
Sudah seminggu Nita, Ani dan Rian di Makasar, mereka tidak menyadarinya.
Dan Ani akan kembali ke Jakarta besok untuk melanjutkan tugas dari pak Rahmat.
Sama seperti Ani, Nita juga baru ingat bahwa dia masih ada urusan dengan pak Rahmat juga, tapi dia tak tahu kapan mau kesana.
" Tring.., tring.., tring.." ponsel Nita berbunyi.
" Nita, kamu besok dan Ani datanglah ke kantor." Kita akan bicarakan masalah tugas kantor itu, dan sekalian ada yang ingin bicara kepada mu." ucap pak Rahmat.
" Baik pak, saya akan datang besok ke kantor bapak." ucap Nita.
Namun Nita tidak bertanya siapa dan mengenai apa yang akan di bicarakan. Nita tidak ada pemikiran apa - apa tentang hal itu.
" Siapa sayang yang telpon..?" Tanya Rian yang ingin tahu tentang istrinya.
" Besok Nita harus ke kantor pak Rahmat, mas.." Aku dan Ani akan pergi pagi - pagi." Apakah mas bisa mengantar kami berdua besok pagi..?" tanya Nita.
" Kau juga akan ke kantor pak Rahmat Nita..?" Asik kalau begitu aku tidak akan sendirian kesana." Dan..., kita akan diantar oleh suami tercinta mu kah ?" tanya Ani yang memandangi Rian dan Nita.
" Hem.., kalau aku sih tergantung bagaimana Nita dalam menanggapi diriku." kata Rian yang menggodanya.
" Oh Nita, kau tak tergoda kah..?" ujar Ani.
" Kau anak kecil jangan banyak halusinasi, belum pantas." Ingat itu..!" ujar Nita yang pergi meninggalkan Ani saat itu.
" Dasar teman gak berhati nurani, aku bukan anak kecil lagi tahu." Hem.., mereka sangat romantis dan begitu mesra tanpa memikirkan perasaan ku." Ani sedikit cemberut.
Nita segera membereskan berkas dan keperluan untuk besok dibawanya ke kantor. Rian hanya melihat Nita yang berjalan kesana kemari menyiapkan barang - barangnya.
" Wanita begitu rumit, dan tak mudah ditaklukkan walau pun sudah sah bersamanya." Sungguh indah ciptaan mu, dan sungguh pilu sekarang hatiku." Rian bergumam dalam hatinya.
" Kamu kenapa sih mas, lihatnya sampai begitu amat..?" Kamu gak bantu aku malah menatap aku saja dari tadi." tanya Nita.
" Mas cuma kepikiran tentang ajuan ide mas tadi ke kamu." Mas belum dapat jawaban dari kamu, tapi kamu malah sudah beres - beres saja." Apa...?" Apa mungkin ini merupakan jawaban tanpa di ucapkan kali ya..?!" ujar Rian kembali membahasnya.
__ADS_1
Nita terhenti dan terdiam saat itu, dia melihat Rian yang lagi duduk di kursi kamarnya itu. Wajah Nita tertunduk dan bingung sendiri, Nita tak memberi jawaban. Dia berjalan menghampiri Rian di kursi dan duduk disebelahnya.
" Duh kenapa nih anak..?" kok malah kesini ?" Apa mau...?" Rian bertanya dalam hatinya.
" Mas.., memangnya kamu gak mau antar aku dan Ani ya..?" Kamu mau apa rupanya dari aku..?" Nita bertanya lagi.
Rian hanya diam dan menikmati kopi susunya, dengan santai dia meminumnya.
" Ya sudah kalau mas gak mau antar aku minta sama mas Aris saja untuk mengantarnya." seru Nita yang langsung pergi ingin berbenah lagi.
Rian terkejut dan hampir tumpah kopinya saat itu. Dia langsung meraih tangan Nita dan menariknya. Akhirnya tanpa sadar Nita jatuh ke pangkuan Rian suaminya sendiri. Mereka saling menatap tanpa berkedip, Rian mengagumi kecantikan wajah Nita dari dekat. Aroma parfumnya juga begitu mempesona Rian.
" Nita..., mas gak mau minta apa - apa kok dari kamu." Mas tidak akan memaksa kamu kok." Mas akan menunggu sampai kamu siap dan menginginkannya." Ucap Rian ke Nita istrinya.
" Besok biar mas saja yang antar kamu ke kantor, jangan meminta kepada mas Aris." Sekarang kamu adalah tanggung jawab mas, jadi jangan meminta dari pria lain selain mas." Rian berkata sambil mencium pipi Nita.
Nita terdiam dan tidak bergerak, dia membatu di pangkuan Rian.
" Nita.., kamu sepertinya nyaman dan betah ya duduk disini..?" Mas gak masalah kok, tapi mas sekarang mau ke toilet." Apa kamu mau ikut juga..?!" Rian bertanya dan menggoda kembali.
Wajahnya memerah dan dia tersipu malu, saat Rian beranjak pergi dari kursinya. Nita menggigit bibirnya sambil tersenyum dan memegang pipinya yang dicium tadi.
Hem..., romansa pengantin baru masih sangat kental terasa. Awalnya malu, gak tahu deh bagaiman nanti bila sudah menjalani hari - hari lebih lama lagi.
Rian sangat pandai menggoda Nita, sampai bingung Nita mau berkata - kata.
Ani hari - hari sangat iri pada mereka, walau tidak tampak umbar kemesraan. Namun perhatian Rian ke Nita begitu jelas terlihat, dan rasa cintanya Rian ke Nita terpancar sangat tulus dari matanya.
***
Keesokan paginya, Nita, Rian dan Ani sudah bersiap akan pergi. Setelah selesai sarapan mereka pun langsung ke kantor pak Rahmat dengan Rian yang mengemudikan mobil pakde. Sekalian nanti mereka akan memesan tiket untuk kembali ke America.
Sedangkan Ani tidak ikut bersama mereka lagi, dia akan menetap di Surabaya dan memegang kantor cabang yang baru.
Ani sekarang sudah naik jabatan sebagai kepala pemegang kantor cabang di Surabaya. Semua fasilitas sudah di sediakan dari kantor. Jadi Nita dan Ani sangat sedih karena mereka berpisah dan tak bisa tinggal bersama lagi.
__ADS_1
***
" Tring.., tring.., tring.." Suara ponsel berdering.
" Ya hallo, pak Rahmat ada apa?" tanya Panji.
" Panji, hari ini kamu bisa datang ke kantor saya." Dan nanti bisa membahas mengenai promosi yang kamu katakan saat itu." Karena kebetulan Nita akan ada di kantor saya hari ini." ucap Pak Rahmat.
Panji berfikir sejenak dan langsung mengambil keputusan, dia akan mencobanya kali ini. Dan tidak memperdulikan masalah pribadinya dengan pekerjaannya saat ini.
" Oh, iya pak." Terima kasih atas informasinya, saya akan kesana sebentar lagi." ujar Panji.
Panji pun segera meluncur pergi ke kantor pak Rahmat. Mobil Nita, Rian dan Ani sudah sampai duluan di parkiran.
Tak beberapa lama kemudian Panji masuk dengan mobilnya menuju ke parkiran juga.
Saat Panji turun dari mobilnya, Rian yang sedang berada didalam mobil melihat Panji ada di hadapannya.
Rian membuka kaca pintu mobilnya dan menyapa Panji disana.
" Pak Panji..!" Rian memanggilnya.
Rian pun turun dan menghampiri Panji di dekat mobilnya.
" Oh, pak Rian.." Apa kabar..?" Bapak sedang apa disini..?" tanya Panji yang pura - pura tidak tahu saja.
" Saya lagi bersama Nita, dia ada urusan di kantor saat ini." ucap Rian.
Rian tidak memberi tahukan kabar pernikahan mereka, dia juga bingung mau bagaimana. Karena saat itu dia tidak memberi kabar atau mengundang Panji di acara pernikahannya.
Rian saat itu menghormati Nita yang tidak ingin mengundang Panji ke acara pernikahannya, mungkin akan menyakitkan bagi mereka.
" Baiklah pak Rian, saya masuk dulu ke dalam. Saya sudah ada janji dengan pak Rahmat saat ini, dan tidak enak kalau pak Rahmat harus menunggu saya terlalu lama." Ujar Panji kepada Rian.
" Baiklah silahkan pak Panji." Rian pun mempersilahkannya untuk masuk kedalam.
__ADS_1
Saat itu Rian merasa tidak enak sebenarnya, tetapi dia juga harus menghormati keinginan istrinya.