
Linda panik dan tidak tahu mau bagaimana, Yadi sudah tidak pernah mengirimkan uangnya lagi kepada Linda. Linda kekurangan biaya untuk anak - anaknya, dia sudah banyak meminjam uang kepada Nisa.
Linda juga sudah pernah kerumah mamanya Panji meminta uang untuk biaya cucunya, masih berkata seperti itu. Namun mamanya Panji tidak memberikan uang sepeser pun ke Linda.
Linda semakin putus asa dan tidak tahu mau bagaimana lagi, Linda sudah pernah menghubungi Yadi namun ponselnya selalu tidak aktif.
Dia mau balik lagi kerja namun tidak ada yang mau menangani dia lagi. Biasanya Yadi yang mengatur tentang dirinya manggung dan bekerja.
Tetapi sekarang Linda buntu dan putus asa, sebab uangnya sudah menipis di ATM.
Berulang kali dia menghubungi Yadi, dan dia juga mencari tahu Yadi lewat sosmed.
Ternyata Yadi memposting foto - fotonya saat bulan madu bersama Sofi istrinya yang kaya itu.
Linda terkejut dan emosi menatap foto wanita itu memeluk Yadi di kolam renang.
Dengan berpakaian renang yang minim dan Yadi terlihat sangat menikmatinya sekali.
Linda mencari tahu dimana Yadi dan siapa wanita itu.
Linda mengirimkan pesan lewat sosmed kepada Yadi.
" Siapa wanita itu mas?"
" Kenapa kamu membuat catatan kecil bulan madu ku..!"
" Ternyata kamu sudah menikah dengan yang lain dan meninggalkan ku, pantas saja kamu tidak bisa aku hubungi." ucap Linda dari sosmed dan mengirimkannya.
Saat jam makan siang Yadi membuka sosmed dan melihat ada begitu banyak pesan disana. Dilihatnya pesan itu dari Linda yang ternyata dibacanya, semua isi kemarahan Linda dan omelanya.
Yadi langsung membalas dan memberi penjelasan agar Linda bisa tenang. Bahwa Yadi hanya ingin menguasai hartanya dan biar bisa membiayai anaknya.
tak beberapa lama Linda mendengar suara ponselnya, yang menandakan masuknya pesan.
" Tring..."
Linda membuka dan membaca pesan itu, dia sebenarnya tidak rela dan tidak ingin. Namun penjelasan Yadi ada masuk akalnya juga, maka Linda mau tak mau dia pun pasrah dan tak meributkannya lagi.
" Yang terpenting Yadi selalu membiayai hidupnya dan anak - anaknya." gumam Linda dalam hatinya.
Linda pun tidak membalas lagi pesan dari ponselnya, dia hanya diam menandakan bahwa dia setuju akan hal itu.
Rencana dari Yadi pun di ikuti oleh Linda, dia tak ada komplain lagi ke Yadi.
***
Sementara itu, mamanya Panji sedikit cemas akan sesuatu, dan dia meragukan Dion yang beralasan ingin mengajak Panji bekerjasama.
__ADS_1
Mamanya takut Dion akan membocorkan rahasia diantara mereka kepada Panji.
Mamanya sangat tidak percaya kepada Dion, karena Dion sangat berani dalam berbagai hal. Dan mamanya sangat takut bila nanti masuk penjara saat rahasia itu terbongkar.
Beberapa kali mamanya telpon Dion, namun Dion tidak mau mengangkatnya. Dion sengaja ingin membuat mamanya Panji merasakan keresahan dan cemas di Jakarta.
***
Linda berbelanja ke tukang sayur yang lewat, dia membeli beberapa sayur dan ikan.
Namun uangnya masih kurang untuk belanjaannya, dia memberanikan diri untuk mengutang dahulu.
" Bang, nanti hutang saya dicatat saja berapa, nanti akan saya lunasi hutangnya." ucap Linda dan langsung berlalu dari ibu - ibu dan abang tukang sayurnya.
" Ih bang kok dikasih sih dia mengutang, dia itu lakiknya saja gak jelas dan lagi sudah gak bekerja bagaimana mau bayar hutangnya ke abang." ucap salah satu ibu yang termasuk tetangganya Linda.
" Masak sih bu..?"
" Jadi bagaimana dong dengan uang saya dan hutang dia..?" ujar abang tukang sayur itu sedikit panik.
" Ya mana saya tahu bang.., anaknya saja entah yang mana bapaknya."
" Semoga saja nanti dia mau bayar hutangnya ke abang."
" Saya ini saja belanjanya bang, berapa semuanya?" ujar tetangga Linda yang suka urusi urusan orang.
Tukang sayur itu pun pergi menjajakan jualananya kembali.
Ternyata Linda sempat mendengar pembicaraan mereka sedikit.Dan Linda sangat kesal dengan tetangganya yang suka kepo dengan kehidupannya.
" Awas saja nanti kalau aku sudah kaya, tak mau aku bantu kalian kalau minta bantuan."
" Masih miskin saja belagu, gimana mau jadi orang kaya seperti aku ?"
" Sebentar lagu aku akan kaya raya dengan mas Yadi." Linda terlalu banyak berharap.
Hari ini Linda memasak didapur untuk makan siang anaknya dan dia. Ririn selalu menanyakan Panji dan ingin bertemu panji.
" Papa..., papa Panji..!"
" ma, papa Panji kemana ma..., kok gak pulang main sama Ririn lagi..?" Ririn yang lugu tidak tahu apa - apa sangat merindukan kehadiran Panji disampingnya.
Linda tidak dapat mengatakan apa - apa, dia cuma berkata pada Ririn anaknya bahwa papanya sibuk bekerja dan pergi keluar kota.
Sedih Linda melihat rintihan anaknya yang mencari sosok ayah. Namun Linda sudah tidak perduli lagi dengan Panji yang telah pergi.
***
__ADS_1
Panji sudah berangkat pagi - pagi sekali kekantor, karena jam 8 pagi dia ada rapat dengan kliennya.
Kerjasama ini sangat menguntungkan bila sudah mendapatkan kesepakatan.
Dia ingin sekali mendapatkannya dan bisa menambah perkembangan dan investasi dalam perusahaannya papa Dion.
Selain itu Panji sangat menginginkan pembagian perusahaan yang menjadi miliknya.
Panji ingin bisa memiliki perusahaan sendiri dan sukses dalam karirnya.
" Pagi pak Panji, ini ada berkas dari Ratna bagian pemasaran."
" Ini akan diterangkan lagi didalam rapat kita nanti."
" Mohon bapak baca dulu dan tandatangani bila sudah sesuai." ucap Maria sekretaris Panji.
" Baiklah." Panji menerima map berkas itu, dan membawanya ke ruangannya untuk dilihatnya.
Panji langsung menandatangani dan siap untuk dibawa keruangan rapat nanti.
" Maria, tolong keruangan saya sebentar." Panji memanggil sekretarisnya dari telpon ruang kerjanya.
" Tok, tok, tok, permisi pak Panji.." Maria datang keruangan.
" Masuklah.., ini berkas tadi berikan ke Ratna."
Dan ini sudah waktunya rapat, suruh Ratna untuk bersiap - siap untuk rapat sekarang juga." ucap Panji yang juga segera bersiap dan memakai jasnya serta semua berkas kerjasamanya.
" Baik pak, saya permisi dulu." Maria bergegas pergi dari ruangan itu, hari ini semua karyawan sangat sibuk.
Karena banyak pekerjaan yang mau disiapkan. Perusahaan itu berkembang dengan cepat ditangan Panji, jadi banyak investor dan perusahaan lain yang ingin bisa bergabung bersama.
Bahkan banyak orang yang mau melamar pekerjaan menjadi karyawan dikantornya Panji sekarang.
Rapat berjalan dengan lancar dan sudah mendapatkan kesepakatan bersama. Hari sudah siang Panji ingin makan siang, namun tiba - tiba Dion datang ke ruangannya Panji.
" Wah, yang sukses mendapatkan kerjasama dengan perusahaan besar."
" Kau hebat sekali mas.., gak salah pilih deh aku untuk
perusahaan papa." Dion langsung memuji Panji saat didepan pintu.
" Ah, kamu Dion bisa saja.., Alhamdulillah semua dapat di Allah mempermudahkan urusan kita Dion.." Panji merendahkan hatinya dan tetap bersyukur.
" Mas, makan siang bareng yuk..?!"
" Aku sudah lapar banget dan ingin ditraktir oleh mas ku yang sukses sekarang ini." Dion tersenyum dan Panji tertawa melihat kearahnya Dion.
__ADS_1
" Kamu selalu tahu kapan untuk menghabiskan uang ku." ujar Panji menepuk pundak Dion dan mereka berjalan keluar dari ruangan Panji.