PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU

PETAKA DALAM RUMAH TANGGA KU
Bab 112. Ani, Alex dan Stella


__ADS_3

Acara itu sudah akan dilaksanakan 4 hari lagi, dan Ani sudah berangkat ke kampung halamannya.


Sedangkan Nita dan Rian baru akan datang 2 hari kemudian, karena tak bisa meninggalkan pekerjaan begitu saja.


Jadi Rian dan Nita sepakat untuk menyusul saja. Semua sudah di siapkan, dan Ani juga sudah siap untuk kedepannya.


"Assalamualaikum..., bu..." Ani memanggil ibunya.


"Wa'alaikumsalam, masya Allah Ani..., kamu sudah pulang nak? ibu sudah kangen sekali sama kamu." ucap ibunya yang memeluk dan menangis.


"Kak Ani...!" adik Ani yang laki - laki sangat senang kakaknya pulang.


"Hiks, hiks, kak...! terima kasih ya sudah bekerja keras untuk kami. Doni jadi bisa kuliah karena kakak biayai. Sekarang Doni sudah akan menyusun skripsi kak dan bentar lagi insya Allah akan wisuda." adiknya sangat bangga dengan kakaknya itu.


"Wah, adik kakak hebat sekarang, ya kan bu?" Ani tersenyum kepada mereka.


"Kak, nanti kalau Doni sudah bekerja... kakak tak perlu memberikan ibu uang lagi, nanti Doni yang akan menggantikan kakak untuk biaya ibu." Doni berkata itu kepada kakaknya.


"Doni..., ternyata kamu sudah dewasa ya. Kakak bangga sekali adik yang kakak perjuangkan seperti kamu." Ani memeluknya dan menangis terharu.


Mereka hari itu sedang melepas rindu, memang Ani tak pernah pulang sudah 2 tahun itu, dan hanya sesekali menelpon ibunya menanyakan kabar.


Bapak Ani sudah meninggal dan sekarang hanya tinggal adik dan ibunya saja di rumah itu.


"Hai Ani..., kau sombong sekali sekarang gak pulang - pulang. Sekalinya pulang mau lamaran..., hehehe..." teman Ani tetangga ibunya menyapa.


" Iya Wit, apa kabarnya? itu anak mu yang ke berapa Wit?" tanya Ani basa basi.


"Aku sehat, ini anak aku yang ke lima An..." ungkap temannya.


"Wah..., kau ini cepat sekali bagaimana aku akan melewati mu nanti." Ani tersenyum ke Wita temannya yang di kampung.


"Ah, kau ini Ani.. suka sekali begitu. Ya gak akan bisa lah.." ucap temannya lagi sambil tertawa.


Begitulah suasana di kampung Ani, banyak dari teman - teman Ani yang sudah menikah duluan. Bahkan seperti Wita anaknya sudah ada lima, sedangkan Ani masih saja bekerja dan baru ini akan melakukan lamaran.

__ADS_1


ibu dan Doni sudah tahu tentang Aris yang ternyata adalah sepupunya Nita sahabat Ani.


Jadi ibu ani sangat setuju saja dengan pilihan Ani saat ini, lagian usia Ani sudah berkepala 3 dan itu sangat sulit bila nanti ingin mempunyai anak.


***


Saat Ani ke kota dan ada yang mau di belinya teman Alex yang bernama Biyan melihat Ani sedang ada di suatu toko saat itu. Ternyata Ani sedang asik memilih baju untuk ibunya yang nantinya akan di pakai untuk acara lamarannya.


Dan Ani membeli beberapa make up untuk dirinya, karena bedak dan yang lainnya sudah habis.


"Pak, jadi berapa semuanya? Saya ambil ini saja dulu untuk ibu saya, dan kemeja batiknya untuk adik saya." ucap Ani yang mengeluarkan dompetnya.


"Oh, semuanya jadi 350 ribu saja nak." kata pedagang itu.


Ani pun mengeluarkan uangnya dan membayar, disaat dia ingin pergi dari toko itu, dia di hadang oleh Biyan teman Alex.


"Hai kakak cantik, masih ingat gak sama kita yang dulu asik - asik sama Alex." ucap Biyan dan ada temannya yang lain di sampingnya.


"Alex?" gumamnya dalam hati.


Ani menjadi kesal bertemu dengan mereka saat itu, dan Ani sekarang bukan Ani yang dulu. Mereka tak tahu kalau pacarnya Ani sekarang seorang TNI dan malah mereka mencari perhitungan dengannya.


"Sombong sekali kau kali ini ya? Apa sudah tak punya malu setelah tidur dengan kekasih orang? hah!" Biyan mulai keterlaluan.


Alex dan Stella datang ke tempat itu, dan menemui mereka di sana.


"Nah, itu orang yang kau rayu saat itu, dan pacarnya akan memberi pelajaran kepada mu saat ini." ujar Biyan teman Alex.


" Dimana wanita yang jualan itu? kau mau dapat uang berapa untuk satu malam?!" tanya Stella yang datang secara tiba - tiba.


Ani merekam semua pembicaraan mereka dengan ponselnya, sebagai nanti bukti bila di perlukan.


Stella pun dengan lantang jalan mendekati Ani dan menatap matanya.


"Jangan sok kecantikan kamu ya dan sudah merasa keren setelah di pakai oleh kekasih ku." Stella merasa geram melihat Ani.

__ADS_1


Plak !"


plak !"


Stella menampar Ani di depan mereka, Alex sangat senang melihatnya dan bahkan dia paling besar suara tertawanya.


" Hahahaha...., hem habis kau." ucap Alex yang menunjuk Ani.


Lalu Biyan, Alex dan temannya sedikit menjauh, mereka merasa itu urusan wanita dan wanita.


Stella merasa besar kepala saat sudah bisa menampar, dia bergaya meletakkan tangannya ke pinggangnya.


"Itu belum seberapa untuk mu." ucapnya Stella ke Ani.


Wajah Ani bengkak dan merah, lalu dia menoleh dan diam saja tanpa menghiraukan Stella.


Ani ingin pergi dari mereka dan berjalan untuk segera pulang.


" Kau tak punya nyali ya? tapi untuk mendapatkan kekasih ku kau punya nyali untuk tidur dengannya !" Stella meneriakinya.


Ani berbalik badan dan mengambil pistol miliknya yang ada di sakunya dan menembakkan ke arah tanah yang dekat dengan kaki Stella.


Mereka terkejut dan benar - benar tak menyadari bahwa Ani memiliki pistol di tangannya.


Stella takut akan hal itu dan Alex memeluk Stella yang shock dan terkejut sekali.


"Aku tidak selemah dulu, kalau aku mau dari tadi sudah ku tembak mati kalian.


"Kalau aku menembak mungkin hanya beberapa bulan saja di hukum, karena aku punya surat izin untuk kepemilikan pistol ini." ucap Ani yang membuat mereka terbengong.


"Dan ingat kalian aku bisa berbuat apa ke kalian nanti. Terutama pada mu Stella anak dari Pak Rahmat milik perusahaan xxx." ucap Ani yang telah merekam pembicaraan mereka tadi.


Ani pun pulang dan kembali ke rumah ibunya. Dia mengompres dengan air es pipinya yang bengkak itu.


"Kenapa ada Alex dan yang lainnya di daerah sini? Bukannya mereka tinggal di kota Jakarta, kenapa sekarang sedang di pedesaan? Hari ini sangat sial bisa bertemu dengan mereka. Tak akan ku lupakan penghinaan ini, terutama kau Alex yang sudah merenggut kesucian ku saat malam itu.

__ADS_1


Ani sangat kesal tapi dia tadi tak mau meladeni mereka. Saat itu Ani pernah latihan menembak dengan Aris dan mengurus surat kepemilikan senjata tersebut. Aris ingin Ani bisa melindungi dirinya sendiri, dan lain kali Aris akan mengajarinya ilmu bela diri untuk dirinya sendiri.


Ani sudah mulai kuat dan tak lemah seperti dulu, dia sudah banyak belajar dari Nita dan Aris yang telah terbentuk dari keluarga militer tersebut.


__ADS_2