
Hari ini Panji dan Sammy menjalankan rencana mereka yang ingin bekerja sama dengan perusahaan Nugraha.
Dan Sammy sudah membuat janji kepada sekretaris Rian dan ingin bertemu di luar dengan Panji sebagai atasannya.
Rian pun menyetujui permintaan Sammy saat itu juga, dan berjanjian di cafe kecil.
Sore itu sepulang dari kantor, Rian pun pergi menemui Panji dan Sammy di cafe tersebut. Panji dan Sammy sedang sedikit membahas rencana kedua bila rencana yang ini tidak berhasil terlaksanakan.
Tak berapa lama Rian datang dan menyapa mereka yang sudah duduk dari tadi di cafe itu.
" Selamat sore pak Sammy." ucap Rian yang mengulurkan tangannya.
" Sore pak Ramon." Sammy pun berdiri menyambutnya.
" Oh iya pak kenalkan ini atasan saya yang akan membicarakan tentang kerja sama kita sore ini." Panji pun berdiri setelah diperkenalkan.
" Selamat sore pak Ramon, saya Panji pemilik perusahaan xxx. Saya sangat ingin bekerja sama dengan perusahaan bapak perusahaan Nugraha." kata Panji yang menjalankan rencananya.
Mereka pun bersalaman dan duduk kembali, Ramon memesan kopi begitu juga dengan mereka. Lalu Panji sengaja membicarakan yang lain sebelum melanjutkan pembicaraan kerjasama.
" Pak Ramon, saya mohon maaf ada yang mau saya katakan kepada bapak. Sebenarnya saya tak asing dengan bapak, yang sebelumnya kita sudah pernah bekerjasama. Tapi kerjasama kita di perusahaan milik pak Ramon sendiri, dan tadinya nama bapak Rian bukan Ramon." ucap Panji yang membuat Ramon merasa kebingungan.
" Apakah benar begitu pak Panji? atau mungkin hanya mirip saja sama saya." kata Ramon sambil mengernyitkan dahinya.
" Tapi entahlah, namun saya tak mungkin tak mengenal pak Ramon yang sebenarnya adalah rekan bisnis yang menikah dengan teman sekantor saya waktu itu. Sekarang istrinya baru saja melahirkan anak pertamanya." kata Panji lagi.
Ramon semakin heran yang di bicarakan mereka, setelah itu Panji mulai mengalihkan pembicaraannya lagi ke pembahasan kerjasama mereka lagi.
Asik mereka mengobrol hari itu juga, Panji, Sammy dan Ramon pun mengakhirinya dengan segera pulang ke rumah mereka.
" Oke pak Ramon, kami pamit duluan. Istri saya sudah menyiapkan makan malamnya di rumah saat ini. Kasihan sudah lelah memasak namun saya tak pulang." pekik Panji saat itu.
Mereka pun bersalaman dan berpisah sore itu juga, dan lain waktu akan membahasnya kembali.
Sammy dan Panji pun masuk ke mobil, begitu juga dengan Ramon alias Rian yang ingin pulang.
Namun sebelum pergi dan menyalakan mesin mobilnya dia terlihat berpikir sejenak dengan ucapan Panji tadi tentangnya.
__ADS_1
Ramon sangat tak mengerti mengapa Panji bisa mengatakan bahwa pernah bekerjasama sebelumnya dan memiliki perusahaan sebelumnya. Bahkan mempunyai istri dari temannya serta anak baru lahir.
" Hiss..., agh...!"
" Sakitnya kepala ku..." ucap Ramon memegangi kepalanya saat itu.
Lalu Ramon pun pergi dari cafe itu dengan mobilnya setelah sakit kepalanya mereda.
Panji dan Sammy tersenyum saling berpandangan.
Menandakan ada kemajuan dari rencana mereka berdua.
" Plok.." Sammy dan Panji saling bertos tangan mereka.
Mereka pun pulang kerumah dan menyalakan mesin mobilnya.
Panji membawa Sammy ke rumahnya, karena malam ini mereka akan makan bersama di rumah Panji.
Lina sudah menyiapkan dan ingin menjamu Sammy dirumahnya, Lina sudah menyiapkan semuanya dibantu oleh art nya sore itu.
" Brem...., tin, tin..." terdengar oleh Lina.
" Hai mas Panji..." Lina tersenyum dengan manis menyambut suaminya di depan pintu.
" Sayang..., kau lebih cantik malam ini." ucap Panji dan langsung memeluk Lina.
" Hallo Nona..." kata Sammy.
" Hai.., ini teman kamu sayang?" tanya Lina memberi senyuman ke arah Sammy.
" Iya sayang dia Sammy teman yang aku ceritakan kepada mu." Panji memperkenalkan.
" Silahkan masuk tuan, dan mari langsung kita makan malam saja." Lina mengajak mereka semua ke ruang makan dan mempersilahkan untuk memulai makan malamnya.
Semua sangat suka dengan makanan yang di hidangkan oleh Lina malam itu.
" Wah, ternyata nona Lina selain cantik juga sangat pandai memasak. Makanannya sangat lezat sekali, dan aku sangat puas menikmati makan malam ini." Sammy menyanjung Lina di depan Panji.
__ADS_1
" Sammy..., kau tak lihat ada aku disini? segitunya menyanjung dan memuji di depan suaminya...?!" pekik Panji yang sedikit cemburu.
" Mas, kau ini muach..." Lina mencium pipi Panji yang duduk di samping kursinya.
" Hahaha..., kalian sungguh pasangan yang luar biasa. Dan terlihat sangat bahagia, aku senang melihat teman ku sudah merasakan kebahagiaan dalam hidup dan cintanya." Sammy memuji mereka.
Setelah selesai makan dan mengobrol sebentar di ruang tengah keluarga, Sammy pun permisi pulang ke tempat penginapannya.
Panji tak mengantarnya pulang, Sammy dia ingin pulang sendiri dengan memesan taksi dari rumah Panji dan Lina.
Sammy pun berpamitan pulang pada Lina istri Panji yang sudah menjamunya.
Lina sangat senang ada teman Panji yang senang saat di jamunya.
Lina dan Panji pun masuk ke dalam rumah setelah mengantar Sammy di depan rumahnya.
Panji menutup pintu rumahnya dan tiba - tiba langsung menggendong Lina untuk masuk ke dalam kamar mereka.
Panji menjatuhkan tubuh Lina ke atas ranjang mereka, Panji menindih tubuh Lina dengan tubuhnya.
" kau sangat senang saat di puji olehnya ya nyonya panji? wajah mu tersipu malu dan merona saat itu." ucap Panji yang sedikit kesal.
" Mas..., kau kenapa sih. Aku tidak ada seperti itu." ucap Lina sambil tersenyum.
" Oh ya..? apakah aku tadi salah melihat wajah istri ku sendiri?" pekik Panji yang menggenggam erat tangan Lina dengan kuat.
" Agh, sakit mas..., oke deh aku minta maaf dan siap menerima hukuman dari tuan.., tapi tuan mandilah dulu nanti kita akan lanjutkan hukumannya. Tapi hukumnya pelan - pelan saja ya mas.." bisik Lina ke telinga suaminya.
" Baiklah kalau begitu tahanan tidak boleh kabut kemana pun. Mengerti ?!" ucap Panji ******* bibir tipis istrinya.
Panji sangat bersemangat saat digoda oleh Lina, dia secepatnya melepaskan Lina dan mengambil handuknya.
Lina tersenyum melihat Panji suaminya yang sangat cemburu kepadanya.
" Lihat saja kau nanti sayang akan aku beri hukuman yang tak kan kau lupakan malam ini." gumam Panji dalam hatinya.
Lalu Lina pun tiduran di ranjangnya menantikan suaminya selesai mandi malam itu. Dan malam itu bakalan panjang bagi mereka untuk terjaga sepanjang malam.
__ADS_1
Berada di peraduan bersama suami itu adalah hal yang sangat membuat istri di dunia ini sangat bahagia, karena suaminya sangat memanjakan dirinya dan menjadikan istri seutuhnya untuk dirinya saja.
Lina sekarang merasakan hal itu dari Panji yang selalu memberikannya dari pertama kali menikah dengannya di malam pertamanya.