PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU

PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU
Bab 25 Menjemput Kebahagian


__ADS_3

Panji sampai di Amerika, dia mencari penginapan terlebih dahulu untuk istirahat.


" Selamat siang pak Panji, saya Lita sekretaris pak Rian, apakah anda sudah sampai di sini?" tanya Lita yang ingin tahu.


" Sudah, saya sudah sampai."


" Tetapi saya sudah dihotel dan mau istirahat." ujar Panji kepada Lita.


" Oh, maafkan kami yang tidak tahu dan tidak menjemput anda dibandara."


" Pak Rian mengatakan akan mengundang anda malam ini untuk makan malam bersama."


" Nanti anda akan dijemput oleh supir pak Rian." ucap Lita yang menutup telponnya.


" Baiklah." ucap Panji.


***


Rian masih merasa sedih dan ada niat untuk mengalihkan perusahaanya pindah ke negara lain agar tidak berada satu negara dengan si Bela.


Rian mengambil berkas - berkas yang berantakan dimeja kantornya dan membereskannya.


Sementara hari sudah sore, Rian akan pulang dan bersiap - siap untuk makan malam bersama Panji.


Mereka pun bertemu hanya sekedar makan malam tanpa membicarakan kerjasamanya.


Hari ini Rian juga lagi tak ingin membicarakan pekerjaan dan pembicaraan yang ringan - ringan saja.


" Maaf pak Panji, hari ini saya sebenarnya tiba - tiba kurang sehat dan merasa tak enak badan."


" Bagaimana kalau kita istirahat saja, lain kali akan saya ajak lagi makan bersama dan berjalan - jalan membicarakan pekerjaan kita." ucap Rian yang sangat tidak mengurangi rasa tak sopan.


" Oh, tidak apa - apa kalau memang pak Rian kurang sehat, saya juga akan istirahat agar besok bisa lebih segaran datang ke kantor pak Rian." Panji dan Rian pun berpisah dan berjabat tangan.


Panji diantar ke hotelnya bersama supir Rian, sementara Rian membawa mobilnya sendiri dan menyetir sendiri.


Tiba - tiba Rian membelokkan arah mobilnya kerumah Nita, dan menghentikan mobilnya dari kejauhan saja.


Rian tidak mau mampir kerumah Nita, dia hanya menatap dari dalam mobil.


Diambilnya ponselnya dari saku jasnya dan menekan nomor ponsel Nita seketika.


" Hallo mas.., ada apa malam - malam telpon saya..?"


" Sudah tidak ada kerjaan lagi selain menelpon dan mengirimi bunga ke saya..?" ucap Nita sedikit jutek.

__ADS_1


" Haha.., bu Nita kenapa begitu bicaranya.., saya jadi terharu.., hiks.." Rian tersenyum geli dengar ucapan Nita.


" Hm..?"


" Terharu..?"


" Cek, mungkin pak Rian dari perusahaan besar xxx lagi mabuk ya.., jadi agak ngawur bicaranya." Nita membuka pintu kamarnya yang dilantai dua, dia berdiri disana dan masih meladeni Rian dari ponselnya.


Rian menatap Nita dari jauh dan hatinya sangat senang bisa melihat wanita pujaannya itu walau dari kejauhan.


" Saya mungkin memang sudah gila, dan saya gila karena kamu Nita."


" Saya Rian sudah tergila - gila dengan wanita yang bernama Nita." ucap Rian secara berterus terang.


Nita terdiam dan dia terkejut Rian berkata itu kepadanya.


Rian tidak mematikan ponselnya dia memakai handsfree, mengemudikan mobilnya kedepan rumah Nita.


" Nita, aku mencintaimu dan aku tidak tahu mau bagaimana lagi." ucap Rian dari dalam mobil dan mematikan ponselnya, dia pun turun dari mobilnya menetap Nita yang berada di lantai atas teras kamarnya.


Nita masih terdiam dan tidak mengatakan atau bergerak sama sekali. Rian juga diam dan sedikit ada perasaan gugup serta bersalah.


Nita langsung masuk kekamarnya, mengunci pintu terasnya dan mematikan lampu kamarnya. Nita sama sekali tidak turun untuk menemui Rian dibawah diluar rumahnya.


Kebetulan Ani tidak ada dirumah, dia pergi entah kemana. Nita tidak memperdulikan Rian yang menunggu duduk di atas mobilnya.


Mobil itu pun pergi dan Nita hanya melihat dari balik jendela kamarnya.


Ani yang dari jauh melihat mobil Rian langsung mengenalinya, dia mengejar mobil itu,


" Tin.., tin.." Ani membunyikan klaksonnya.


" Hai pak Rian.., malam - malam dari mana pak?" tanya Ani yang penasaran, dan dia tahu Rian pasti abis dari menemui Nita dirumah.


Ani keluar dari mobilnya dan mengajak Rian pergi untuk sekedar ngopi di cafe kecil. Rian pun memenuhi ajakan itu, dia mengikuti mobil Ani dari belakang, mereka pergi cafe dekat rumah saja.


Sampai disana mereka memesan kopi dan beberapa camilan ringan. Mereka saling berbincang dan Ani menanyakan kepada Rian hubungannya dengan Nita.


Rian pun mengaku kalau dia suka dan cinta Nita, ingin serius kepadanya.


Rian sudah mengejarnya selama 2 tahun ini namun Nita masih diam dan tidak mengatakan apa pun ke Rian.


Lalu Ani menyela pembicaraan Rian, dan memberi tahukan sesuatu ke Rian.


Bahwa Nita pernah mengalami kegagalan dalam percintaannya.

__ADS_1


" Saya tak banyak tahu sih pak Rian bagaimana, tetapi hanya itu yang saya tahu."


" Jadi pak Rian mohon maklumi dan jangan merasa kecewa atas sikapnya Nita." ucap Ani menjelaskan ke Rian.


" Tapi saya akan mendukung pak Rian kalau bapak memang serius dengan Nita." Ani tersenyum kepada Rian.


Dan akhirnya mereka pulang kerumah masing - masing, Rian sudah paham dan mengerti yang Nita rasakan dan alami.


Namun Rian semakin bertekat ingin mendapatkan hatinya Nita seutuhnya.


***


Dion sedang bahagia, dia dan Manda kekasihnya sibuk mempersiapkan pernikahannya.


Seharusnya peristiwa itu sudah dilakukan dari 5 tahun yang lalu.


Namun semua penuh pengorbanan dari perjalanan cinta mereka.


Kini sudah saatnya menjemput kebahagiaan mereka bersama - sama. Dion juga sudah menjamin kehidupan Manda sekarang dan bertanggung jawab bila sudah menjadi suaminya, sehingga Manda tidak perlu bekerja diluar lagi.


Manda kita hanya membuka butik dan buket bunga saja untuk membuat kesibukannya dirumah.


Namun dia mempekerjakan karyawan dibutik dan toko buket bunganya.


Manda dan Dion tidak ingin terlalu banyak tamu undangan dihari pernikahan, dia juga tidak ingin ada wartawan dan media masa yang mengeksposnya.


Kali ini Manda hanya ingin keluarga saja yang menyaksikan bersatunya cinta mereka berdua.


Dion mengeluarkan kotak merah dari dalam laci kamarnya, dibukanya kotak itu dan terlihat cincin bermata berlian bening yang sudah lama dia simpan untuk pernikahannya bersama Manda.


" Cincin ini sekarang sudah dijemput pemiliknya." ujar Dion melihat cincin itu sambil tersenyum.


Mamanya Dion sangat senang melihat Dion kini bahagia, Manda memang yang selalu Dion cintai selama ini.


Kesepian dan kesedihannya sangat dapat dipahami oleh mamanya.


Tetapi Dion merupakan tipe orang yang tidak terlalu lama larut terus - menerus.


Sampai suatu hari Manda memberinya kabar dan memintanya untuk menunggunya pulang kembali kepadanya.


Dion langsung bangkit dan bertekat untuk maju kedepan, meneruskan perusahaannya.


Semua yang dia lakukan hanya untuk kebahagiaannya bersama Manda. Mamanya Dion sangat bangga kepadanya.


" Seandainya papa masih hidup, pasti dia akan bangga melihat kamu sekarang yang telah sukses dan berhasil dengan jerih payah sendiri." Mamanya Dion teringat akan Almarhum suaminya.

__ADS_1


Dion dan mamanya sudah 12 tahun ditinggal papa untuk selamanya. Kini sekarang dia yang harus menjaga dan melindungi mamanya sendiri.


__ADS_2