PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU

PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU
Bab 89. Baru Terasa


__ADS_3

" Tin, tin...!" pertanda Aris dan Ani sudah pulang.


" Ah, mas Ani sudah pulang, ayo kita turun dan bersama - sama makan malam dengan mereka." kata Nita.


" Dengan mereka?" Rian jadi bingung.


" Iya mas.., ada mas Aris juga bersamanya." Nita berkata lagi.


" Hem.., mereka selalu mengganggu saja." ucap Rian sedikit pelan suaranya.


" Kenapa mas? mas berkata sesuatu?" tanya Nita.


" Enggak, mas gak bilang apa - apa kok. Mungkin angin itu tadi, biar mas tutup saja jendelanya ya. Kamu turunlah dulu duluan, tapi harus hati - hati." kata Rian mengingatkan Nita.


" Iya mas, Nita duluan ya mas." ucap Nita yang berjalan keluar dari kamarnya.


" Ih..., buat kesal saja. Padahal aku sudah bersiap - siap akan menerkamnya tadi. Huh..!" Rian ngedumel.


" Hehehe...!" Nita tertawa kecil.


Nita ternyata masih belum pergi kebawah, dia mengintip dari balik pintu kamarnya.


Lalu dia pergi segera saat Rian menutup jendela kamar mereka.


Rian pun ke luar dan menutup pintu kamarnya, dia menuruni anak tangganya satu persatu.


" Kak Aris..!" kata Nita.


" Hai Nita, wah... Nita, kau sebentar lagi akan menjadi ibu?" ucap Aris.


" Iya kk Aris, semoga saja sehat terus dan lancar sampai persalinan nanti." kata Nita sambil mengelus anaknya.


" Hai kak Aris !" Rian tiba - tiba datang.


" Oh hai Rian apa kabar kamu? tambah tampan saja semenjak sudah mau jadi seorang ayah." Aris menggodanya.


" Ah, bisa saja kak Aris ini." kata Rian yang menepis perkataan Aris.


" Ayo kita makan malam kalau begitu, semua sudah kumpul dan aku sudah lapar." ucap Ani yang mengelus perutnya.


" Oke ayo kalau begitu kita semua akan makan bersama." Nita mengajak mereka semua untuk makan malam bersama.


Mereka semua pun pergi untuk makan malam bersama di meja makan Nita.


Semua hidangan sudah siap di meja itu, mbak art nya mereka sudah menyiapkan semuanya.


" Bu, sudah siap di hidangkan. Silahkan di nikmati bu, pak Rian, mas Ari dan mbak Ani.

__ADS_1


" Terima kasih mbak, sekarang kamu boleh istirahat bila sudah makan malam mbak. Kalau belum makanlah dulu biar nanti tidak sakit.


" Nanti biar saya yang membereskan semuanya mbak, terima kasih ya." ucap Ani yang ingin membantu membereskan semuanya.


Ani tersenyum kepada art nya Nita, dan mereka segera duduk semua di kursi meja makan.


" Wah, hari ini mbaknya masak makanan enak nih, ya mas?" Ani tanya Pendapat Aris yang pengen juga terlihat mesra.


Nita hanya tersenyum saja melihat mereka berdua, Ani dan Aris sudah lama tak bertemu.


Mereka sangat canggung terlihat, namun Ani mencoba untuk terlihat biasa saja.


Mereka pun menikmati kebersamaan di meja makan. Ani terlihat sedang memperhatikan Aris yang ada di sebelahnya.


" Aku masih belum percaya, kalau dia sekarang ada di hadapan ku ya Allah...


Waktu yang begitu sangat singkat bila dia sudah di depan mata, sedangkan waktu terasa begitu lambat saat dia jauh di kala itu." Ani sedang mengingat penantiannya saat itu.


" An, Ani...?!"


" Ani !" lalu tersentak.


" Oh, iya Nita kenapa?" tanya Ani yang sedikit terkejut.


" Tidak kenapa - kenapa kok Ani, lanjuti saja menatapnya." kata Nita yang membuat Ani tertunduk malu dan melanjutkan makannya.


Aris tersenyum melihat tingkah Ani saat itu. Mereka sangat menikmati dan puas akan makanannya malam ini.


Mereka setelah selesai makan langsung beranjak ke ruang keluarga, Ani membereskan semua bersama Nita.


" Hai Nita, sudah biarkan aku saja yang membereskan. Kau duduklah bersama mereka, aku akan siapkan semuanya dan kau tenang saja disana."


" Aku tak ingin kau kenapa - kenapa nanti bersama anak tante yang imut dan tampan...!" ucap Ani lagi.


Nita pun segera pergi dan menuruti perintah Ani, tapi tiba - tiba Aris datang ikut membantunya di dapur.


" Aku bantu ya? biar bisa saling ngobrol." kata Aris langsung mengambil spon cuci piringnya.


Ani tak bisa menolak, dia hanya diam saja dan jadi salah tingkah.


Sepertinya kali ini Aris menjadi pahlawan baginya, dan membantu Ani yang sedang mencuci piring di dapur.


Aris yang menggosok sabun, Ani yang membilas dan meletakkan ke rak yang sudah bersih. Mereka saling bekerja dan terlihat sangat romantis juga.


Sementara Nita dan Rian sedang asik melihat tv disana, dan Rian menonton sambil memijat kaki Nita yang pegal seharian.


Rian juga tak lupa memijat bahu serta kepala Nita dengan lembut sekali.

__ADS_1


Terlihat Nita merasa nyaman sekali di tangan Rian.


……………………………………………………


Yadi dan Linda...


Yadi hari ini akan rapat dengan pemilik perusahaan besar industri dari Inggris.


Yadi tidak ingin terlambat untuk sampai ke kantornya pagi itu juga.


Maya yang mengetahui itu, mencoba menghalangi Yadi secepat mungkin.


Yadi sangat gila akan harta dan berkembangnya bisnis yang baru dia akan kembangkan.


Kebetulan Perusahaan industri makanan ini Maya sudah memegang saham disana sebanyak 30% sudah atas namanya.


Maya tak mau Yadi tahu dan mengambil alih semua yang ada di perusahaan Inggris itu.


Maya yang menelpon pihak dari Inggris bahwa harus segera dihentikan karena Maya tidak mau siapa pun tahu kalau Maya juga punya aset disana.


Maya berpura - pura sakit dan tak ingin Yadi pergi dari rumahnya.


Yadi pun terpaksa harus mengikuti kemauan Maya istrinya untuk tetap dirumah bersamanya.


Linda...


Dia sudah keluar dari penjaranya, dan seperti biasa Linda langsung datang ke makam Ririn di dekat rumahnya.


Linda menangis saat dia sudah berada disana.


Teringat kembali kejadian masa lalu itu yang pernah dia sesali sampai seumur hidupnya saat ini.


" Andai semua dapat diputar nak.., mama tak ingin kamu pergi tinggalkan mama saat itu." Linda terlihat sangat menyesalinya.


setelah beberapa menit disana mencurahkan segala yang dirasa di hatinya, Linda pun pergi mencari Raisa adik Ririn saat itu juga.


Panti asuhan itu tak mudah untuk di carinya, sudah beberapa panti dia datangi. Tapi belum juga menemukan Raisa anaknya itu.


" Raisa dimana kamu nak..., ibu sudah lelah mencari mu saat ini." dalam hati dia mengeluh.


Lalu Linda melihat ada tempat yang bisa dia tempati untuk malam ini saja.


Linda tidur di samping toko yang ada teras sampingnya pada malam itu.


Dia tak tahu harus kemana untuk tidur, sementara uang dia tidak punya untuk bisa membayar kos atau penginapan mana pun itu.


Linda harus menerima hidupnya itu, tidur di emperan toko yang dingin dan terbuka tanpa sekat apa pun. Kehidupan Linda saat ini sangat menyakitkan, dari yang dulu dia seorang wanita kaya raya. Tidur di kasur yang empuk tanpa harus kepanasan karena ada AC di kamarnya. Kini harus menerima semua ini karena atas kesombongannya itu selama ini.

__ADS_1


__ADS_2