PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU

PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU
Bab 121. Peka Atas Kehilangan


__ADS_3

~ Rizwan siang itu menemui pak Edward, dan mereka bertemu di sebuah cafe. Rizwan fan Edward ingin menceritakan prihal tentang Alex dan hukumannya.


Rizwan ingin adanya ke adilan untuk Stella, karena korban Alex sebenarnya bukan Stella saja, pak Rahmat juga sudah menceritakan Ani yang karyawannya sudah menjadi korbannya saat itu.


Rizwan dan Edward pun membuat kesepakatan, Alex tetap di hukum dan Rizwan mengizinkan Edward untuk menjadi pengacaranya saat itu juga.


Mereka pun berjabat tangan dan sepakat untuk hal itu.


Edward pun ingin memberi pelajaran ke anaknya dan mengajarinya tentang bisnis mereka kepada Alex.


Semenjak Alex tak mengerti aturan, Edward papanya meninggalkannya dan tak perduli.


Namun saat ini masuk penjara mamanya Alex yang sibuk menyuruh papanya untuk melihat dan membebaskan Alex segera dari sana.


Namun papanya adalah pengacara yang sangat menjunjung tinggi keadilan dan kejujuran maka papanya tak bisa membebaskan Alex begitu saja dari penjara.


Rizwan juga tahu pak Edward yang memang sudah terkenal dengan dedikasinya sebagai pengacara.


Dan Rizwan sangat menghormati pak Edward, dia juga tak ingin membuat permasalahan ini semakin keruh dan berlarut-larut. Agar Alex mendapat ganjaran dan segera di penjarakan, biar dia mengerti akan hukuman dan bertanggung jawab.


***


Silvi dan Pram...


Silvi sudah pernah rapat dengan Pram mengenai kerjasama mereka, dan saat itu Pram sangat tertarik dengan kehidupannya Silvi.


Banyak beredar di kantor bahwa Silvi hidup sebatang kara di Amerika, dan masih muda harus sudah menggantikan abangnya mengelola perusahaan besar milik abangnya itu.


Pram sangat penasaran apa yang terjadi, lalu dia membuka sosmed dan mencari tahu disana tentang Silvi wanita yang menarik perhatiannya saat ini.


...Silviana Novita...


anak kedua dari dua bersaudara yang sekarang menggantikan abangnya Rian di perusahaan milik keluarga. Usianya masih 25 tahun dan sudah menjadi bos pemilik perusahaan xxx besar di dunia.


………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

__ADS_1


Itu biodata yang dicari oleh Pram dan dia membacanya dan berpikir bahwa Silvi sama sepertinya sudah tak memiliki siapa pun sekarang ini.


Pram pun mengerti mengapa Silvi sikapnya tidak ceria dan sangat jarang tersenyum. Bagi wanita untuk seusianya sangat berat rasanya harus mengelola dan hanya tinggal sendirian dan mengurus sendiri hidupnya.


Namun Pram selalu mencari cara agar bisa bertemu dengan Silvi, karena dia mengerti bagaimana rasa perasaan yang di tinggal orang-orang tercinta saat itu.


Pram juga sangat ingin tahu diri Silvi lebih dalam lagi, dan menjadi obat penyembuh luka lama dan kesedihannya.


Selain itu Pram juga ingin keluar dari kesedihannya sendiri, namun saat ini tak ada seorang teman atau kekasih yang bisa di jadikannya tempat untuk mencurahkan atau bisa melupakan sejenak.


Malam itu Pram datang ke rumah Silvi dengan berbagai makanan yang belum di masak. Dia sengaja ke sana untuk memasakkan makanan untuknya agar dia merasa masih ada yang perduli padanya.


Duar!"


Duar!"


Diluar hujan sangat deras, dan Pram basah saat keluar dari mobilnya saat mau masuk kedalam rumahnya Silvi malam itu.


Ting, tong..." terdengar suara bel rumah berbunyi.


"Siapa mbak malam-malam yang datang ya?" tanya Silvi ke art nya.


"Mbak saja sana yang buka ya? aku disini saja." pekik Silvi.


Cklek...


"Iya anda cari siapa ya?" tanya mbaknya.


"Saya Pram, temannya Silvi. Kalau boleh tahu Silvi nya ada mbak?" tanya Pram dari luar pintu yang sudah kedinginan.


"Wah, ini cowok keren dan macho sekali ya? Gemasnya aku...!" berkata dalam hati.


"Siapa mbak?" tanya Silvi yang datang menghampiri art nya.


"Ini mbak ada teman..." art nya tak melanjutkan.

__ADS_1


"Hai bu Silvi apa kabar?" Pram sudah sangat kedinginan.


"Pak Pram?! Silahkan masuk pak, kau kedinginan?!" tanya Silvi yang langsung panik melihat Pram menggigil.


"Sebentar akan saya ambil handuk dan baju ganti milik abang ku. Duduklah dulu dan..., mbak buatkan teh untuk pak Pram...!" Silvi langsung berlari naik ke atas dan mengambil handuk serta baju ganti milik Rian yang masih ada di kamarnya saat ini.


Silvi turun dan menyuruh Pram untuk menggantikannya di kamar Rian untuk mengeringkan dan mengganti pakaiannya disana.


Dan Pram pun menurutinya, naik ke atas dengan diantar oleh Silvi sampai ke depan pintu kamar tersebut.


Pram pun masuk ke dalam dan melihat sekeliling kamar itu, dengan segera mengganti pakaiannya yang basah saat terkena hujan dari luar tadi.


"Kenapa pak Pram ada di rumah ku ya sudah malam begini? Dari mana sebenarnya dia malam-malam begini?!" berbicara sendiri sementara di belakangnya Pram sudah keluar dari kamar dan mendengar apa perkataannya Silvi.


"Ehem, maaf ya sudah mengganggu malam-malam begini. Aku kesini karena ini semua gara-gara teman ku yang katanya akan datang ke rumah untuk makan bersama."


"Sementara saya sudah belanja begitu banyak, sedangkan aku sudah sangat ingin makan sup misonya. Jadi aku bawa saja ke sini agar ada teman ku untuk makan bersama dengan mu dan sama mereka para pekerja mu juga biar seru saja." ucap Pram yang berkata dengan hati-hati.


"Tenang saja biar aku yang memasaknya dan kau bisa duduk dan menunggunya." ujar Pram yang segera turun dan menuju ke dapur Silvi.


"Maaf pak, sebentar. Kau tak boleh memasak apa pun di rumah ku !" Silvi membuat Pram menghentikan langkahnya seketika.


Pram berbalik dan menatap Silvi saat itu dengan bingung. Silvi berjalan menghampiri Pram di depannya, dan berhenti di hadapannya dengan mengatakan sesuatu ke Pram.


"Biar aku saja yang masakan untuk anda, silahkan pak Pram duduk saja di meja makan. Lagian anda tamu tak sopan bila anda yang memasaknya di rumah saya." ujar Silvi ke Pram dan segera berjalan meninggalkan Pram di belakang.


Pram tersenyum dan mengerti yang dia maksud, Pram sangat senang Silvi sudah mau banyak berbicara padanya.


Pram pun menurutinya dan segera duduk di meja makan sambil menikmati teh hangatnya yang sudah di hidangkan oleh mbak art nya.


Silvi masak dengan di bantu oleh art nya malam itu, dan dengan beberapa menit art nya pun menyiapkan alat untuk makan sup misonya.


Namun art nya menyiapkannya semua di taman belakang di yang ada ruang keluarga dan meja makan juga.


art nya mengangkat masakan yang sudah masak itu kesana, dan Silvi mengajak Pram untuk menuju kesana dan segera menyantap makanan itu.

__ADS_1


Pak satpam dan mbak art juga ikut bergabung disana, mereka sambil bersenda gurau serta banyak bercerita. Silvi terlihat sedikit manis karena senyumannya itu, sampai Pram tak mau berkedip melihat Silvi saat malam itu.


Cuaca yang dingin karena hujan kini menjadi hangat dengan sup miso yang sangat enak itu. Dan keakraban mereka suasana pun menjadi hangat seperti kumpul keluarga, duduk di taman belakang.


__ADS_2