PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU

PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU
Bab 18 Memberi Perhatian


__ADS_3

" Hai Ani, hai Nita..."


" Kalian kesini juga..?"


" Kebetulan sekali bertemu kalian disini." ujar Rian rekan bisnis mereka yang diam - diam menyukai Nita yang manis menurutnya.


" Oh, pak Rian."


" Iya kebetulan sekali, bapak sedang apa disini juga?" Ani sangat kepo dengan pria ini. Dia tahu kalau Rian sangat terpikat oleh sahabatnya itu.


" Saya bersama karyawan sedang merayakan sesuatu disana."


" Kalau begitu mari bergabung kesana bersama saya An, dan Bu Nita..." Rian mengajak dan memberikan pandangan yang sendu ke Nita.


Rian tersenyum manis dan menghormati serta berbicara hati - hati.


" Terima kasih pak Rian, saya disini saja."


" Maaf saya kurang suka bergabung dengan penuh keramaian."


" Saya ingin menikmati pantai saja disini bersama Ani, ya kan Ani..?!" Nita memberi kode keras ke Ani agar Ani tidak meninggalkan dia sendirian.


" Iya pak, saya dan Nita disini saja, menikmati senja yang romantis." ujarnya Ani.


" Baiklah kalau begitu, bu Nita saya permisi mau balik kesana lagi."


" Mari bu Nita dan Ani." Rian tersenyum dan pergi meninggalkan Nita dan Ani ditepian pantai.


Angin laut bertiup kencang, dan ombak menggulung sampai ke tepian. Nita mengajak Ani untuk balik kerumah mereka, karena hari semakin gelap.


Nita merasa ke dinginnan dan dia tidak membawa jaket ataupun baju yang lain. Nita mulai mempercepat jalannya dan dia sudah tidak tahan dengan angin laut itu.


" Bruk..!"


" Oh, maafkan saya yang terburu - buru berjalan dan tidak melihat anda." Nita merasa bersalah telah menabrak seseorang.


" Tidak apa - apa kok bu Nita.., kenapa bu Nita seperti tidak nyaman dan kedinginan..?" Ternyata Rian ada didepannya dan orang yang ditabraknya.


Rian memakaikan jaket yang ada ditangannya, dan Nita hanya terdiam tak bisa berbuat apa - apa.


Rian menatap Nita yang hanya tertunduk dan tidak menatapnya.


Rian sangat tulus sekali ingin menyayangi Nita.


Namun Nita masih belum bisa move on dari Panji, karena Panji sudah lama mengisi kekosongan dalam relung hatinya.

__ADS_1


Rian pun pergi meninggalkan Nita dan jaketnya yang dipakai Nita.


Rian selalu berharap Nita bisa membuka hatinya dan melihat ketulusan cinta kasih sayang Rian.


" Nit, cepat sekali kamu jalan sih.., aku capek banget bukan ditunggu malah tambah berlari."


Ani terheran melihat Nita hanya diam dan terpaku, Ani melihat Nita sudah memakai jaket yang entah dari mana.


" Nita ayolah kita pulang..?!"


" Aku juga sudah kedinginan nih, semakin malam semakin dingin." Ani menarik tangan Nita dan menyadarkannya dari lamunannya.


Nita pun cepat - cepat masuk kedalam mobil dan Ani menyalakan mesinnya, mereka langsung melaju dijalanan kembali kerumahnya.


Rian menatap mobil mereka dari jauh tersenyum dan sedikit senang bisa bertemu di pantai itu.


" Nit, kapan kamu akan peka dengan perhatianku."


" Sejak pertama kali bertemu kamu, aku langsung jatuh hati kepadamu." Rian pun masuk ke dalam mobilnya dan pulang dengan menyetir sendiri.


" Teman - teman, saya duluan ya..?!"


" Hati - hati semuanya ya..?" ujar Rian kepada semua karyawannya.


Karyawannya pun semua sudah menyusul pulang kerumah, sebenarnya hari itu Rian sedang merayakan ulang tahunnya bersama karyawannya sekalian mengajak mereka bersantai hilangkan penat sejenak dari pekerjaan.


Namun Rian tidak mengatakan apapun kepada Ani dan Nita kalau itu adalah acaranya saat itu.


***


Panji sudah bekerja dengan Dion, dan tinggal dirumah ortu Dion bersamanya.


Dion mengajak Panji ada alasannya, dia tidak sanggup menjalankan dua perusahaan sekaligus.


Jadi perusahaan yang biasanya dikelola papanya Dion kini Panji yang memegang dan mengelolanya.


Dion berjanji bila perusahaan itu berkembang semakin maju dikelola Panji, Dion akan menyerahkan 40 persen untuk Panji buka dan mempunyai perusahaan sendiri.


Panji selalu bekerja keras dan serius dalam mengelola perusahaan itu.


Dion selalu memantau cara Panji memimpin perusahaan. Dan Dion sangat terkesan dengan Panji, dia sangat berbakat dan pasti memiliki karir yang cemerlang.


" Gak salah aku memilih Panji untuk menyerahkan perusahaan itu ke tangannya."


" Semua sekarang ada di tanganmu sendiri Pan, suatu saat kau akan tahu siapa yang baik mendukungmu, dan siapa yang jahat di belakangmu." gumam Dion didalam hatinya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Dan suatu saat aku akan mengatakan, sesuatu yang sebenarnya kepadamu disaat sudah saatnya tiba."


" Aku juga tidak ingin menutupinya dari kamu mas Panji.., aku ingin kita bisa berkumpul bersama dan hidup bahagia." Dion berharap dan dia menangis melihat keadaan Panji yang tidak dapat menjadi dirinya sendiri.


***


Mamanya Panji awalnya tidak mengizinkan untuk pergi kesana, namun Panji bersikeras mau ke Amerika. Dan Dion juga sudah membuat perjanjian serta mengancam mamanya Panji untuk memberi izin ke Panji sebelumnya.


Dion malam ini berniat akan membawa Panji makan diluar sambil mengenang dimasa saat mereka masih kecil. Dan semua itu membuat mereka tertawa bersama.


Lalu Panji terdiam saat bertanya tentang Linda, dan Nita.


" Darimana kamu tahu itu Dion..?"


" Dan aku tidak pernah membicarakan hal itu kepada mu." ucap Panji yang sedikit mengerutkan dahinya.


" Maaf ya Pan.., sebenarnya aku pernah menyelidikinya disuruh tante (mamanya Panji)."


Dion menceritakan semuanya dan sudah mencoba untuk mengajaknya untuk meninggalkan pekerjaan itu dan meninggalkan pria itu yang bernama Yadi kekasihnya. Namun dia malah mau meninggalkan pria itu kalau aku mau menikah dengannya.


Dion menceritakan dan menjelaskan semuanya tanpa ada yang ditutupinya dari Panji.


Panji hanya terdiam dan meminum air jeruk yang dia pesan tadi.


" Aku juga sudah tahu semuanya, karena aku sudah menyelidikinya dan melihat dengan mata kepalanya sendiri apa pekerjaannya Linda."


" Sebenarnya aku sangat kecewa dan sakit hati padanya, Ririn dan anak yang dikandungnya itu bukan anakku, dan dari awal dia sudah tidak jujur padaku.


"Semua sudah aku berikan, dan mau menerima anaknya itu, namun Linda menolaknya dan menghina aku."


"Mulai dari situ aku sudah tidak ingin lagi bersamanya." ujar Panji dan menyudahi pembicaraan itu.


Kini dia hanya ingin memikirkan Nita dan kebahagiaannya.


Panji dan Dion pun sudah selesai makan malam yang penuh dengan kekecewaan.


Dion jadi mengerti dan paham, mamanya dan Linda dulu memang sengaja menjadikannya anak terasing yang harus mengikuti permintaan mereka dan mengikuti perkataan mamanya.


***


panji merebahkan tubuhnya ke kasurnya dan memandang langit - langit kamarnya, dia membayangkan wajah Nita dan senyumannya ketika dulu mereka bekerja di kantornya pak Rahmat.


Saat itu Panji merasa seperti jiwanya kembali bersemangat lagi menjalankan hidupnya.


Namun sayang Panji sadar akan kehadiran Linda yang sudah menghalangi kebahagiaannya kala itu.

__ADS_1


__ADS_2