PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU

PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU
Bab 56. Ada Suka dan Duka


__ADS_3

Hari sudah malam, Rian membawa Nita untuk keluar makan malam. Sudah seharian di villa saja, jadi Rian membuat suasana lain untuk dimalam itu. Pak Kamil sudah membeli gaun untuk Nita kenakan di makan malam itu.


" Gaun merah yang sangat indah..?" Siapa pemiliknya pak Kamil..?" tanya Nita penasaran.


" Nyonya, ini gaun untuk anda." tuan Rian yang membelikannya untuk anda pakai sekarang juga." Tuan akan membawa anda makan malam di resto bawah." ucap pak Kamil.


Nita tidak percaya gaun yang sangat indah itu ternyata untuk dirinya, dia begitu senang dan tak sabar untuk mengenakannya.


" Pak, sekarang mas Rian ada dimana ?" tanya Nita yang dari tadi tidak melihatnya.


" Ada di bawah sedang menunggu anda nyonya, kebetulan disana juga ada beberapa teman bisnis tuan yang datang." ucap pak Kamil.


" Nyonya nanti akan saya antar kesana menemui tuan bila nyonya sudah siap semuanya." ucapnya lagi.


" Baiklah pak, tunggu saya sebentar diluar, saya akan berganti pakaian." kata Nita yang sangat tidak sabar untuk segera berganti pakaian.


Hari ini Nita tidak menyadarinya karena semua begitu membuat dia sangat bahagia. Rian sengaja merencanakan dan mengatur semua ini karena tepat di bulan dan tanggalnya Nita berulang tahun.


Cafe resto dilantai bawah sudah di pesannya untuk privat dan kue begitu besar serta alunan musik juga ada disana. Suasana yang di atur Rian begitu romantis dan penuh bunga. Malam itu khusus tamu yang datang sudah menikah atau memiliki pasangan. Rian begitu sangat bahagia bisa mengatur semua itu untuk istrinya tercinta.


Nita pun sudah siap akan turun kebawah, dia berjalan didepan dan di kawal oleh pak Kamil dari belakang. Pak Kamil menuntun jalan dan arahnya ke Nita, ruangan itu tidak begitu terang Nita tidak dapat melihat dengan jelas. Pak kamil membuka pintu ruangan itu, dan dia mempersilahkan Nita untuk masuk ke dalam sana. Namun Nita ragu untuk masuk dan dia terdiam sesaat di depan pintu.


" Ayo nyonya, masuklah ke dalam, tuan sudah menunggu mu disana." kata pak Kamil.


Lalu ada tangan seseorang yang menarik Nita sehingga dia ikut masuk ke dalam. Nita berteriak ketakutan, sementara pak Kamil menutup pintunya dan berjaga diluar saja.


Lampu dinyalakan dan tiba - tiba semua orang berkumpul dan bertepuk tangan dihadapannya.


" Selamat ulang tahun sayang, ayo kita kesana semua." Rian menuntun Nita ke meja kue ultahnya yang besar.


Nita terkejut dan tidak percaya, Rian mempersiapkan pesta ultahnya di Eropa. Dan dia mengundang teman - temannya untuk berkumpul merayakannya, serta memperkenalkan Nita sebagai istrinya. Wajah Nita merona merah dan rasa bahagianya tidak dapat disembunyikannya.


Kue itu dipotong berdua bersama Rian, dan Rian memberikan potongan kue kecilnya ke Nita.


" Selamat ulang tahun sayang.." ucap Rian sembari mengecup pipinya Nita.


" Happy birthday.."

__ADS_1


" Happy birthday.."


" Happy birthday.."


Semua teman dan para undangan yang hadir memberikan ucapan selamat kepadanya.


" Sayang, mereka sangat kagum melihat mu dan malam ini kau begitu cantik." bisik Rian ke telinganya Nita.


Nita hanya tersenyum dan membisu, dia tak dapat berkata apa - apa lagi. Malam itu Nita begitu sangat bahagia, dan semua orang berdansa di iringi lagu romantis nan syahdu.


Tak terkecuali, Rian juga mengajak Nita untuk berdansa menikmati alunan yang sangat menyenangkan dan membuat hati tenang.


***


Dion dan Panji berbicara berdua saja di ruang kerja Dion. Sedangkan Manda berada di dapur bersama mbak pelayan menyiapkan makan malam mereka. Manda sangat suka bergerak, dia tidak ingin berdiam saja di rumah. Namun dia tidak menghiraukan nasihat suaminya Dion.


" Ah..!" teriak Manda.


" Nyonya..!" mbak juga berteriak.


"Mbak, sakit sekali..?!" Tolong saya mbak, panggil mas Dion." ucap Manda yang menahan rasa sakitnya.


Kebetulan pak satpam masuk kerumah, dia ingin membuat kopi untuk dirinya.


" Pak, tolong panggil tuan Dion diruang kerjanya." Buk Manda jatuh dan mengalami pendarahan." Kita akan membawanya ke rumah sakit." kata Mbak pelayan.


" Baik, saya akan kesan." Tuan...!"


" Tuan..!" Tok, tok, tok.." suara pintu diketuk dari luar.


" Tuan, tolong nyonya Manda..!" satpam itu panik dan terbata - bata.


" Kenapa dengan Manda, pak..?!" Dion pun mulai khawatir.


" Nyonya Manda terjatuh dan mengalami pendarahan." Ayo cepat kita bawa ke rumah sakit tuan." ucap satpam itu.


" Ayo pak..!"

__ADS_1


" Mas Panji tolong siapkan mobil cepat..?!" Dion berteriak dan merasa ketakutan.


Dion yang mengetahuinya segera berlari dan menuruni anak tangga dengan cepat, dia langsung pergi ke dapur dan melihat Manda menahan sakit sambil menangis.


" Manda...!" Dion menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Dion menangis melihat ke adaan Manda, dia menahan sakit di perutnya, dan darah masih mengalir dengan deras.


" Mas Dion.." Manda memanggilnya.


" Bertahanlah Manda, kau jangan khawatir sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit." ujar Dion.


" Mas Panji, tolong lebih cepatlah." Dia sudah sangat kesakitan." ucap Dion kepada Panji.


" Baiklah Dion, mas sudah cepat membawanya." Kata Panji.


Panji menambah kecepatan dan segera memarkirkan mobilnya dan turun dari mobil berlari menemui suster di ruang UGD.


Suster segera bergerak cepat dan membawa Manda masuk ke dalam untuk mengambil tindakan.


Manda langsung di bawa masuk ke dalam ruangan dan dokter mengecek kandungan Manda. Tak beberapa menit, suster keluar dan menghampiri Dion.


" Maaf, bapak suaminya..?" tanya Suster.


" Iya sus, saya suaminya." kata Dion.


" Pak, sebaiknya bapak menghadap ke resepsionis dan mengisi surat formulir untuk operasi dan melunasi pembayarannya." Bu Manda harus segera dioperasi karena ada masalah dengan rahimnya karena benturan terjatuh tadi." ujar Suster itu dan langsung masuk kembali ke ruangan itu lagi.


" Baiklah suster." Dion mengerti dan dia segera pergi untuk mengurus semua prosedurnya.


Tak lama kemudian, Manda dan suster keluar dari dalam ruangan itu. Dokter dan suster membawa Manda ke ruangan operasi untuk segara di tangani. Panji pun mengikuti mereka sampai di depan ruang operasinya, dan Dion pun juga sampai disana tak berapa lama.


Operasi masih berjalan, Dion dan Panji masih menunggu diluar. Dion sangat cemas dan terlihat gelisah, dia juga tidak dapat menahan air matanya.


" Dion, tenangkan diri mu." Dia pasti tidak apa - apa, aku tahu bagaimana kondisinya." Tetapi kau harus tegar dan kendalikan emosi serta perasaan mu." Agar Manda bisa merasa tenang karena masih ada kau bersamanya." Saat ini hanya kaulah yang bisa kuatkan dirinya." kata Panji menjelaskan dan menasehati adiknya ( Dion ).


Dion pun berpikir dan mengerti perkataan abangnya itu, Dion mencoba untuk tenang dan tegar. Walau dalam hatinya dia sangat sedih akan kehilangan anaknya, karena itu adalah impian mereka dari sejak awal.

__ADS_1


__ADS_2