PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU

PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU
Bab 130. Kembali Ke Rumah


__ADS_3

🌟 Empat hari sudah berlalu, Pram sudah dua hari tak datang berkunjung. Pram sangat sibuk di kantornya, karena sudah 2 hari tak masuk kantor menjaga Aris di rumah sakit. Jadi pekerjaannya sudah menumpuk, dan banyak terbengkalai.


Silvi pun tak ada bertemu dengan Pram sudah 4 hari ini, namun tiba-tiba Pram menelponnya dan mengajaknya ke rumah sakit setelah pulang dari kantor nanti sore.


Tut...


Tut...


"Hallo sayang, hari ini pulang sekolah adakah waktu mu untuk ku?" tanya Pram dengan lembut.


"Waktu ada sih mas, tapi tergantung mau kemana dulu?" Silvi malah balik bertanya kembali.


"Sudahlah nanti akan aku jemput tepat jam 05:00 sore. Dan kau sudah ada di lantai bawah di depan gedung kantor mu." Pram langsung menutup pembicaraannya itu.


Silvi hanya diam dan meletakkan kembali ponselnya dari genggaman tangannya, dan kembali dengan aktivitasnya.


Pram ingin menjemput dan mengantar Aris untuk pulang kerumahnya dan berkumpul lagi bersama keluarganya.


Pram mulai mengerjakan kembali tugas dan berkasnya yang ada di atas meja kerjanya itu.


***


Sore itu tepat pukul 5 sore Pram menjemput Silvi di kantornya, mobil hitam itu sudah berhenti di depan gerbang besar kantornya.


Tapi Silvi belum kelihatan disana, beberapa menit kemudian Silvi pun muncul dan terlihat kelelahan.


Hosh..., hosh..., hosh...


"Maaf mas, saya baru sampai. Tadi ada yang di bereskan sedikit." ucap Silvi dengan terengah-engah.


"Sudah tak apa sayang.., ayo masuk kita sudah terlambat." kata Pram yang sangat membuat penasaran Silvi.


"Terlam..bat?" bertanya dalam hati.


Silvi pun masuk dan segera duduk manis di kursi depan, tepat berada di samping Pram kekasihnya.


Silvi hanya diam saja dan memperhatikan kemana Pram akan membawanya.


Lalu mobil hitam itu berbelok ke arah gedung rumah sakit ***, Silvi pun merasa heran kenapa malah ke rumah sakit.


"Mas, kita mau menjenguk siapa disini mas?" tanya Silvi kepada Pram yang sedikit bingung.

__ADS_1


"Ayo mari turun sayang, nanti kamu juga tahu kok. Dan hari ini kita akan mengantarkannya pulang. Sudah waktunya pulang untuknya hari ini, dan aku sudah berjanji akan mengantarkannya pulang sampai kerumah.


"Mas Pram mau antar siapa sih? aku gak pernah tahu deh, apa keluarganya kali ya?" bergumam dalam hatinya.


Pram dan Silvi berjalan menyusuri lorong rumah sakit itu dan Pram menuju ke kamar dimana tempat Aris dirawat. Pram membuka pintu kamar itu dan mempersilahkan Silvi untuk masuk kedalam duluan.


"Mas Aris?!"


"Mas Aris kenapa?"


"Mas, mas Aris kenapa bisa di rumah sakit? Bukannya mas ada di luar negeri untuk urusan kerja mas?!" Silvi merasa terkejut dan tak percaya.


"Pram, kamu membawa Silvi?" tanya Aris yang merasa kebohongannya sudah berakhir.


"Ya mas, aku rasa itu tak usah di tutupi lagi, dan nanti dirumah mas juga harus menjelaskannya pada mereka kan mas?!" Pram pun menegaskan ke Aris akan hal itu.


Aris pun mengerti dan paham apa yang di ucapkan Pram saat itu. Aris membenahi barangnya, lalu dokter masuk ke ruangan itu dan berbicara pada Aris.


Dokter memberi tahukan kepada Aris untuk tidak kena air dulu lukanya itu dan memberikan kertas resep obatnya agar di ambil di bagian obat.


Pram sudah membayar semua pembayaran selama disana.


Mereka pun masuk kedalam mobil dan duduk semua disana, Silvi masih diam saja tapi wajahnya penuh dengan tanya.


"Silvi, kau masih bertanya-tanya akan hal ini? Nanti di rumah mas Aris akan menjelaskannya, kepada mu dan mbak Ani disana." kata Pram yang menatap wajah Silvi itu.


"Baiklah mas, aku tak akan bertanya lagi sekarang." ucapnya.


***


Sampailah di rumah Rian, mereka semua masuk ke dalam dan langsung berjalan menuju ruang keluarga.


"Mas Aris sudah pulang? tak bilang ke aku mas mau pulang hari ini?"


"Dan Silvi serta Pram juga ada disini semuanya?"


"Tadi Nita dan Rian baru saja menelpon bertanya kabarnya Bisma. Tapi sudah di tutup sekarang, dan nanti mau telpon lagi katanya." ucap Ani yang terlihat sangat senang.


"Apa kalian bersama tadi? Silvi dan Pram menjemput mas Aris ya?" Ani bertanya ke Silvi.


"Iya mbak.., kami menjemput mas Aris, tapi di rumah sakit dan bukan di bandara." ucap Silvi yang ingin Aris cepat mengatakannya.

__ADS_1


"Hah! Apa?!" Ani terkejut mendengarkannya.


"Mas, kenapa ada dirumah sakit Sil?" tanya Ani yang langsung panik.


Lalu Aris pun menceritakannya dan Pram juga bercerita saat Aris ada di rumah sakit, dan bagaimana kondisinya saat di ruang operasi.


Semua sudah di ceritakan, Aris meminta maaf atas kebohongannya dan menutupi semuanya.


Ani sangat sedih dan tak kuasa menahan air matanya itu, lalu Ani ingin melihat lukanya itu di perut Aris.


Luka itu pun di beri lihat kepada Ani dan Silvi saat itu, Ani sangat sedih dan memeluk suaminya itu.


Pram juga sudah mencari orang itu dan menangkapnya, dia ingin kabur keluar negeri namun polisi segera menangkapnya saat di bandara.


Mereka melihat gerak-geriknya dan melihat paspornya yang sudah mati dan tak di perpanjang olehnya.


Pram juga menceritakan selama 5 hari ini dia sangat sibuk mencari penjahat itu dan menginformasikan serta mengurus kantor dan pekerjaannya yang di kantornya.


Silvi pun yang mendengarkannya merasa bersalah dan salah paham, selama ini dia mengira Pram tak perduli padanya. Ternyata Pram memang sedang sibuk dan membantu keluarganya serta mengurus Aris yang berada di rumah sakit.


Aris juga sudah berterima kasih kepada Pram sudah membantunya untuk menangkap penculik Bisma itu.


Ternyata sekarang mereka sudah tahu kalau penculik itu bekerjasama dengan Bella dan Imel di penjara.


Ani pun berterima kasih kepada Pram, ketika Pram sudah mau pulang ke rumahnya.


Dan Silvi juga ikut dengan Pram dengan alasan Pram akan mengantarnya pulang.


Saat di perjalanan Silvi menatap Pram terus dan tak berhenti. Pram merasa aneh dan risih, mobil itu pun di hentikan di pinggir jalan.


Pram bertanya pada Silvi dengan sikap anehnya itu terhadap.


"Kau kenapa menatap ku seperti itu sayang?" Pram membelai rambut Silvi.


"Mas, maafkan aku yang sudah berpikir tak baik selama 4 hari belakangan ini. Silvi merasa mas akan tak memperdulikan Silvi lagi. Ternyata...," terhenti.


"Sssttt, tak apa sayang.. mas bisa paham kok. Tapi mas juga bersalah malah membiarkan kamu begitu saja tanpa menjelaskannya." ucap Pram yang dengan lembut mengecup kening Silvi.


"Mas, nanti mampir dulu ke rumah Silvi ya? Biar Silvi masakan makan malam untuk mas disana." ujar Silvi dengan manja.


"Baiklah kalau begitu, mas juga mau istirahat sebentar disana." kata Pram yang kembali melanjutkan perjalanan mereka.

__ADS_1


__ADS_2