
Keesokan harinya Linda sudah berada dirumah ibu mertuanya.
Dia menangis sambil menceritakan semua yang diucapkan Panji kepadanya.
" Apa Panji sudah demikian menentang ibunya." kata ibu Panji dengan geram.
Linda merasa sedikit tenang dan lega, dia berfikir untuk mempertahankan rumah tangganya. Demi kehidupan yang selama ini dinikmatinya dengan tenang dan juga masa depan Ririn anaknya.
Semalaman dia berfikir hanya Panji yang bisa menolong dan membantunya.
Sedangkan Yadi tidak bisa diharapkan, dari segi kehidupan dan keuangan dia belum mapan.
Hari ini Linda tidak masuk kerja, dia bersama anaknya berada dirumah mamanya Panji.
Mereka menunggu sampai Panji pulang kerumahnya.
Saat itu Panji pulang kerumah bersama Nita, dan membawa Nita masuk dan duduk disofa rumah mamanya.
Panji memperkenalkan Nita kepada mamanya.
Namun belum sempat lagi memperkenalkan Linda datang dan memotong pembicaraannya Panji.
" Ma, kenalkan ini Nita."
" Nita adalah..."
Panji terdiam dan tak bisa melanjutkan perkataanya.
Linda sengaja memotong pembicaraan Panji dan menyela.
" Iya ma, dia teman sekantor mas Panji yang ingin dijemput waktu terjadi kecelakaan itu." Linda berkata didepan Nita dan melirik kepadanya.
Tiba - tiba Linda menutup mulutnya dan berlari ke toilet.
" Hoek, hoek...!"
" Hah, hoek...!" terdengar suara Linda dari dalam toilet.
Mama Panji berjalan menghampiri Linda di toilet.
" Lin.., kamu knp nak ?" tanya mertuanya di depan pintu toilet yang tertutup.
" Tok.., tok, tok.." mamanya Panji mengetuk pintu toilet itu.
Pintu pun terbuka dan Linda keluar dengan wajah sedikit meringis dan tangannya memegangi perut.
" Linda juga gak tahu ma.."
" Rasanya mual sekali " Linda terjatuh kelantai.
Dia pingsan dan mama berteriak dari kejauhan.
" Panji..., Pan..., Linda pingsan."
" Tolong mama Pan.." teriakan mamanya terdengar oleh Panji.
Dia langsung berlari menuju suara teriakan mamanya.
Panji dengan sigap membawa Linda ke rumah sakit.
Nita ditinggalkannya dirumahnya, dia tidak ingat kalau ada Nita yang dibawanya kerumah.
Nita pun pulang sendiri dari rumah itu, dan tidak ikut bersama mereka.
Nita bisa memaklumi keadaan dan kepanikan yang sedang terjadi.
Sesampainya dirumah sakit, Linda pun sadar dan sudah ditangani oleh dokter.
" Mas, aku dimana ini ?"
" Aku sangat merasa mual dan perutku tidak enak mas.." ujar Linda.
__ADS_1
Namun Panji hanya diam saja tidak merespon. Sebenarnya Panji bukan tidak memiliki hati terhadap Linda, walau dia bersikap tidak perduli kepadanya.
Tinggal bersamanya sudah selama itu mana mungkin tidak ada rasa.
Namun rasa yang ada bukan cinta melainkan kasihan dan menghargainya.
" Pak Panji dan bu Linda.., mari silahkan duduk disini." suster berkata sambil membantu Linda bangun dari tempat tidur.
Mereka duduk di depan dokter yang sedang menuliskan sesuatu dikertas.
Mama Panji lalu masuk kedalam dan menanyakan keadaan Linda kepada dokter tersebut.
" Bagaimana dengan menantu saya dok..?"
" Sakit apakah dia?" tanya mama Panji.
" Tenang bu.., bu Linda tidak sakit apa - apa kok." ucap dokter tersebut.
" Selamat ya bu.., menentu ibu sedang hamil sekarang." dokter itu kembali berkata kepada mamanya Panji.
Mama Panji sangat senang mendengarkannya, lalu memeluk Linda seketika.
Tiba - tiba mama Panji pingsan dan tersungkur kelantai.
Panji cepat langsung menangkap kepala mamanya agar tidak terbentur kelantai.
Panji terkejut saat mendengar Linda hamil, dan dia juga khawatir bila mamanya tahu kalau mereka akan bercerai.
Bagaimana nanti reaksi dan kesehatan mamanya.
Tak beberapa lama mamanya Panji pun sadar dari pingsannya.
Panji memberikannya minum dan mereka semua pamit untuk pulang. Mamanya sangat senang Linda hamil lagi.
" Ririn, kamu bakal punya adik lagi." kata mamanya Panji ke Ririn.
Panji yang sedang menyetir mobilnya kesal kepada Linda yang memanfaatkan kehamilannya menjadi tameng untuk dirinya.
Linda juga sangat senang dan senyum - senyum mengelus - mengelus perutnya.
Sesampainya dirumah mama langsung duduk disofa bersama Linda.
Mama terlihat sedang berbicara kepada Linda.
Seorang pelayan dirumah mengambilkan minum untuk mama. Pelayan itu membuatkan teh kesukaan mamanya Panji.
" Linda, jaga kondisi mu ya.., jangan capek - capek kamu."
" Banyak istirahat dirumah, kasihan nanti bayinya."
" Maaf bu, mbak Linda hamil ya bu?" tanyanya pelayan itu.
Linda tersenyum dan mengelus lagi perutnya.
" Alhamdulillah.., Ririn akan punya adik ya Rin.." kata pelayan itu lagi.
Mereka sangat berbahagia semua ketika mendengar Linda hamil lagi.
Panji memperhatikan mereka dari sofa ruang keluarga sambil menonton.
Terlihat Linda pergi dari tempat itu, dia meninggalkan mertuanya sendirian.
Linda berjalan kearah belakang menuju toilet.
Panji pun datang menghampiri mamanya yang sedang menatap ponsel, dan melihat foto - foto didalamnya.
Panji mendekati mamanya dan mencoba membuka pembicaraan ke mama.
Sebenarnya Panji ragu untuk mengatakannya, karena suasana hati mama saat ini lagi bahagia.
Linda yang mengandung tapi mama yang campur aduk hati dan perasaannya.
__ADS_1
Tapi Panji tetap mengatakan hal itu kepada mama.
Dia tidak ingin berlama - lama menyimpannya sendiri dan akan lebih susah lagi nanti untuk dibicarakan.
Panji mengatakan bahwa dia dan Linda akan bercerai dan permasalah rumah tangganya juga diceritakan ke mamanya.
Namun semua yang Panji ceritakan ke mamanya ditepis dan tidak percaya.
Sebab setahu mamanya orang tua Linda sangat terpandang dan berjasa pada Almarhum papanya Panji.
" Kamu jangan mengada - ada Panji, mama sudah cukup dari tadi mendengarkan kamu mencela Linda terus." Mama jadi emosi karena ucapan Panji.
" Ma...!"
" Seandainya mama bisa merasakan apa yang Panji rasakan ma !"
" Pasti mama juga bakal lakukan apa yang Panji lakukan sekarang.."
" Dia sudah mempermainkan Panji dan mama."
Linda sudah membohongi kita ma..!" ujar Panji sangat geram.
" Mama tidak percaya kalau Linda berbuat dan melakukan seperti apa yang kamu ucapkan."
" Jangan kamu bicarakan lagi permasalahan ini ke mama."
" Mama anggap tidak ada permasalahan diantar kalian, sudah cukup mama mendengarkan ini." ucap Mamanya sangat kesal dan kecewa terhadap sikap Panji.
Tak beberapa lama Linda kembali, dan tanpa sepengetahuan Panji dan mamanya, Linda sudah mendengarkan yang mereka bicarakan.
Panji sadar dengan kedatangan Linda, dia segera pergi dan tak ingin melihat Linda disitu.
Langkah kakinya dipercepat. sehingga membuat Linda tidak sempat menyapa Panji.
Ada yang ingin dibicarakan Linda pada Panji, namun Panji hanya berlalu meninggalkannya begitu saja.
Panji tidak tahu bahwa Linda sudah membalikan fakta ke mamanya Panji.
***
Linda pura - pura tidak tahu apa yang mereka bicarakan tadi. Dia duduk kembali disamping mama mertuanya. Linda seperti tidak punya rasa malu dan bersalah kepada mertuanya dan Panji yang sekarang masih menjadi suaminya.
Setelah tak beberapa lama mengobrol, mama masuk kekamar untuk istirahat.
Linda mulai beraksi kembali menjumpai Yadi, dia berkata ke pelayan mama dengan alasan membawa pulang Ririn kerumah.
Padahal Yadi sudah menunggunya disimpang dengan sepeda motornya.
Linda dan Ririn pun naik bersamanya, Ririn kembali Linda titipkan ke mbak Nisa didekat rumahnya.
" Mas, aku hamil lagi mas." ujarnya Linda.
" Hah..., kok bisa Lin?"
" Kamu bagaimana sih sampai bisa hamil begitu?!"
" Sudah aku bilang kamu berhati - hati dan minum pencegah kehamilan.." Yadi panik dan dia sedikit emosi.
" Kok kamu begitu ngomongnya mas ?!"
" Kamu seperti tidak ingin bertanggung jawab."
" Aku ingin kamu nikahi aku mas.., katanya kamu mau nikahi aku."
" Mungkin ini sudah saatnya mas..?" kata Linda memeluk Yadi disebuah cafe tempat mereka makan dan minum saat ini.
Yadi hanya diam, dia berfikir dalam diamnya. Namun tangannya sebelah mengelus punggung Linda agar dia tenang dan tidak bertindak yang membuatnya malu.
" Untuk apa aku harus membiayai dan menjadi suami terkekang seperti Panji."
" Bebas seperti ini lebih menyenangkan dari pada harus mengurus mereka semua nanti." Yadi berkata - kata dalam hatinya.
__ADS_1
Linda tidak tahu kalau Yadi itu tidak tulus mencintainya.
Dia hanya memanfaatkan sumber pendapatan Linda dan juga suka dengan tubuhnya.