
Pagi ini Ani sebelum berangkat kerja dia bermain game kesukaannya sambil sarapan roti selainya dimeja makan.
Nita sedang menyiapkan roti coklat goreng untuk dibawanya ke kantornya.
Puas dia dengan gamenya Ani membuka notifikasi dari facebooknya, disana dia melihat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya Nita.
Ani terkejut dan dia sangat lupa akan hal itu, lalu dia mempunyai ide untuk hal itu.
Ani mengetik sesuatu dan mengirimkan pesan kepada Rian.
Ani berencana agar Rian dan Nita bertemu kembali dan bisa saling dekat satu sama lain.
Ani juga ingin sahabatnya itu melupakan Panji yang sudah menyakitinya.
Rian melihat ponselnya dan membaca pesan dari Ani, Rian juga tidak menyadarinya namun Rian langsung mencari asistennya untuk membelikan sebuah kado untuk seorang wanita.
Nita selalu suka mengenakan scraf, jadi Rian menyuruh asistennya untuk membelikan selusin scraf dan bunga mawar yang indah dikirimkan ke kantor Nita pagi ini.
Rian juga memberikan secarik kertas yang dimasukan kedalam amplop untuk disematkan ke buket bunga itu.
***
...Teruntuk wanita yang manis di hari ulang tahunnya yang indah.......
...kalau tidak bisa menjadi yang lain, izinkan saya menjadi teman pun tak apa - apa....
Semua bisa terjadi dan dilewati, bahkan teman pun bisa bersabar menanti menjadi kekasih.
Nita..., Selamat Ulang Tahun.
Nita membaca kartu ucapan ulang tahun itu, dan dia juga membaca sebuah pesan masuk diponselnya.
Nanti malam saya jemput kamu dirumah untuk kita makan malam bersama. Ajaklah Ani bersama dan kita akan makan bertiga.
Nita terdiam dan bingung harus bagaimana, namun dia tidak membalas pesan dari Rian.
Namun Rian sudah memberi kabar ke Ani dan dia setuju akan hal itu.
Rian sudah sampai kekantornya dia langsung masuk ke ruang rapat dan bertemu dengan Panji disana yang telah duluan tiba darinya.
" Maafkan saya yang sedikit terlambat datang pak Panji." ucap Rian menjabat tangan Panji disaat itu juga.
" Tidak masalah kok pak Rian, saya juga baru sampai ke kantor bapak." Panji mencairkan suasana dan sedikit merendahkan dirinya.
Mereka akhirnya memulai rapatnya, dan membicarakan mengenai kerja sama itu.
Rian sangat tertarik dengan yang diajukan dan dipresentasikan oleh Panji.
__ADS_1
Rian pun sepakat dengan kerjasamanya, dan Rian pun sudah menandatangani kontrak kerjasama itu.
Panji dan Rian pun sepakat dan mereka berjabat tangan dengan senang hati.
Tak sia - sia Panji datang ke Amerika dan berhasil mendapatkan kerjasama dan investasinya dari perusahaan Rian.
Panji pun pamit dari kantornya Rian, dia akan segera memesan tiket untuk keberangkatannya balik ke Jakarta dua hari lagi.
Panji buru - buru pulang karena dalam 3 hari lagi Dion dan Manda akan melangsungkan pernikahan mereka. Jadi Panji harus ada disana untuk menyaksikan kebahagiaan Dion sepupunya itu.
Dari kemarin Dion sudah menelponnya dan menanyakan kapan Panji akan pulang segera.
Mereka memang sangat akrab dan Dion sangat perduli dengan Panji.
***
Malam itu Rian menjemput Nita dan Ani dirumahnya mereka, Nita sangat cantik mengenakan gaun merah dan rambut yang tergerai di bahunya.
Rian sangat terpesona melihat Nita yang kali ini lain dari biasanya.
" Kapan nih mau makannya, cepetan dong.., aku sudah lapar pak Rian.." Ani menggoda mereka.
" Iya, mari masuk dan kita akan segera pergi makan malam bersama." Rian menjadi gugup dan terbata - bata dalam berbicara.
" Hari ini bisa mati aku karena melihatnya, dia memang sungguh luar biasa." Rian benar - benar terpana oleh Nita yang tampil begitu anggunnya.
Rian sudah memesan satu tempat untuk mereka makan malam, dan Rian juga sudah meminta untuk membuatnya menjadi sedikit indah.
Mereka sampai disana sudah tersaji makanan dan juga minuman yang sangat menggiurkan.
Semua terlihat sedap dan lezat makanannya, Rian mempersilahkan Nita dan Ani menikmati makan malamnya.
Rian tak henti - henti mencuri pandangan ke arah Nita, Ani menyadarinya dan dia hanya tersenyum saja.
" Em, pak Rian sepertinya baru menyadari kecantikan bidadari saat ini ya pak?"
" Dari tadi selalu melihat tanpa henti dan mengaguminya." ucap Ani yang memainkan alisnya ke Nita.
Saat sedang makan malam Rian tanpa sengaja melihat Panji juga makan di resto itu, namun mejanya Panji agak jauh dari mereka. Rian pun permisi sebentar dari mereka dan menghampiri Panji di mejanya.
" Pak Panji sedang makan malam juga disini..?" Rian menyapa Panji dan dia terkejut dihampiri Rian.
" Oh pak Rian, iya saya ingin mencoba makan diluar dan menikmati malam di Amerika."
" Soalnya saya satu hari lagi harus kembali ke Singapura lagi." ujar Panji sambil mempersilahkan Rian untuk ikut duduk bersamanya.
" Oh, terima kasih pak Panji." Saya sedang duduk disana bersama teman saya, pak Panji ingin ikut bergabung kesana..?"
__ADS_1
" Daripada makan sendirian dan bengong sendiri, lebih baik ikut dengan saya dan kita makan bersama." Rian mengajak Panji untuk bergabung.
Panji diam sejenak dan melihat kearah meja yang ada Nita dan Ani, namun Panji tidak tahu karena Panji hanya melihat belakang mereka saja.
Panji pun setuju dan langsung mengikuti Rian dari belakang.
" Deg, dig, deg..!"
" Kenapa tiba - tiba jantungku berdetak cepat ya, dan perasaan ku jadi gak karuan." gumam Nita berkata dalam hatinya.
" kamu kenapa Nit..?"
" Kok kamu gelisah sekali aku lihat..?" Ani memperhatikan Nita yang dari tadi tidak tenang.
" An, aku ke toilet dulu ya...!"
" Aku ingin cuci muka ku sebentar." ujar Nita langsung pergi ketoilet.
" Aku ikut lah Nit, aku mau ketoilet juga." Ani berlari mengejar Nita yang terburu - buru mau ke toilet.
" Hai, Ani..!" Rian memanggil mereka namun tidak mendengarkannya.
Rian dan Panji melanjutkan makan berdua saja, Nita menunggu Ani yang belum keluar dari toilet. Ani sangat lama didalam toilet dan memang dari tadi toilet sedikit mengantri jadi bertambah lama.
Rian dan Panji sudah menghabiskan makan malam mereka, namun Nita dan Ani tidak juga kembali dari toiletnya.
"Drtt.., drt.." ponsel Panji bergetar, dia menerima telpon dari pihak hotelnya.
" Hallo, iya benar.. oh iya mbak, baiklah saya akan kesana segera." Panji menutup telponnya.
" Pak Rian saya permisi dulu kalau begitu, ada permasalahan dihotel tempat saya menginap."
" Saya harus segera kesana, nanti mungkin lain kali kita bisa bersama lagi dan berkenalan dengan teman wanita pak Rian." ucap Panji yang segera berdiri dan menjabat tangan Rian dan pergi kembali ke hotelnya.
Rian pun mengantar Panji beberapa langkah dari meja mereka tadi. Rian kembali dan sudah mendapati Nita dan Ani sudah ada di tempat meja makannya.
" Loh, kalian sudah kembali..?"
" Habiskan makanan kalian, saya mau kesana sebentar." Rian pergi dari meja mereka, dia ke kasir membayar makanan yang mereka pesan tadi dan membungkus beberapa kue untuk mamanya dirumah.
Selesai makan mereka pun diantar pulang oleh Rian.
" Nita, saya harap kita bisa lebih dari ini dalam hubungan kelanjutannya."
" Dan saya tulus kepada mu, tak kan menyakiti mu." Rian mencoba meyakinkan hati Nita setelah Ani turun dari mobil duluan mengucapkan terima kasihnya.
Nita hanya diam dan tertunduk, Nita masih belum mengatakan sesuatu apapun ke Rian, dia masih belum mengerti dengan perasaannya dan bimbang selalu menyelimuti hatinya.
__ADS_1