PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU

PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU
Bab 117. Kabar Gembira dan Duka


__ADS_3

Di Malaysia rumah sakit ***


"Dokter, mereka belum juga sadar sementara ini sudah 7 bulan berlalu." ucap suster yang selalu memantau perkembangan mereka.


" Tenanglah, asalkan semua kondisi mereka stabil, pasti akan ada keajaiban nanti untuk mereka." dokter sangat percaya mereka akan baik-baik saja.


"Mereka ini sepertinya suami dan istri pasti keluarganya mengira mereka sudah tiada bersama. Namun tak ada identitas yang dapat kita temukan, ponsel mau pun yang lainnya sudah hilang." suster itu menjelaskan lagi.


"Kita tunggu saja pasti akan ada yang mencari mereka." dokter itu pun pergi setelah mengecek keadaan mereka.


***


Di Amerika....


" Silvi..., mama sudah gak bisa bertahan lagi nak. Mama ingin pulang saja ke rumah gak usah di rumah sakit lagi." pinta mamanya.


"Iya ma.., mama boleh pulang asal sudah sembuh. Nanti katanya mau main sama Bisma.., bentar lagi Bisma pulang ke rumah lagi loh ma.." Silvi memberi support ke mamanya.


Namun tiba-tiba mamanya sesak nafas dan tak bisa berbicara, lidahnya seakan mati tak bisa bergerak.


"Dokter.., dokter.., tolong mama saya kenapa?!" Silvi panik dan langsung mencari dokter.


Dokter pun datang bersama suster ke ruangan itu, Silvi menjauh dari mereka saat memeriksa keadaan mamanya.


Dia terlihat cemas dan tak bisa melakukan atau berpikir saat itu.


"Mama.. kamu kenapa? jangan tinggalkan Silvi ma.. jangan. Silvi sama siapa di dunia ini ma..." Silvi menangis sangat takut mamanya pergi.


Akhirnya mama Silvi menghembuskan nafasnya yang terakhir saat itu juga.


Silvi menyaksikan kepergian mamanya yang sudah tak terselamatkan lagi.


"Bu Silvi, maaf kami tak bisa menolong mama kamu. Dan turut berduka atas kepergian beliau, yang sabar ya bu.." ucap dokter tersebut.


"Mama..! ma.., mama jangan pergi ma.., nanti Silvi sama siapa?!"


"Mama....!" Silvi menangis memeluk mamanya.


Silvi gak kuat hatinya, terasa dunia ini sangat hancur. Dan semua runtuh seketika, tak ada artinya lagi hidup ini dia merasa seperti itu.


"Mama.., Silvi sama siapa ma...?!"


"Abang sudah tiada, mama juga pergi. Kalian semua jahat sama Silvi..." dia masih menangis di atas tubuh jenazah mamanya itu.


Silvi pun pulang dan mengurus jenazah mamanya semua sendiri di bantu oleh art dan para karyawan kantornya. Pengawal orang kepercayaan Rian di kantor juga ikut membantu Silvi di rumahnya.

__ADS_1


Pemakaman pun sudah selesai di laksanakan dan Silvi juga sudah pulang ke rumah Rian dan Nita.


Rumah begitu sepi, Silvi masih lemas duduk sendiri di taman belakang rumahnya itu.


Dia terlihat melamun dan bengong saja disana, sesekali dia tiduran dan tak melakukan apa-apa. Bahkan makan pun dia tak mau, dunianya sekarang sedang kacau pikirannya entah kemana.


"Non Silvi.., makan dulu ya. Ini mbak bawakan makanan kesukaan Non Silvi, kalau non gak makan begini bagaimana nanti non bisa sakit."


"Dua Minggu lagi Bisma akan pulang loh non..." ucap art nya.


Silvi pun sadar dari lamunannya dan memakan makanannya, dia ingat masih ada Bisma anak dari abang dan kakaknya.


Silvi akhirnya mempunyai semangat lagi dan kini dia sudah menatap masa depannya.


Silvi pun menghabiskan semua makanan yang di bawakan oleh art nya sambil di temani art nya duduk disana juga.


***


Panji tiba-tiba menelpon Ani, dan dia baru mengetahui kalau Nita sudah tiada. Dan hatinya sangat sedih sekali, karena sudah lama terjadi baru Panji mengetahuinya.


Lisa melihat suaminya murung di ruang kerjanya, saat itu Lisa sedang mengantarkan kopi susu kesukaan Panji kesana.


"Kamu kenapa mas? kok wajah mu terlihat sedih sekali..." Lisa duduk di pangkuan Panji dengan manjanya.


"Tidak kenapa-kenapa, mas hanya kelelahan saja kok. Banyak sekali pekerjaan mas belakangan ini." ujar Panji yang berbohong.


Panji pun panik dan mengikuti istrinya dari belakang.


Tok, tok, tok..."


"Sayang kamu kenapa sayang, kamu masuk angin? sudah makan apa belum sayang?" Panji mengetuk pintu kamar mandi dan menunggu Lisa di luar saja.


Cklek...


"Kamu kenapa sayang.., wajah kamu sedikit pucat. Kamu sakit?" tanya Panji lagi.


"Enggak mas.., sudah beberapa hari ini aku lemas, pusing dan perut ku rasanya tak enak." ucap Lisa yang memegangi perutnya.


"Bagaimana kalau kita cek ke dokter sayang?!" Panji mengajak dan memberi saran.


"Ah, enggak usah deh sayang.., aku gak apa-apa kok. Tenang saja ya...?!" Lisa tersenyum dan berjalan meninggalkan Panji.


Bugh..!


"Li..sa!" Panji terkejut Lisa jatuh ke lantai.

__ADS_1


Brem....!


Panji membawanya ke rumah sakit dengan segera, dan mengecek keadaan istrinya yang masih belum sadar.


"Suster, tolong istri saya tiba-tiba pingsan dan tak tahu kenapa." Panji sangat panik dan mengikuti suster itu membawa istrinya ke dalam suatu ruang.


Panji di suruh menunggu diluar dan Lisa disadarkan terlebih dahulu oleh suster. Lalu dokter memeriksanya, setelah Lisa sadar, suster menyuruhnya untuk ke kamar mandi, menyerahkan tabung kecil untuk meletakkan urinnya disana.


Dokter membuka pintu itu dan menyuruh Panji untuk masuk dan duduk di hadapannya.


"Silahkan duduk pak, ada yang mau saya katakan pada bapak dan ibunya." ucap dokter itu sambil menuliskan resep.


Lisa sudah keluar dan menyerahkan urinnya ke suster tersebut.


Lalu suster itu pun mengeceknya dengan sesuatu.


Lisa sudah di perbolehkan duduk di sebelah Panji. Panji pun berdiri dan menarik kursinya agar Lisa bisa duduk saat itu. Tangan Lisa di genggam oleh Panji, dia sangat takut terjadi sesuatu pada istrinya itu.


"Suster jadi bagaimana?" tanya dokter tersebut.


"Positif dok, semua akurat dan seperti yang kita duga." ucap susternya.


"Oke suster terima kasih." ucap dokter itu.


Panji dan Lisa sangat gelisah dan takut ada apa-apa, genggaman tangan mereka semakin kuat dan mulai dingin.


"Istri saya kenapa dok? apa yang positif dan bagaimana keadaanya sekarang?!" tanya Panji.


"Tenang pak, istri bapak gak sakit kok! Hanya saja sekarang harus banyak istirahat dan ini resep untuk di ambil nanti ke susternya." ujar dokter yang hanya tersenyum manis.


"Maksudnya bagaimana sih dokter? kami tidak paham, yang positif itu tadi apa ya dok?" Lisa bertanya.


"Ibu..., bapak..., selamat ya... kalian akan memiliki anak sebentar lagi. Dan ibu Lisa sekarang sedang hamil, di dalam rahimnya ada janin berusia 4 Minggu." kata dokter itu menjelaskan lagi.


Panji dan Lisa shock dan tak percaya, mereka akan memiliki baby sebentar lagi. Lisa menutup mulutnya dan matanya melotot seakan-akan ingin keluar saja.


Lalu dia menangis penuh haru saat itu juga, Lisa memeluk suaminya dan menangis di bahu Panji.


"Mas.., aku akan menjadi mama mas...!" pekiknya.


"Iya sayang selamat ya.." Panji mengecup kening istrinya.


"Iya mas, kamu juga selamat menjadi papa sebentar lagi." kata Lisa.


"Tapi ingat ya bapak, ibu..., ini masih semester awal dan harus hati-hati menjaganya. Jangan terlalu kelelahan dan banyak konsumsi makanan sehat." dokter itu menasehati mereka agar tak sembarangan.

__ADS_1


"Baik bu dokter, terima kasih atas kabar gembiranya." ujar Panji dan Lisa.


Mereka pun pulang setelah mengambil resep obat itu dan menukarnya di lantai bawah. Dan pergi pulang kerumah untuk segera beristirahat seperti yang dikatakan oleh bu dokter tadi.


__ADS_2