kepada ku." Sungguh lucu sisi lain dari mas Rian." Pantas saja tuh pengawalnya disuruhnya pergi." ucapnya dalam hati.
" Baiklah mas Rian, malam ini takkan aku ingkari janji itu, tapi sebelum itu kau harus berjuang dan berusaha." ujar Nita.
" Maksud bagaimana Nita..?" tanya Rian yang tidak mengerti.
" Maksudnya kau harus bisa tangkap aku dulu, baru aku bersedia mengabulkan mimpi mu." Hahaha..." Nita menghindar dan berlari lagi dari Rian.
Rian pun terjatuh ke air laut yang datang, dia terkejut dan tidak menyangka kalau Nita kali ini akan berlari lagi.
" Memang sangat susah sekali bisa mendapatkannya, aku benar - benar harus penuh perjuangan." gumamnya.
Rian berlari mengejar Nita ( istrinya ), pak Kamil memperhatikan mereka berdua berlarian dari balik jendela villa itu. Dia tersenyum melihat bosnya yang selama ini tidak pernah sebahagia itu. Pak Kamil hanya tahu bosnya selalu kerja - kerja dan kerja, tidak pernah jalan - jalan untuk dirinya sendiri selain karena bisnis.
" Syukurlah pak Rian menemukan bu Nita yang selalu ceria dan mengubah hidupnya." ucap pak Kamil dalam hatinya.
***
" Silvi, mengapa kamu kerjanya hanya keluar dan main terus sih nak..?" Biasanya kamu selalu dirumah dan belajar, bagaimana sama kuliah kamu sekarang..?" tanya mamanya.
" Kuliah membosankan ma.., Silvi lagi malas bicara tentang itu." kata Silvi yang sembarangan saja.
" Ya ampun nak..?!" Mas Rian susah payah kuliahnya dan biayai kita, kamu malah tidak bersyukur." ucap mamanya.
__ADS_1
" Ma, semua ini karena adanya kak Nita." Aku begini juga karena kak Nita, Silvi tidak suka dengannya yang selalu sok cari perhatian." Silvi berbicara dengan suara keras, dan dia berlari masuk ke kamarnya untuk mengambil tas serta ponselnya. Silvi pun pergi keluar dari rumahnya begitu saja dan bersenang - senang dengan temannya.
Mamanya sangat sedih sekali, saat Silvi sekarang sudah beranjak dewasa dia malah sibuk sama teman - temannya dan kurang perhatian ke mamanya. Silvi benar - benar sudah salah memilih pergaulannya, karena semenjak dia bersosialisasi diluar bersama mereka Silvi berubah.
Mama hanya bisa diam dan menyembunyikan perilaku Silvi dari Rian. Mama tak mau kalau Rian sampai tahu, pasti dia sangat kecewa saat tahu bagaimana adiknya.
" Tring.., hallo ma.." Assalamualaikum.." terdengar suara Nita dari ponselnya.
" Iya nak, Wa'alaikumsalam.., bagaimana berliburnya ?" Apakah menyenangkan..?" tanya mama mertua.
" Nita senang ma, mama apa kabar ?" Sepertinya mama kurang sehat atau habis menangis ya ma..?" tanya Nita sedikit cemas.
" Enggak kok sayang.., mama cuma lagi flu saja." Cuaca sering tidak menentu, dan mama tidak menjaga kesehatan dengan baik." Bersenang - senanglah disana ya nak, lagian kan penat kalau kerja terus." Kapan mama dapat cucunya." ucap mama langsung kepada Nita.
Nita terkejut dan dia ingat kembali janji yang dia ucapkan kepada Rian waktu itu. Nita langsung melamun dan terpikir ucapan mama mertuanya.
" Nita..., Nita.., mama tutup telponnya ya nak." Jaga diri kalian baik - baik dan jangan pikirkan mama." Hanya flu biasa saja kok nak." Assalamualaikum." ucap mamanya diseberang sana.
" Oh, iya ma.., Wa'alaikumsalam.." ucap Nita.
Pembicara mereka pun berakhir, dan Nita meletakkan ponselnya. Rian datang menghampiri istrinya, dan memperhatikan wajah dan sikap istrinya. Dilihatnya Nita melamun semenjak selesai menelpon dengan mamanya.
" Sayang.., kamu kenapa ?" Mas perhatikan melamun terus.." tanya Rian.
" Ah, bukan apa - apa mas." Tadi mama bilang dia ingin cepat gendong..." suara Nita terhenti.
" Oh, bukan mas." Mama tadi sepertinya kurang sehat dan sedikit flu." Nita sedikit khawatir." Ucap Nita lagi.
Nita keceplosan karena terkejut dari lamunannya, dan Rian mengerutkan dahinya. Dia sedikit berpikir yang dimaksud Nita ucapkan tadi, Rian lalu mengerti dan tersenyum.
__ADS_1
" Sayang kalau belum siap, mas tidak akan memaksakan kamu." bisik Rian ke telinga Nita, dan menciumnya.