PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU

PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU
Bab 35 Waktu dan Saat


__ADS_3

Rian sangat senang hari ini, dia mengemudikan mobil sewaannya langsung menuju ke bandara menjemput Nita kekasihnya.


" Mas.., mas Rian...?!" Disini mas.., ini Nita.." Dia berteriak memanggil Rian sambil melambaikan tangannya.


Rian pun melihat Nita dan membalas melambaikan tangannya. Rian menghampiri Nita membantu membawa kopernya.


" Bagaimana perjalanannya tadi Nit..?" tanya Rian sambil berjalan merangkul tubuh kecil Nita.


" Biasa saja kok mas, alhamdulillah lancar tidak ada kendala." ujar Nita.


Rian menentukan Nita masuk kedalam mobil dan membawanya untuk penginapan yang sama dengan Rian. Diperjalanan mata Nita tak henti memandang kearah luar mobil, dan dia merasa sangat berbeda di Singapura.


Sampai penginapan, Rian memarkirkan mobilnya dan segera masuk ke dalam menghampiri resepsionisnya.


" Mbak, saya mau pesan kamar satu untuk wanita itu." Kalau bisa yang kamarnya langsung dapat melihat laut dari jendela." Rian ingin kamar Nita memiliki pemandangan yang bagus.


" Oh, baik pak." Ini kuncinya kamar no.205 lantai 3." Mbak itu memberi tahu kamar tersebut.


" Terima kasih ya mbak." ucap Rian sembari pergi.


" Baik sama - sama pak, selamat beristirahat." mbak itu ucap kembali.


Rian langsung menggandeng tangan Nita dan berjalan menuju lift yang ada disebelah kiri dari meja resepsionis tersebut.


Tombol lift ditekan, dan tak beberapa lama pintu lift pun terbuka.


Rian menekan angka tiga dimana kamar untuk Nita ada dilantai tiga. Nita hanya diam saja didalam lift, dia merasa canggung dan malu karena tangannya dari tadi digenggam oleh Rian terus.


Wajahnya merona merah, Nita berdiri dibelakang Rian dalam lift itu. Nita menggigit bibirnya karena tak dapat menahan rasa malunya.Didalam lift tak begitu banyak orang tetapi dari beberapa yang ada melihat Nita dan seperti tampak iri kepadanya.


Pintu lift terbuka dilantai tiga, Rian dan Nita keluar dari lift itu. Rian menyusuri jalan menuju kearah kamar no.205 untuk Nita tempati.


Tidak beberapa jauh dari lift tadi, kamar Nita pun sudah ditemukan.


" Nah Nita ini kamar kamu, dan kamar mas ada disebelah sana." Kita sama berada dilantai tiga." kamar mas no.215, kalau ada apa - apa kamu bisa temui mas disana." Rian menjelaskan dan membukakan pintu kamarnya Nita.

__ADS_1


Barang - barang bawaan Nita dibawa Rian masuk kedalam, Nita pun mengikuti Rian dari belakang.


Nita melihat - lihat kamarnya, dan dia membuka jendelanya.


" Wah.., mas lihat diluar pemandangannya sangat bagus." Aku suka banget, apa kamu yang memintanya pada mbak itu mas..?" Nita penasaran dan sudah menduga.


" Ya.., karena mas tahu kalau kekasihku sangat suka dengan pantai dan laut." Rian mencubit hidung Nita yang mancung.


" Kalau begitu mas tinggal kamu disini ya." Ada sedikit urusan mas sekarang, nanti malam kita akan makan malam bersama." ucap Rian kepada Nita, dan dia memberikan kunci kamarnya Nita.


" Baiklah mas, Nita juga mau berberes dan mandi." Sudah gerah dari tadi soalnya." Nita mengantar Rian kedepan pintu.


Rian pun pergi dengan memberi ciumannya di dahi Nita. Pintu pun ditutup Nita, dia segera membereskan kopernya dan pergi mandi agar merasa segar kembali.


Nita juga mau istirahat di kasurnya, dia merasa lelah diperjalanan menuju ke Singapura.


***


" Bagaimana aku bisa mendapatkan uang untuk kesenangan ku lagi." Panji sudah mengurangi jatah ku, dan aku juga sudah terlalu banyak berhutang dengan rentenir." Aku harus mencari cara agar bisa mendapatkan uang yang banyak." mamanya Panji berceloteh sendiri.


Disaat sedang berfikir, dia mendapatkan ide, lalu diambilnya ponsel dan dia menekan nomor telpon Panji yang ada di kontak ponselnya.


" Hallo ma.. ada apa telpon Panji..?" Ini sudah malam kenapa mama belum tidur juga..?" Panji bertanya kepada mamanya.


Dia sedikit heran dan merasa aneh, tiba - tiba mamanya suka menelpon dan perhatian kepada Panji belakangan ini. Padahal biasanya tidak pernah sering menelpon dan memberi perhatian yang lebih kepadanya.


" Pan, kapan kamu pulang melihat mama disini..?" Sepertinya kamu tidak perduli lagi sama mama." Mama sangat kesepian, Linda sudah tidak pernah kunjungi dan menjenguk mama lagi semenjak kamu pergi." Mama sangat menderita nak.." Mamanya mencari perhatian dan berakting dengan suara sedihnya.


" Iya ma.., nanti kalau ada waktu Panji sempatkan pulang kerumah mama." ucap Panji membujuk mamanya.


Panji tiba - tiba teringat akan sesuatu, ketika Dion saat itu main kekamarnya. Ada sesuatu yang ingin di katakanya, namun belum saatnya dan waktunya belum pas.


Panji berniat akan menanyakan hal yang ditutupinya, dan besok dia akan mampir ke kantor Dion untuk menanyakannya lagi.


Pekerjaannya sudah selesai, dan sekarang dia ingin tidur karena sudah sangat lelah. Panji berharap hari esok akan menyenangkan dan ada keajaiban baginya.

__ADS_1


***


Sedangkan Nita sekarang sedang makan malam bersama Rian. Nita menikmati pemandangan makan malam yang dihadapannya terbentang pantai dan laut yang luas. Angin berhembus membelai rambut panjangnya yang tergerai indah.


Rian tak henti dan bahkan tidak berkedip sedikit pun menatap Nita yang begitu anggun malam ini.


Riasan wajah yang begitu sederhana namun dapat membuat jantung Rian berdebar - debaran dibuatnya.


Rian memberanikan diri menyentuh tangan Nita yang ada di meja makan.


" Em.., ada apa mas..?" tanya Nita.


" Nita, mas mau tanya." Apa sekarang hati mu masih belum sepenuhnya kepada mas..?"


" Mas sangat tulus kepada mu, dan mas ingin sekali kita bisa lebih dari ini." ucap Rian sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru, dian membuka kotak itu dan meletakkannya di atas meja dekat tangan Nita.


" Nita, maukah kamu menjadi istri mas dan menemani sepanjang hidup mas...?" Rian melamar Nita secara tiba - tiba.


Nita terkejut dan tidak menyangka akan hal itu. Nita menatap wajah Rian yang begitu serius dengan ucapannya.


Nita masih diam dan tidak berkata apa pun, dia masih tidak percaya ada seorang pria melamarnya saat ini.


" Maaf mas, Nita tidak..." Nita tak meneruskan kalimatnya.


Rian terlihat cemas dan sedih, karena itu pertanda bahwa Nita akan menolaknya lagi kali ini.


" Mas Rian sudah sangat bersabar, dia bahkan sudah menunggu ku dalam waktu yang lama untuk bisa kembali membuka hati." Kali ini aku tidak akan membuang kesempatan hatiku untuk bahagia." Dalam hati Nita berbicara sendiri.


" Mas, terima kasih sudah mau menunggu bersabar, tapi mas Nita minta maaf kalau belum bisa sepenuhnya menjadi yang mas inginkan." Tetapi Nita akan berusaha untuk bisa mencintai kamu seutuhnya mas." kata Nita yang membuat Rian tidak percaya.


" Jadi maksud Nita, mau menerimanya..?!" Rian menyakinkan sekali lagi.


" Iya mas, Nita mau menjadi istri kamu dan hidup bersama dengan kamu mas." Nita tersenyum malu, wajahnya seketika merona dan merasa bahagia.


Rian memakaikan cincin itu kejari manis Nita, dia juga mencium tangan Nita dan sangat bahagia atas jawaban Nita malam itu.

__ADS_1


__ADS_2