
Hari bahagia Dion sudah terlaksana, impiannya sudah menjadi nyata. Panji sangat iri dengan Dion, penantiannya tidak sia - sia dapat kembali bersatu dengan Manda.
"Sungguh pengorbanan cinta yang sangat indah pada akhirnya." ucap Panji ke Dion sembari menyalaminya di atas pelaminan.
" Kau juga akan bahagia bila masanya itu tiba, dan jangan mengabaikan bila cinta itu datang dan hadir kehidupanmu." Dion memeluk dan berbisik ke telinganya Panji.
Panji semakin yakin dan berkat dengan penuh harapan bisa berjodoh dan bertemu dengan Nita pujaan hatinya.
***
Sementara Nita dan Rian semakin hari semakin ada kemajuan dalam hubungan mereka. Rian tampak tulus dan begitu menyayangi Nita dengan sungguh - sungguh.
Bahkan Minggu ini Rian bermaksud akan membawa Nita untuk main kerumah mamanya Rian.
Rian memperlihatkan kesungguhan hatinya kepada Nita dengan memperkenalkan dirinya ke keluarganya hari Minggu nanti.
Sabtunya Rian mengirimkan sebuah kotak hadiah ke kantornya Nita lagi. Kotak itu dibungkus dengan kertas kilat berwarna ungu, dan bertuliskan untuk bu Nita.
Pagi itu juga petugas pelayan dikantor mengantarkan kotak itu keruangan Nita.
" Tok, tok, tok.., permisi bu Nita."
" Ada paket barang yang diantarkan kurir untuk ibu Nita katanya." kata pelayan kantor Nita.
Petugas itu masuk lalu meletakkan kotak itu dimeja kerjanya Nita, dan pelayan kantor itu pun pergi pamit ke Nita segera setelah meletakkan barang yang dibawanya.
Nita penasaran isi dan pengirim hadiah itu.
" Perasaan aku tidak ulang tahun deh hari ini, tetapi kenapa dikirimi kado ya..?" Nita berbicara sendirian sambil membaca kartu yang ada disiapkan di kotak itu.
" Nita, gunakanlah gaun ini ketika nanti akan pergi kerumah ku."
" Mas ingin kamu terima hadiah pertama mas untuk hubungan kita." ucap Rian kepada Nita yang ada tertulis di kertas itu.
Nita tersenyum dan hatinya senang mendapat perhatian dari Rian. Wajahnya merona tersipu malu, saat membaca kertas kecil dari Rian.
Kali ini Nita sedikit demi sedikit dapat melupakan Panji yang pernah dia cintai.
Walau Nita belum sepenuhnya membuka hatinya, namun Rian sekarang menjadi obat luka di hati yang dia harapkan.
Selain itu Nita juga berusaha bisa memberikan cintanya yang tulus dan terbaik ke Rian saat itu.
***
Suara ponsel Yadi berbunyi, namun Yadi masih mandi dan tidak tahu kalau ada pesan yang masuk untuknya.
__ADS_1
Sofi merasa terganggu akan suara ponsel itu, Sofi yang masih tidur terbangun karena kebisingan dari ponsel itu.
Sofi mengambil ponselnya Yadi dan melihat siapa yang dari tadi mengganggunya pagi - pagi.
Ponsel Yadi dibukanya kunci dengan nomor pin yang dia ketahui.
Sofi masih setengah sadar dari tidurnya, dia membaca pesan di ponselnya Yadi dan juga ingin tahu siapa yang mengirim pesan itu.
Saat membuka dan membacanya Sofi hanya biasa saja. Nama dari pengirim tidak jelas dan tidak ada tertulis disana, hanya sebuah kode saja yang tertera.
Yadi yang sudah selesai mandinya melihat Sofi memegang ponselnya dan menyadari langsung mengambil ponsel itu dari tangannya.
" kenapa kamu bangun sayang..?"
" Apa kamu masih kuat ingin melanjutkan kemesraan kita tadi malam..?" Yadi sengaja mengatakan itu, karena dia menyadari pesan itu pasti dari Linda yang mengirimkannya.
" Em, mas aku sudah tidak sanggup lagi."
" Aku masih lelah dan ingin tidur lagi saja, suara ponsel kamu yang sudah mengganggu ku."
" Mas.., nanti siang kita makan sama di kantin kantor kamu ya..?"
Nanti aku kesana kalau sudah tidak lelah lagi." Sofi tidak menaruh curiga akan tentang ponsel itu, dia terlena akan belaian lembut dari Yadi dan pelukan Yadi di pagi hari.
Dan Yadi ingin memenangkan tender dari perusahaan besar, agar uangnya dapat masuk ke ATM pribadinya.
Yadi selalu giat bekerja untuk mengumpulkan uang dan kedepannya hidup bahagia bersama Linda.
***
Ani sudah beberapa hari ini suka pergi keluar sendirian, dia diam - diam berkenalan dengan seorang pria asal Indonesia yang bekerja juga di Amerika.
Ani tidak mengatakan kalau dia mempunyai teman pria kepada Nita.
Namun Nita pernah khawatir kepada Ani saat itu seorang pria mengantarkan Ani pulang kerumah dalam keadaan mabuk.
Nita juga heran Ani diantar olehnya sampai kerumah.
Paginya Nita bertanya ke Ani namun dia diam saja dan tak mau memberi jawaban.
" An, siapa tadi malam pria yang mengantar mu itu..?"
" Dan kenapa kamu bisa sampai mabuk dan tak sadarkan diri..?" Nita mencoba meminta penjelasan dan mencari tahu yang tidak dia ketahui.
Namun Ani tidak memberi penjelasan, dia hanya mengatakan tidak tahu kalau yang dia minum itu ada alkoholnya.
__ADS_1
Karena Ani tidak mau berbicara dan memberikan penjelasan tentang pria itu, maka Nita hanya diam dan tidak mau melanjutkan pembicaraan.
Ani merasa ingin memiliki urusan pribadinya tidak ada yang mencampuri. Sementara Nita hanya mengkhawatirkan sahabatnya saja.
***
Sore ini Rian akan menjemput Nita dirumahnya, dia akan membawa Nita kerumah mamanya dan memperkenalkannya.
" Hallo ibu.., Nita sehat kok disini."
" Nanti disaat liburan, Nita akan pulang kesana menemui ibu dan bapak dikampung." Nita mengakhiri pembicaraan disaat bel rumahnya berbunyi.
"Ting, nong.." suara bel rumah Nita.
" Bu.., Nita tutup ya pembicaraan kita, nanti Nita akan telpon ibu lagi." Nita mengucapkan salam dan menutup telponnya.
Dia bergegas jalan menuju kearah pintu depan rumahnya.
" Iya sebentar..." ucap Nita dari dalam rumah untuk memberi tahu bahwa dia akan membukakan pintu rumahnya.
Nita sudah mengenakan gaun yang dibelikan untuknya oleh Rian.
Saat pintu dibuka, Rian menutupi wajahnya dengan sebuah buket bunga mawar lagi untuk Nita.
" Mas, bunganya untuk ku...?" Nita tersenyum melihat Rian datang membawa bunga kesukaannya lagi.
Rian mengangguk dan tersenyum sambil menyerahkan buket mawar itu.
" Kamu sudah siap sayang..?" Rian menanyakan ke Nita dan dia pun mengangguk menandakan bahwa dirinya telah siap untuk pergi bersamanya.
Rian menggandeng tangan Nita dan mereka berjalan menuju
mobil Rian yang parkir diluar pagar rumah Nita.
Nita mengenakan gaun yang dihadiahkan ke dirinya oleh Rian.
Gaun itu sangat indah dikenakan Nita, Rian tidak menduganya bahwa gaun cantik itu akan semakin cantik dipakai Nita saat itu.
Nita sudah duduk manis di samping Rian, kini saatnya Rian melajukan mobilnya dan membawa Nita untuk mengenal keluarga besarnya.
Kebetulan dirumah mamanya Minggu ini semua pada ngumpul dan makan besar bersama, bisa dibilang seperti arisan keluarga.
Nita dari tadi terlihat begitu senang, bibirnya selalu tersenyum manis dengan lipstik merahnya.
Namun dia juga merasa gugup untuk pertama kalinya akan bertemu dan diperkenalkan ke keluarga Rian yang tidak tahu bagaimana tanggapan mereka terhadap diri Nita. Dan Nita juga belum mengerti bagaimana nanti akan berbaur dengan mereka semua.
__ADS_1