PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU

PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU
Bab. 81 Berharap


__ADS_3

Ani menangis terharu mendengar kabar dari Nita yang sedang mengandung. Lalu Ani mencoba menceritakan tentang dirinya dan Aris.


" Nita, ada yang mau aku katakan kepada mu, bisa di bilang ini termaksud berita gembira juga." kata Ani yang menundukkan kepalanya.


" Kamu bilang kabar gembira, tapi kenapa kamu menundukkan kepala ?" tanya Nita.


" Em..., tadi mas Aris menelpon ku Nita." kata Ani terhenti.


" Terus apa katanya ?"


" Dan bagaimana dengan hubungan kalian ?" tanya Nita lagi yang masih penasaran.


" Mas Aris bilang akan pulang sebulan lagi, tapi tak tahu pasti ya kapan. Dan dia akan menetap saja di kantor dan tidak akan pergi lagi."


" Mas Aris juga bilang akan melamar ku saat dia pulang nanti." ucap Ani dengan nada rendah.


" Wah bagus lah, tapi kenapa kamu tidak bahagia ?" tanya Nita yang memperhatikan sikap Ani.


" Aku sih senang mendengarnya, tapi yang membuat aku sedih itu..., mas Aris harus mengorbankan pekerjaannya." Ani menatap Nita dengan mata nanar.


" Bukan begitu Ani, sebenarnya bude dan pakde orang tuanya mas Aris juga sudah mengeluh. Mas Aris selalu pergi dan pergi saja meninggalkan mereka di kampung."


" Sementara teman - temannya mas Aris semua sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Jadi bukan karena kamu kok Ani, orang tua mas Aris juga mengharapkan anaknya bisa di dekat mereka selalu." ucap Nita kepada Ani.


" Pasti mas Aris sudah pikirkan itu dengan matang mengambil keputusan itu."


" Sudah kamu jangan bersedih atau pun murung." kata Nita menghiburnya.


" Iya Nita terima kasih, kamu memang yang paling aku sukai." Ani memeluk Nita lagi.


" Baik istirahatlah kamu, aku akan turun kebawah dan segera mandi dulu." ucapnya.


Ani pun beranjak dari tempat tidur Nita, dia berjalan keluar dari kamar itu dan menutup pintunya.


Nita pun merebahkan diri di tempat tidurnya, setelah dari tadi duduk bersama Ani untuk beberapa waktu.


" Semoga kalian bahagia mas Aris..., Ani sahabat ku. Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua." doanya dalam hati.


Nita pun istirahat memejamkan matanya sebentar untuk menenangkan pikirannya dan menghempas suasana hati yang dapat menekannya.


@@@@@@@@@@@@@


Rian pun membahas sebuah proyek yang akan di serobot oleh perusahaan milik Yadi yang sekarang sedang berkembang.


" Pak Rian bagaimana pun kita tidak boleh menganggap remeh Yadi. Dulu dia pernah kita tolak, mungkin ada maksud tak baik terhadap kita seperti adanya rasa dendam terhadap kita." ucap pengawal Rian.

__ADS_1


" Kalau memang begitu, kau urus saja mau bagaimana. Nanti kalau ada apa - apa biar saya yang menanganinya."


" Saya sudah tahu harus menemui siapa bila terjadi sesuatu nanti." ujar Rian sambil tersenyum.


" Maya.." ucapnya Rian dalam hati.


Rian lalu pergi dan tidak bersama pengawalnya lagi. Rian pergi ke supermarket dan mencari beberapa buah yang terasa asam disana.


" Wah ada yang cakep tuh Mon ?!"


" Kali saja belum ada yang punya kan kita bisa kenalan." kata pelayan supermarket itu kepada teman yang ada di sebelahnya.


" Mbak permisi mbak ?" Rian menghampiri mereka.


" Tuh kan apa aku bilang, dia datang tuh Mon." ujarnya lagi.


" Mbak, permisi.." ucap Rian menyapa mbak pelayan supermarket.


" Iya pak, ada yang bisa saya bantu ?" menjawab dengan imutnya.


" Saya mau mencari buah, tapi yang rasanya agak asam gitu. Bisa mbaknya tolong carikan untuk saya ?" Rian meminta bantuan.


" Oh, begitu...? mari pak saya bantu carikan." ucapnya lagi.


Pelayan supermarket itu pun berjalan ke arah buah - buahan dan mencarikan berbagai macam buah segar yang rasanya sedikit asam.


" Bapak banyak membeli buah ya, ternyata bapak suka makan buah.." katanya sekedar basa - basi.


" Oh tidak, saya tidak terlalu suka buah. Ini untuk istri saya yang sedang mengidam dan lagi ingin yang asam katanya." ujar Rian sambil tersenyum.


" Hem, sudah punya istri rupanya. Tahu gitu gak mau deh aku ajak berbicara dan terlalu ramah." berkata dalam hati dengan wajah yang cemberutnya.


Rian yang memperhatikan ekspresi wajah wanita itu langsung tersenyum kecil saja. Wanita itu mengantar buah - buahan itu ke kasir yang di ikuti Rian dari belakang.


Rian pun membayar belanjaannya setelah itu pergi begitu saja tanpa menghiraukan wanita itu.


" Kau kenapa muram ? apa tidak mendapatkan nomer ponselnya ?" tanya temannya Mona.


" Apanya nomer ponsel, ternyata dia membeli buah asam untuk istrinya yang sedang ngidam katanya." ujar wanita itu ke Mona.


" Hahahaha..., kau ternyata kesal karena dia sudah beristri.. ? Hem, aku bisa mengerti akan hal itu." ucap Mona menertawakan.


" Kau ini malah mengejek ku !"


" Bukan kasih support ke teman sendiri juga !" merasa kesal.

__ADS_1


Rian pun masuk ke dalam mobilnya dan pergi untuk pulang ke rumahnya.


Namun Rian terpikir akan buah itu, dia sepertinya akan membelikan lagi buah.


" Lebih baik aku beli buah yang lain juga lah, di rumah juga ada banyak orang. Akan lebih baik juga untuk Nita makan buah yang lain." berkata dalam hatinya.


Rian pun pergi ke arah toko yang biasa ada banyak jual buah segar di pinggir jalan. Biasa mereka menjual buah mereka yang baru dipetik dari kebun mereka.


Jalan itu sedikit jauh dan berada di suatu lorong yang sangat ramai dengan orang - orang berjualan berbagai macam.


" Tuan bunganya tuan... ?"


" Bisa di berikan ke pasangan anda tuan, harganya tidak terlalu mahal kok ?" ucap seorang anak perempuan yang berjualan bunga.



Rian melihat anak itu dan ingin membeli bunga yang dia jual. Rian mau membuat Nita bahagia dengan membelikannya bunga untuk diletakan di dalam kamarnya.


" Adik kecil, bunga yang mana sekiranya bisa ku berikan kepada istri ku ?" tanya Rian ke anak itu.


" Oh, kau mau memberikan ke istri mu ya ?"


" Boleh tahu seperti apa istri mu itu ?" tanya anak perempuan itu.


" Dia cantik, putih imut dan sangat baik hatinya. Dia segalanya bagi ku, jadi bunga apa yang bisa aku berikan padanya ?" ujar Rian lagi.


" Hem..., baiklah aku punya sesuatu untuk istri mu tuan."


" Nah, ini sangat cocok kau berikan kepada istri mu tuan. Aku yakin pasti dia akan suka."



" Wah, ini bunga yang indah sekali." Rian sangat menyukainya.


" Baiklah, aku akan membayarnya." ucap Rian sambil mengelus kepala anak itu.


Rian memberikan uang dan membayarnya, setelah bunga itu untuk kemas dengan kantung tempat bunganya.


" Maaf tuan ini uangnya terlalu banyak, dan ini masih ada kembaliannya." anak itu memanggil Rian saat dia mau pergi.


" Tidak apa - apa sayang, ambillah kembaliannya untuk kamu karena sudah memilihkan bunga yang sangat cantik untuk istri ku. Oke ?!" Rian tersenyum.


" Terima kasih tuan, kau baik sekali." anak itu berterima kasih kepada Rian.


Rian pun segera pergi ke tempat yang berjualan buah. Lalu Rian membeli beberapa lagi buah untuk di rumahnya.

__ADS_1


Rian pun segera pulang dan memberikan belanjaannya ke art nya di rumah.


__ADS_2